Matatelinga - Raqqa, Hampir 150 wanita Yazidi dari berbagai usia yang diculik ISIS kembali berkumpul dengan keluarg mereka di wilayah yang dikuasai Kurdi dalam beberapa pekan terakhir. Lainnya, yang berjumlah hampir 5.000, masih ditahan ISIS tanpa tahu apakah mereka bernasib baik dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka.
Sejumlah keluarga Yazidi, komunitas keagamaan minoritas di utara Irak, dipaksa membeli anak gadis, istri, dan ibu mereka, yang diculik ISIS dan dipaksa menjadi budak seks.
Tidak mudah bagi para keluarga untu menebus anak gadis, ibu, atau istri mereka. Mereka harus mengeluarkan uang setara dengan gaji mereka satu tahun.
Komunitas kuno Yazidi menarik perhatian dunia ketika ISIS menyerang wilayah Sinjar, tanah nenek moyang Yazidi, dan menculik anak-anak gadis, istri, dan wanita lainnya. ISIS memaksa mereka memeluk Islam, dan dinikahkan dengan anggota milita ISIS.
Mereka yang selamat melarikan diri ke pegunungan, dan bertahan selama berhari-hari, sampai bantuan kemanusiaan tiba. Pemboman di sekitar Sinjar juga membuka jalan bagi milisi Kurdi untuk mengevakuasi mereka ke Kurdistan.
Berbagai cerita mengalir dari mereka yang kembali berkumpul dengan keluarga. Sabreen (15), misalnya, bercerita tentang perjalanan ke Tal Afar, tempat mereka dijual. Ia tidak sendiri, tapi bersama ratusan wanita Yazidi lainnya.
"Banyak orang datang dan melihat. Serdadu ISIS mengeluarkan 1000 sampai 1.500 dolar AS untuk mendapatkan gadis yang mereka suka," ujar Sabreen. "Uang itu dikumpulkan seorang amir."
Hamid, paman Sabreen, mengeluarkan 5.000 dolar AS untuk membeli sang keponakan dan membawanya ke keluarga. Itu bukan jumlah yang kecil, dan Hamid tidak membeli langsung tapi lewat perantara.
Menurut Hamid, banyak keluarga mencoba mendapatkan uang untuk membeli kembali anak gadis, istri, atau ibu mereka. Semula, masih menurut Hamid, ISIS menetapkan harga 10 ribu dolar AS bagi keluarga yang ingin menebus anak gadis, istri, atau ibu. Tapi harga itu kini turun.
"Kami memiliki sekitar 30 anak perempuan yang hilang," ujar Hamid. "Jika harus membayar lima ribu per kepala, kami tidak akan mampu."
Aktivis percaya ISIS kemungkinan akan melepas gadis-gadis itu dengan harga murah, karena mereka tidak mampu lagi memberi makan sekian lama. ISIS kehilangan kemampuan logistik untuk menghidupi tahanannya, dan terpaksa melepas dengan harga murah.
(Mt/Inc)