"Kalau
tanah dikuasai modal besar, maka petani cuma jadi buruh di kampungnya sendiri.
Johan Merdeka pernah nyentil keras pemerintah, katanya, "Selama konflik agraria dibiarkan, jangan pernah bilang Indonesia udah adil.
Karena di Sumut aja, banyak petani masih digusur atas nama investasi.
PTPN, korporasi sawit, dan perusahaan tambang sering jadi tameng kekuasaan.
Sementara rakyat yang menanam, justru dituduh penggarap liar.
Ironis kan? Yang merusak hutan dilindungi, yang menanam padi malah dikriminalisasi.
Baca Juga:
Tapi
Johan Merdeka gak cuma marah, dia juga kasih jalan.
Katanya, penyelesaian konflik
agraria harus lewat musyawarah dan keadilan sosial.
Bukan pakai kekerasan, bukan pakai aparat, rakyat harus dilibatkan, dihormati, bukan dibungkam.
Karena reforma
agraria sejati itu bukan soal
tanah, tapi soal kedaulatan rakyat atas sumber kehidupan.
Di akhir, Johan Merdeka selalu tekankan satu hal:
"Reforma agraria sejati adalah bentuk kemerdekaan rakyat yang sebenarnya.
Tanah bukan cuma sebidang lahan.
Tanah adalah simbol martabat.
Selama petani belum berdaulat, maka ke
merdekaan itu masih setengah jalan.
Dari Medan untuk Indonesia.
Suara rakyat kecil takkan pernah hilang,
selama masih ada yang berani bicara tentang keadilan di atas tanahnya sendiri.
Inilah semangat Johan Merdeka, semangat untuk merdeka secara agraria.(Syahdan/Red)
Baca Juga: