"Kami menilai ini sebagai bentuk krisis empati. Di saat rakyat Sumatera berjibaku dengan banjir dan bencana, Pelindo justru mempertontonkan kegiatan bernuansa hura-hura, seremonial berlebihan, dan pemborosan anggaran. Ini tidak pantas dan mencederai rasa keadilan publik," kata Razak.
Baca Juga:
Menurutnya, sikap tersebut bertolak belakang dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan efisiensi, penghematan, dan semangat 'mengencangkan ikat pinggang' di seluruh instansi negara, termasuk BUMN.
"Kegiatan motivasi pegawai tidak salah, namun menjadi sangat keliru ketika dilakukan di tengah situasi darurat nasional. Pelindo seolah menutup mata dan hati terhadap penderitaan masyarakat," tambahnya.