MATATELINGA - Surabaya : Tembok lapas ternyata bukan batas bagi kreativitas. Dari balik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya, tangan-tangan warga binaan justru mampu menghasilkan produk mebel yang menembus pasar internasional, seperti Australia.
Ribuan unit produk meubelair hasil karya warga binaan
Lapas Kelas I
Surabaya diberangkatkan menuju Australia.
Produk tersebut merupakan hasil pembinaan kemandirian yang dikembangkan melalui kerja sama
Lapas Kelas I
Surabaya dengan PT Bahari Mitra Surya.
Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, mengatakan kegiatan produksi mebel bukan sekadar aktivitas pembinaan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian warga binaan.
Baca Juga:
Melalui pembinaan keterampilan, warga binaan diberi kesempatan untuk belajar bekerja secara produktif, menghasilkan karya, sekaligus memahami standar produksi yang dibutuhkan pasar.
Yang menarik, hasil karya tersebut tidak berhenti di dalam negeri. Produk mebel yang dibuat warga binaan mampu masuk ke pasar Australia. Ini menjadi gambaran bahwa proses pembinaan dapat melahirkan karya yang memiliki nilai ekonomi dan mampu bersaing di pasar global.
Bagi Sohibur, keberhasilan tersebut juga menjadi bagian dari proses perubahan paradigma pemasyarakatan.
Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi dipersiapkan agar memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk kembali menjalani kehidupan secara produktif setelah bebas.
Ekspor tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan kemandirian dapat membuka jalan baru. Dari ruang kerja di dalam lapas, produk warga binaan bergerak menuju pasar internasional.
Baca Juga:
Lebih dari sekadar mebel, setiap produk membawa cerita tentang proses perubahan: dari warga binaan menjadi tenaga produktif, dari keterbatasan menjadi kesempatan, dan dari balik tembok
Lapas hingga menembus pasar Australia.
Dari balik lapas, mereka tidak hanya membuat mebel. Mereka sedang membangun masa depan.