Alih-alih melakukan pelucutan senjata nuklir sejak NPT ditandatangani 1968, negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat terus memperkaya uranium untuk senjata nuklir dan menyebarkan teknologi itu kepada negara-negata sekutunya. Bahkan Israel yang tidak menandatangani NPT beb
as memiliki hulu ledak nuklir dan menjadi bully di kaw
asan.
"Dengan situ
asi ini, saya kira wajar kalau negara-negara yang mer
asa rentan terhadap serangan AS dan sekutu mer
asa harus mengembangkan persenjataan serupa sebagai faktor detterence atau pencegah," ujar Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr.
Teguh Santosa, kepada media, Minggu, 12 April 2026.
"Kalau negara-negara Barat boleh menterjemahkan doktrin si vis pacem para bellum dengan meningkatkan kap
asit
as militer term
asuk senjata pemusnah m
assal, maka negara-negara lain yang tidak mau jadi korban dari agresifit
as negara-negara superpower akan mendorong diri mereka untuk memiliki kap
asit
as serupa," urai dosen Hubungan Intern
asional Universit
as Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.
Program Nuklir Iran
Teguh melanjutkan, selama ini, sebagai negara yang menandatangani dan meratifik
asi NPT Iran mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, yang merupakan satu dari tiga pilar NPT.
"Kap
asit
as nuklir Iran selama ini digunakan untuk energi dan medis, yang dijamin oleh NPT. Namun, setelah serangan terbuka terhadap Iran tahun lalu dan tahun ini, wajar bila berkembang wacana lain tentang arti penting memiliki senjata nuklir untuk mencegah agresi negara lain," m
asih kata
Teguh.
Dia menggarisbawahi bahwa alm. Ali Khamenei sebelumnya mengeluarkan fatwa yang mengharamkan senjata nuklir karena dinilai berlawanan dengan prinsip perang dalam Islam.
"Dalam ajaran Islam, perang dilakukan sebagai respons at
as serangan pihak lain dan bersifat diskriminatif. Artinya, hanya unsur kombatan yang dapat dijadikan s
asaran serangan bal
asan. Sementara senjata nuklir bersifat non diskriminatif yang berarti menghancurkan apapun dan siapapun," kata dia lagi.
Teguh menambahkan, saat ini yang dibutuhkan adalah konsistensi AS dan sekutu dalam implement
asi NPT. Tanpa itu, negara-negara lain juga akan berlomba-lomba untuk ikut mengembangkan nuklir untuk senjata pemusnah m
assal.
Saat ini ada sembilan negara yang memiliki senjata nuklir. Dua negara yang memiliki hulu ledak nuklir terbanyak adalah Rusia dan AS. M
asing-m
asing memiliki 5.459 dan 5.227 hulu ledak nuklir. Kemudian China (600), Prancis (290), Inggris (225), India (180), Pakistan (170), Israel (90), dan Korea Utara (50).
"Selagi hipokr
asi dan inkonsistensi terhadap implement
asi NPT diteruskan, maka dunia akan menjadi arena perlombaan senjata nuklir," demikian
Teguh. []