Rico.Waas Dorong Al Washliyah Perkuat Pendidikan dan Pembinaan Generasi Muda
MATATELINGA,Medan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong Pengurus Daerah Al Jam&039iyatul Washliyah Kota Medan Masa Bakti 20
Lifestyle
MATATELINGA - Jakarta : Sungai Batang Gadis bukan sekadar bentang alam yang mengalir dari pedalaman Mandailing Natal. Bagi masyarakat Tapanuli Bagian Selatan, Tabagsel, sungai itu menyimpan ingatan tentang masa kecil, perjalanan, perdagangan, kehidupan sosial, hingga cita rasa kuliner yang diwariskan lintas generasi.
Kini, aliran kenangan itu seolah menemukan muaranya di meja makan Rumah Makan Batang Gadis, Cibubur, Jakarta Timur. Di tempat ini, kekayaan kuliner Tabagsel dihadirkan kembali sebagai cara sederhana untuk mempertemukan perantau dengan rasa kampung halaman.
Hal tersebut mengemuka dalam program "Bincang Tipis-Tipis" yang dipandu host Erman Tale Daulay dengan tema, Dari Sungai Batang Gadis Mengalir ke Meja Makan di Ibu Kota, menghadirkan narasumber Muhammad Nuh Nasution, pemilik Rumah Makan Batang Gadis asal Mandailing, dan Akhir Marua Harahap, dosen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pecinta dan peneliti budaya Tabagsel.
Baca Juga:
"Batang Gadis ini penuh kenangan," ujarnya.
Di sungai itu, kata Muhammad Nuh, anak-anak dahulu berkumpul, memancing, menjala ikan, berenang, hingga melintas ketika hendak menuju sawah. Karena itu, ketika nama Batang Gadis digunakan sebagai identitas rumah makan, yang ingin dihadirkan bukan hanya nama, tetapi juga suasana kampung halaman.
"Dengan melihat nama Batang Gadis, maka teringatlah Tabagsel, teringatlah Mandailing," katanya.
Baca Juga:
Bagi Muhammad Nuh, makanan tersebut merupakan cara untuk menjawab kerinduan para perantau.
"Harapannya, tanpa berpanjang lebar, dengan melihat Batang Gadis maka sudah terbayang kampung halaman," tuturnya.
Sungai sebagai "Jalan Tol" Masa Lalu
Baca Juga:
Ia menjelaskan, dalam konteks bahasa setempat, kata "batang" merujuk pada aek atau sungai. Karena itu dikenal pula nama-nama sungai seperti Batang Angkola, Batang Toru, Batang Barumun dan Batang Pane.
Menurutnya, Batang Gadis bukan sekadar sungai, melainkan bagian dari daerah aliran sungai yang sejak dahulu menjadi jalur penting pergerakan manusia dan barang.
Jika menggunakan perumpamaan masa kini, daerah aliran sungai tersebut dapat dianalogikan sebagai "jalan tol" pada masa lalu.
Alirannya menghubungkan kawasan hulu hingga wilayah pesisir. Dari kawasan Gunung Kulabu, aliran Batang Gadis bergerak melewati berbagai wilayah Mandailing hingga bertemu dengan aliran sungai lainnya dan terus menuju kawasan pantai barat.
Baca Juga:
Dari jalur sungai itulah kemudian terbentuk interaksi masyarakat, perdagangan, pertukaran bahan pangan dan kebudayaan yang pada akhirnya ikut membentuk karakter kuliner masyarakat Tabagsel.
Menurut Akhir Marua, kuliner tradisional tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Kesuburan daerah aliran sungai Batang Gadis menghasilkan beragam tumbuhan dan bahan pangan yang kemudian diolah menjadi makanan sehari-hari. Salahsatu contoh paling kuat adalah daun ubi tumbuk.
Keistimewaan daun ubi tumbuk bukan sekadar pada bahan utamanya, tetapi juga pada teknik pengolahan dan penggunaan rempah lokal.
Salahsatu yang menjadi ciri khas adalah penggunaan palak-palak, rempah yang menjadi bagian dari kearifan lokal dalam pengolahan makanan masyarakat Mandailing.
Baca Juga:
Hal serupa terlihat pada holat, yang menggunakan rempah dan bahan lokal, termasuk balakka. Dengan demikian, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga menjadi rekaman ekologis dan sejarah suatu masyarakat.
Ikan merah, cita rasa dan prestise masa lalu
Batang Gadis juga membawa kekayaan hayati berupa ikan-ikan sungai yang sejak dahulu menjadi bagian dari konsumsi masyarakat.
Salah satunya adalah ikan merah, yang menurut Akhir Marua memiliki posisi istimewa dalam tradisi kuliner setempat.
Baca Juga:
Karena sulit diperoleh dan memiliki cita rasa yang dianggap istimewa, ikan merah kemudian memiliki posisi prestisius dalam kuliner masyarakat.
"Dia menjadi makanan para raja-raja di zaman dulu," katanya.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kuliner tradisional juga memiliki lapisan sosial dan sejarah. Sebuah hidangan dapat menyimpan cerita tentang lingkungan, cara memperoleh bahan pangan, bahkan status sosial masyarakat pada masanya.
Sambal Tuktuk: Inovasi Kuliner dari Masa Lampau
Baca Juga:
Menurut Akhir Marua, sambal sebenarnya terdapat hampir di berbagai daerah dengan karakter dan bahan yang berbeda. Namun sambal tuktuk memiliki cerita tersendiri karena memperlihatkan adanya kreativitas kuliner masyarakat Tabagsel sejak masa lampau.
Dasarnya adalah cabai dan garam yang dihaluskan. Kemudian ditambahkan ikan gadapang yang memiliki cita rasa asin dan berasal dari kawasan pesisir.
Proses menumbuk bahan tersebut kemudian melahirkan nama "tuktuk".
Menariknya, keberadaan sambal tuktuk juga menunjukkan hubungan ekonomi antara wilayah pedalaman dan pesisir. Bahan pangan dari pedalaman bertemu dengan komoditas dari pesisir melalui jalur perdagangan yang dahulu sangat bergantung pada jaringan sungai.
Baca Juga:
"Di zaman dulu, sambal tuktuk adalah produk baru, hasil pemikiran orang-orang kita. Karena diterima secara umum dan rasanya enak, dia tetap lestari sampai sekarang," jelas Akhir Marua.
Makanan Ikut Merantau
Di Jakarta, perjalanan kuliner tersebut mendapatkan ruang baru.
Muhammad Nuh melihat Rumah Makan Batang Gadis sebagai tempat untuk mempertemukan perantau Tabagsel dengan rasa yang mereka kenal sejak kecil.
Baca Juga:
"Rata-rata tamu kita sangat menikmati dan mengatakan rasanya enak dan serasa di kampung halaman," katanya.
Ungkapan tersebut menjadi menarik karena menunjukkan bahwa orang Tabagsel ketika merantau tidak hanya membawa tubuhnya, tetapi juga membawa ingatan, kebiasaan dan makanannya.
Karena itu, keberadaan Rumah Makan Batang Gadis menjadi lebih dari sekadar usaha kuliner. Ia menjadi ruang kecil tempat identitas budaya tetap dirawat melalui rasa.
Baca Juga:
Dari sungai menuju meja makan. Dari Mandailing menuju Jakarta. Dari kenangan menuju cita rasa.
Di situlah Batang Gadis terus mengalir—bukan hanya sebagai sungai di tanah Mandailing, tetapi sebagai aliran ingatan dan kebudayaan yang kini bermuara di tengah Ibu Kota.
Dan mungkin benar, untuk "pulang kampung" sejenak, seorang perantau tidak selalu membutuhkan tiket pesawat.
Baca Juga:
MATATELINGA,Medan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong Pengurus Daerah Al Jam&039iyatul Washliyah Kota Medan Masa Bakti 20
Lifestyle
MATATELINGA, Medan Bagi warga Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang, banjir bukan sekadar genangan. Tahun lalu, air dan lumpur bahka
Berita Sumut
MATATELINGA, Riau PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) menerima kunjungan kerja Badan Akuntabilitas Keuangan Negara Dewan Perwakilan Ra
Ekonomi
MATATELINGA, Banda Aceh Panitia Steering Committee (SC) Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Aceh resmi membuka pendaftaran bakal calon Ke
Aceh
MATATELINGA, Medan Suasana Halaman Masjid Al Ikhlas, Jalan Raharja, Lingkungan 12, Pondok Batuan, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan S
Berita Sumut
MATATELINGA, Medan PSMS Medan tampil meyakinkan dengan menundukkan Persikad Depok 40 dalam lanjutan Liga 2. Kemenangan telak atas tim yang
Bola
MATATELINGA,Simalungun Kehadiran Polres Simalungun Polda Sumatera Utara di tengahtengah masyarakat kembali dibuktikan lewat respons cepat
Berita Sumut
MATATELINGA Medan Dinas Kesehatan Kota Medan memperkuat kewaspadaan terhadap penyebaran virus Influenza A dengan menerbitkan surat pemberi
Berita Sumut
MATATELINGA,RiekeThe Three Lions tampil dominan dan mencatat kemenangan terbesar dalam sejarah pertemuan kedua tim.Timnas Inggris menggulun
Bola
MATATELINGA, T.Tinggi Wajah pucat dan kaki geneter langsung di alami seorang pencari barang bekas (botot) saat dirinya tak sengaja malah ke
Berita Sumut
MATATELINGA, JakartaKebakaranbermula saat penghuni sedang memasak di dapur rumahnya. Di sela aktivitastersebut, sang penghuni justru meni
Nasional
MATATELINGA, Aceh Selatan RSUD dr. H. Yuliddin Away Kabupaten Aceh Selatan menenderkan pekerjaan pemeliharaan gedung rawat inap dengan pagu
Aceh