Untuk jangka lebih panjang lagi ngaji.aj juga tidak menutup kemungkinan untuk melirik pasar Asia Tenggara, wilayah dengan sekitar 290 juta populasi Muslim. Dengan meningkatnya adopsi teknologi Al, cara orang belajar dan beribadah pun ikut berubah.
"Kami percaya teknologi ini akan sangat berguna untuk banyak individu dan institusi yang kami akan bangun kerja samanya," kata Fara Abdullah. "Kami juga melihat peluang besar di masa depan untuk menghadirkan pendamping ibadah yang memahami konteks budaya, ritme hidup, dan kebutuhan Muslim masa kini di mana pun mereka berada," ujar Fara.
Dampak yang Melampaui Aplikasi
"Selain fokus pada pengalaman personal pengguna, ngaji.al juga memperluas dampaknya melalui kolaborasi sosial. Salah satu kerja sama jangka panjang yang dijalani adalah dengan RumahZakat, yang kini memasuki tahun kedua. Kolaborasi ini bermula dari penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Palestina, melalui alokasi 25 persen pembelian langganan premium," ungkap Adhitya Zulfan.
Seiring berjalannya waktu dan respons positif dari pengguna, kerja sama tersebut diperluas ke bidang pendidikan, penanggulangan bencana, serta program-program Ramadan. Bagi ngaji.al, ibadah bukan hanya soal relasi personal dengan Allah, tetapi juga tentang kepedulian sosial yang nyata.
Di bidang edukasi, ngaji.ai aktif bekerja sama dengan institusi pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kota Bandung. Kolaborasi dengan komunitas Muslim dan mitra gaya hidup seperti Noore Sport dan One Day One Juz juga dilakukan untuk memperluas literasi Al-Qur'an dan menjembatani ibadah dengan keseharian Muslim urban.
"Menyambut Ramadan 1447 H tahun ini, ngaji.ai mengajak umat Muslim menjadikan bulan suci ini sebagai awal, bukan puncak. Awal untuk membangun kebiasaan ibadah yang konsisten, terstruktur, dan terasa dekat. Karena kini, untuk hidup lebih dekat dengan Al-Qur'an, tidak harus menunggu waktu luang yang sempurna. Cukup membuka genggaman, dan melangkah perlahan. satu ikhtiar pada satu waktu," pungkas Vanya Sunanto.