Matatelinga.com, Dua negara di Afrika kini tengah berada di ambang pelemahan. Hal ini lantaran imbas dari melemahnya harga minyak dunia yang sudah berlangsung beberapa waktu.
Melansir CNN, kedua negara tersebut yaitu Angola dan Nigeria. Keduanya sama-sama menggantungkan kehidupan negaranya dari komoditas minyak.
Angola merupakan salah satu negara yang ekonominya pernah paling cepat berkembang di Afrika. Namun saat ini negara tersebut berlutut dan meminta bantuan dari IMF.
Angola merupakan produsen minyak terbesar kedua di Afrika. Negara ini menggantungkan pendapatan pemerintahnya sekira 95 persen dari komoditas minyak.
Setelah memulai debutnya di pasar utang internasional tahun lalu, Angola diketahui tidak dapat memenuhi kewajiban anggaran dan utang obligasinya. Untuk itu negara ini telah meminta bantuan dari IMF dalam bentuk dukungan keuangan.
Angola juga terikat utang untuk keperluan perminyakan dengan China. Utang-utang tersebut meremas keuangan negara. Alhasil pertumbuhan ekonomi Angola diprediksi hanya tumbuh di level 3,5 persen. Level tersebut turun jauh dari pertumbuhan ekonomi di 2013 yang mencapai 6,8 persen. Dilansir dari laman okezone.com
Tak jauh berbeda dari Angola, Nigeria juga merupakan negara yang sangat bergantung terhadap penjualan minyak mentah. Tercatat sekira 70 persen pendapatan pemerintahnya berasal dari minyak. Bukan hanya itu, penjualan minyak juga menyumbang 90 persen dari pendapatan ekspor Nigeria.
Indeks MSCI compiler sedang mempertimbangkan menghapus Nigeria dari indeks pasar perbatasan yang karena pembatasan telah membuat lebih sulit bagi investor untuk memulangkan uang.
Keadaan menjadi lebih buruk karena negara ini menghadapi krisis bahan bakar. Meskipun produsen minyak terbesar Afrika, Nigeria tidak pernah memiliki kapasitas penyulingan cukup, dan kelangkaan dolar membuat lebih sulit bagi importir untuk membawa gas ke negara itu.
Perang melawan Al-Qaeda terkait kelompok teror Boko Haram, yang membuat pemerintah telah berjanji untuk memberantas, menempatkan beban lebih lanjut tentang keuangan negara.
IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi negara ini berada pada level 2,3 persen. Level tersebut merupakan tingkat terendah dalam lima tahun terakhir
(Fit)