Senin, 12 Oktober 2026 WIB

Di Bawah Langit Poso: Kejaksaan Membaur dan Mendekatkan Diri Dengan Masyarakat yang Akur dan Harmoni

Admin - Sabtu, 12 September 2026 09:00 WIB
Di Bawah Langit Poso: Kejaksaan Membaur dan Mendekatkan Diri Dengan Masyarakat yang Akur dan Harmoni
Matatelinga/Istimewa
Bagi saya, memimpin Kejaksaan Negeri di bumi Sintuwu Maroso bukan cuma soal menuntaskan tumpukan berkas perkara di atas meja kerja.

MATATELINGA -Saat kaki ini pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Poso pada awal tahun 2026, ada rasa hormat dan tanggung jawab besar yang saya rasakan. Bagi saya, memimpin Kejaksaan Negeri di bumi Sintuwu Maroso bukan cuma soal menuntaskan tumpukan berkas perkara di atas meja kerja.

Oleh: Yos A. Tarigan

Jauh dari itu, ini adalah sebuah panggilan hati untuk memahami, mendengar, dan menyatu dengan keseharian masyarakatnya. Keadilan hukum tidak akan pernah menyentuh rasa keadilan yang sejati kalau aparatnya membangun tembok pembatas dan menjaga jarak dengan warga. Hukum itu butuh hati nurani, dan hati nurani hanya bisa tumbuh dari adab, kedekatan, serta rasa saling menghargai.

Poso, sungguh adalah daerah yang sangat luar biasa. Tuhan menitipkan kekayaan alam yang melimpah ruah di sini, mulai dari hijaunya perkebunan, suburnya pertanian, sampai potensi energi yang membentang luas dan danau yang indah. Tapi bagi saya, permata paling berharga dari Poso tetaplah masyarakatnya. Warga di sini sangat dinamis, tangguh, dan punya falsafah hidup yang begitu luhur.

Baca Juga:
Jujur, di awal kedatangan, saya sempat bertanya dalam hati dari mana kehangatan dan ketangguhan batin masyarakat ini berasal. Jawabannya saya temukan sendiri saat saya mulai turun langsung ke lapangan.

Pengikat batin itu bernama Kasintuwu. Saya mengetahuinya bukan dari membaca buku teori, melainkan dari cerita yang mengalir jujur saat mengetuk pintu rumah-rumah ibadah, mendengar obrolan santai dengan para pemuka agama, serta saat membaur langsung dengan warga tanpa sekat formalitas.
Dari sanalah saya paham bahwa Poso yang saya temui hari ini adalah Poso yang benar-benar harmoni, sangat jauh berbeda dari apa yang selama ini kerap diceritakan atau dipikirkan oleh orang-orang di luar sana. Keakuran di sini adalah sebuah kesepakatan dari hati untuk hidup selaras, rukun, akrab, dan berjalan beriringan dalam kedamaian yang sudah mendarah daging.

Semangat Kasintuwu yang saya temukan di lapangan inilah yang kemudian menjadi ruh utama kami dalam memandang setiap persoalan hukum di tengah masyarakat. Selama saya memimpin Kejaksaan Negeri Poso, saya berkomitmen penuh untuk menerapkan restorative justice atau MKR - Mekanisme Keadilan Restoratif.

Bagi saya, hukum tidak boleh kaku dengan mengorbankan perkara-perkara kecil yang sebetulnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Baca Juga:
Penerapan nyata dari komitmen ini terbukti dari langkah konkret kami, salah satunya lewat keberhasilan penghentian penuntutan perkara tindak pidana terhadap orang dan harta benda yang kami ekspose bersama Kejaksaan Agung.
Kasus-kasus seperti perselisihan keluarga, emosi sesaat antartetangga, hingga perkara penganiayaan ringan berhasil kami selesaikan di luar jalur pengadilan setelah kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dengan tulus tanpa syarat.
Melalui mekanisme keadilan restoratif ini, kami berupaya menghidupkan kembali tradisi luhur masyarakat Poso untuk duduk bersama di Rumah Restorative Justice yang kami aktifkan di desa-desa, memulihkan keadaan, dan saling memaafkan tanpa harus berujung di jeruji besi. Menegakkan hukum dengan cara ini terbukti mampu mengembalikan keharmonisan di tingkat akar rumput tanpa meninggalkan dendam, karena sejatinya keadilan tertinggi adalah perdamaian itu sendiri.

Saya masih ingat betul di awal masa tugas saya di sini. Pada Selasa, 10 Februari 2026, kami langsung turun melakukan kunjungan kerja ke wilayah Poso Pesisir. Perjalanan hari itu terasa sangat berkesan karena saya didampingi oleh Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Daerah Poso, Nyonya Elsa Yos, istri saya tercinta, bersama seluruh pengurus dan anggota IAD, serta didukung penuh oleh seluruh rekan-rekan jajaran struktural Kejaksaan Negeri Poso.

Kami datang bersama-sama sebagai satu keluarga besar Adhyaksa dengan satu niat tulus: menyapa dan mendengar langsung cerita masyarakat dari hati ke hati.

Bagi saya pribadi, Poso Pesisir, khususnya area bersejarah seperti Mapane, adalah laboratorium perdamaian yang sesungguhnya. Di tanah pesisir itulah sejarah mencatat bagaimana tunas Islam dan Kristen pertama kali masuk dan bisa tumbuh berdampingan dengan damai. Waktu mengobrol langsung dengan para penjaga masjid dan pengurus gereja tua di Poso Pesisir pada hari Selasa itu, saya merasakan keteduhan yang luar biasa.

Baca Juga:
Mereka adalah para penjaga sunyi, tokoh-tokoh akar rumput yang merawat ingatan kita semua bahwa sejak berabad-abad lalu, leluhur Poso sudah mencontohkan cara hidup yang saling merangkul, tuwu siwagi dan tuwu mombepomawo, yaitu hidup berdampingan dengan saling mengasihi.

Rangkaian perjalanan kultural dan spiritual ini kemudian berlanjut pada pertengahan bulan Juli 2026. Agenda kami membawa langkah ini untuk melihat miniatur adat, lalu masuk menikmati keteduhan Gereja GKST Maranatha dan bertatap muka langsung dengan para pendeta yang menyambut kami dengan penuh kehangatan.

Dari sana, langkah kaki kami teruskan menuju kemegahan Masjid Agung Baiturrahman atau yang akrab disapa warga sebagai Masjid Raya Poso.
Di dua tempat ibadah utama ini, saya tidak melihatnya sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan pilar peradaban yang hidup.

Masjid dan gereja di sini adalah benteng moral yang menjaga agar harmoni di Poso tetap berdiri kokoh. Berdialog dengan para pendeta lalu bersilaturahmi dengan para tokoh muslim di masjid raya semakin menebalkan keyakinan saya bahwa penegakan hukum melalui pendekatan hati nurani, termasuk lewat optimalisasi peran Rumah Restorative Justice, harus berjalan beriringan untuk satu tujuan, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.

Baca Juga:
Lewat catatan kecil ini, saya ingin menegaskan kembali apa yang menjadi komitmen kami di Kejaksaan Negeri Poso. Kami hadir bukan untuk menjadi institusi yang kaku atau menakutkan, melainkan sebagai mitra hukum yang humanis bagi warga.

Kami ingin ikut memastikan kekayaan alam Poso, termasuk keindahan danau dan seluruh potensinya, terjaga dengan baik supaya manfaatnya benar-benar kembali dan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Kami ingin mengawal setiap pembangunan di daerah ini dengan kepastian hukum yang transparan dan bisa dipercaya.

Mari kita terus merawat keakuran dan keakraban ini. Tugas menjaga kedamaian bukan cuma tugas aparat keamanan atau pemerintah saja, tapi ini adalah warisan luhur leluhur kita yang harus kita rawat bersama dalam bingkai Sintuwu Maroso. Di atas tanah yang penuh berkah ini, mari kita terus berjalan bersama dan bergandengan tangan demi masa depan Poso yang lebih aman, adil, dan sejahtera.

Baca Juga:

Editor
: James Pardede
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Cegah Penyalahgunaan Anggaran DD dan ADD Senilai Rp200 Miliar, Kejari Poso Gelar Luhkum JAGA DESA ke Seluruh Kepala Desa di 19 Kecamatan
Pengurus dan Anggota IAD Daerah Poso Hadiri dan Ikuti dengan Antusias Pertemuan Konsultasi 2026 IAD Wilayah Sulawesi Tengah
Usulan MKR Kejari Poso Disetujui Kejati, Kasus Pencurian Demi Kebutuhan Hidup Anak Dihentikan
Niat Tulus, Gerak Cepat, Membangun Kesadaran dan Kepatuhan Hukum Generasi Emas
"Kenali Hukum Jauhi Hukuman", Rayakan Harlah ke-81, Kejari Poso Gelar JMS Serentak di 81 Sekolah
Kejari Poso, Cabjari Tentena dan IAD Daerah Poso Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Kejaksaan RI yang ke-81
 
Komentar
 
Berita Terbaru