Keputusan tersebut diambil setelah proses mediasi tidak menghasilkan kesepakatan baru. Salah satu faktor yang menjadi perhatian warga adalah tidak hadirnya pihak yang menyewakan lahan yang digunakan untuk Tower BTS dan Pondok, yang menurut warga berkaitan langsung dengan penggunaan akses tersebut.
Mediasi Ketiga dilakukan tersebut dihadiri oleh sejumlah warga, pengurus lingkungan, petugas Bhabinkamtibmas dari Polsek Sunggal, serta kuasa hukum warga, yakni Budi Darma, S.H dimana pertemuan tersebut digelar sebagai upaya warga untuk mencari penyelesaian secara damai dan menghindari terjadinya konflik berkepanjangan di lingkungan perumahan.
Warga juga menyampaikan bahwa undangan telah disampaikan kepada pihak terkait, termasuk perangkat pemerintahan desa dan Kecamatan Sunggal. Namun, berdasarkan keterangan warga, tidak terdapat perwakilan perangkat desa maupun kecamatan yang hadir dalam mediasi tersebut, namun kondisi tersebut disayangkan warga karena persoalan yang menyangkut fasilitas lingkungan, keamanan, akses, dan potensi dampak terhadap permukiman diharapkan dapat memperoleh fasilitasi dari pemerintah setempat.
Baca Juga:
Seperti diinformasikan bawa persoalan ini sebelumnya telah dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Dalam mediasi sebelumnya,
warga dan pihak terkait sempat membicarakan alternatif penyelesaian yang diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak. Salah satu solusi yang ditawarkan
warga adalah pembangunan jalan sekaligus gundukan atau tanggul penahan air pada bagian akses yang terbuka setelah pembongkaran tembok. Usulan tersebut dimaksudkan untuk tetap memungkinkan akses menuju area Tower BTS dan Pondok, sekaligus mengurangi risiko masuknya air ke kawasan perumahan.
Berdasarkan keterangan
warga, dalam pembahasan sebelumnya terdapat kesepakatan mengenai pembagian biaya pembangunan antara pihak yang menggunakan lahan dan
warga komplek, namun,
warga menyampaikan bahwa sejak pembangunan dilakukan pada 10 Juli 2026, penyelesaian sebagaimana yang diharapkan belum terealisasi sepenuhnya hingga Mediasi Ketiga pada 4 September 2026.
Warga juga mengkhawatirkan kondisi lingkungan setelah tembok pembatas dibongkar. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan masuknya aliran air dari luar kawasan perumahan ketika terjadi peningkatan debit air sungai atau hujan dengan intensitas tinggi.