Anugerah gelar "pahlawan nasional" ini, menyebabkan puluhan ribu murid beliau yang tersebut di seluruh Indonesia dan luar negeri, memberikan apresiasi. Salah seorang murid almarhumah yang menyampaikan apresiasi tersebut, yakni Haslinda Mora.
Disela-sela kunjunganya ke Negeri Sembilan, Malaysia, Haslinda Mora, menyempatkan waktunya menyampaikan apresiasinya melalui media onlinehttps://matatelinga.com.
Baca Juga:
"Sebagai alumni Diniyah Puteri Padang Panjang, tentunya saya merasa bangga, adanya
anugerah pahlawan nasional kepada bunda almarhumah hj Rahmah el Yunusiyah dari Presiden Prabowo Subianto", ucap Haslinda Mora sesaat dirinya dalam perjalanan dari Negeri Sembilan, menuju Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (11/11/2025) pagi tadi.
Katanya, usulan sudah diperjuangkan sejak sepuluh tahun silam. Dan beliau, memang sangat pantas dan berhak sekali menyandang gelar sebagai pahlawan nasional. Karena, almarhum bukan cuma menjadi orang pertama mendirikan sekolah puteri. Tetapi beliau juga bergerak untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ditambahkannya, mudah-mudahan pemberian
anugerah pahlawan nasional ini, bisa menginspirasi wanifa-wanita minang, wanita-wanita Indonesia pada umumnya.
Haslinda Mora, alumnus Diniyah Puteri Padang Panjang tahun 1989 ini menyampaikan, beliau juga merupakan salah seorang anggota pesiapan kemerdekaan untuk wilayah dahulunya disebut Sumatera Tengah (sekarang Sumatera Barat).
Baca Juga:
"Di Diniyah Puteri, beliau merupakan Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang berobah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dan banyak lagi hal,-hal yang beliau perjuangkan. Baik sebelum, maupun sesudah kemerdekaan Indonesia. Khususnya di Minangkabau, maupun Indonesia. Bahkan luarnegeri (mancanegara) ", imbuh salah seorang dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang ini.
Hj Rahmah el Yunusiyah, mendirikan Diniyah Putri Padang Panjang, pada tahun 1923, sebagai sekolah pertama untuk pendidikan perempuan di Indonesia.
Fokus pada perjuangan untuk menghilangkan diskriminasi pendidikan terhadap perempuan, agar mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai anggota masyarakat.
Menurut Haslinda Mora, almarhumah hj Rahmah el Yunudiyah. merupakan perempuan pertama di dunia menerima gelar "Syaikhah" dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Baca Juga:
"Almarhumah hj Ranmah rl Yunufiyah, menerima gelar ini pada tahun 1957 dari Senat Guru Besar Universitas Al-Azhar Kairo, sebuah gelar yang belum pernah diberikan kepada perempuan sebelumnya", ujar Haslinda.
Haslinda menambahkan, almarhumah hj Rahmah el Yunusiyah, juga orang pertama yang mengusulkan, agar Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, menerima mahasiswanya dari kalangan perempuan. Dan belliau pulalah, yang mengirimkan mahasiswa puteri dari Diniyah Puteri Padang Panjang, belajar di Universitas Al Azhar.
Menurut dia, saya berharap kedepannya, akan lahir lagi wanita-wanita tangguh di tanah minang, seperti halnya almarhumah hj Rahmah el Yunusiyah. Sembari menambahkan, sebenarnya di tanah minang, sebelum hj Rahmah el Yunusidah, sudah ada wanita minang begelar pahlawan nasional.
Diantaranya, sebut Haslinda, almarhumah hj Rangkayo Rasuna Said, Siti Manggopoh. Dan mungkin banyak hal yang bisa pelajari, tentang keteladanan almarhumah. ketekunan, keuletan, tentsng visi beliau tentang wanita yang sesungguhnya. Yang beliau tuangkan dalam salah satu tujuan berdirinya Lembaga Pendidikan Diniyah Puteri Padang Panjang.
Baca Juga:
"Beliau tidak cuma mengajar di sekolah. Tetapi beliau juga turun kemasyarakat. Beliau punya semua ilmu. Tidak cuma ilmu agama, Tetapi juga ilmu kebidanan. Ilmu prerang. Dan yang paling membanggakan, keberanian beliau, bahkan dalam melawan penjajah", tegas Haslinda.
Salah seorang PP engurus Persatuan Alumni Diniya Outeri ini mencontohkan, bagaimana dia melawan tentara Jepang, ketika wanita-wanita minabg dibawa ke Medan. Almarhumah bunda hj Rahmah el Yunusiyah, bisa melepaskan wanita,-wanita minang tersebut. yang ajan dijadikan "geisha" (semacam wanita penghibur, red).
Selain itu, Haslinda menyampaikan, alnarhumah hj Rahnah el Yunusiyah, mem8liki jiwa sosial yang luar biasa. Dan bisa membedakan, Apa yang bisa dilakukan dari visi kemanusiaan. Meskipun dia sangat marah dengan penjajah Belanda. Tetapi almarhumah bisa membedakan.
Sebagai contoh. ketika kereta api jatuh di Padang Panjang. Yang kebanyak penumpangnya orang Belanda. Almarhumah mengambil keputusan menyelamatkan korban. Bahkan dia mengambil keputusan mendirikan rumah sakit, di Diniyah Puteri Padang Panjang, untuk menyelamatkan korban, yang jatuh di lembah Anai.
Baca Juga:
"Inilah sebahagian kecil catatan saya, terkait dengan sosok almarhumah hj Rahmah el Yunusiyah. yang bisa saya bagikan kepada masysrakat", ujarr Hj aslinda Mora mengakhiri perbincangan ditengah-tengah perjalanannya di negara jiran Malaysia.
Sementara, dari berbagai sumber yang berfasil dikumpulkan media omline ini, almathumah hj Rahmah el Yunusiyah, juga .aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, termasuk mendirikan partai Masyumi di Minangkabau.
Almarhumah. juga tercatat pernah menjadi anggota parlemen, mewakili partai Masyumi untuk Sumatera Tengah pada periode 1955–1958.
Baca Juga: