Matatelinga.com, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) kembali tidak akur akibat perselisihan harga uap panas bumi yang dipasok oleh Pertamina melalui anak usahanya yaitu PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang 1,2, dan 3.
Pertamina melalui PGE pun mengancam akan menghentikan pasokan uap panas bumi ke PLTP Kamojang 1, 2, dan 3 milik PT PLN (Persero), yang dikelola PT Indonesia Power dengan total kapasitas pembangkitan 140 mega watt (mw). Seperti dilansir dari laman okezone.com
Jika benar-benar pasokan uap panas bumi dihentikan dan listrik pun padam, bagaimana nasib rakyat?
Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN Nasri Sebayang menegaskan, rakyat tidak perlu khawatir akan pasokan listrik, pasalnya PLN memiliki cadangan listrik untuk wilayah Jawa Bali sekira 30 persen atau 3.000 mw.
"Bagi PLN bukan masalah listriknya. Kalau dipadamkan enggak ada masalah bagi PLN karena kita ada cadangan lebih dari 3.000 mw apa artinya 130 mw? Tidak ada," tegas Nasri di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Kamis (7/1/2016).
Kendati demikian, PLN menghargai Pertamina dalam mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Hal tersebut memang harus didukung, tetapi juga harus disesuaikan tarifnya.
"Cuma kami hargai ini energi baru terbarukan. Tidak pakai bahan bakar. Kita mesti kembangkan. Cuma pada tarif yang sama-sama dapat terima dengan baik," paparnya,
Pihak PLN pun menyayangkan sikap Pertamina yang tiba-tiba mengancam menghentikan pasokan uap panas bumi.
"Enggak lah (pasokan uap). Kalau pasokan uap saya kira PGN lapang dada. Apa sih masalahnya. Kenapa sih kok main mati-matiin? Kan enggak baik,' tukasnya.
(Fit)