Kamis, 03 September 2026 WIB

Sumut Rawan Narkoba, Tatar Nugroho Perang dari Hulu: Edukasi, Kolaborasi dan Gerakan Masyarakat

Admin - Kamis, 03 September 2026 19:30 WIB
Sumut Rawan Narkoba, Tatar Nugroho Perang dari Hulu: Edukasi, Kolaborasi dan Gerakan Masyarakat
Matatelinga/Istimewa
Kepala BNN Provinsi Sumatera Utara, Brigjen Pol Tatar Nugroho

MATATELINGA - Medan : Perang melawan narkoba tidak selalu dimulai dari operasi penangkapan. Ada upaya yang jauh lebih mendasar dan menentukan, yakni mencegah seseorang mengenal narkoba sejak awal.

Pendekatan itulah yang dikedepankan Kepala BNN Provinsi Sumatera Utara, Brigjen Pol Tatar Nugroho, dalam melawan narkoba di Sumatera Utara.

Di tengah keterbatasan personel, anggaran dan jangkauan kelembagaan, Tatar memilih memperkuat pertahanan dari hulu. Anak-anak, keluarga, sekolah, desa dan masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pencegahan.

Baca Juga:
Hal itu disampaikan Tatar dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu Host Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info.

Menurut Tatar, tantangan Sumatera Utara memang tidak sederhana. Dengan 33 kabupaten/kota dan jumlah penduduk mendekati 16 juta jiwa, Sumut memiliki potensi pasar narkoba yang besar.

Secara geografis, Sumut juga berada di jalur yang sangat strategis. Di sebelah utara berbatasan dengan Aceh, sedangkan di sisi timur terbentang Selat Malaka dengan garis pantai yang panjang serta banyak pelabuhan dan jalur tikus.

Posisi tersebut membuat Sumatera Utara rentan menjadi jalur masuk sekaligus pasar narkoba. Di bagian selatan, Sumut juga berdekatan dengan sejumlah provinsi yang memiliki pasar besar, termasuk Sumatera Selatan yang disebut Tatar berada di posisi kedua secara nasional.

Baca Juga:
"Kalau menjadi wilayah perlintasan, pasti ada barang yang nyangkut," kata Tatar.

Persoalan tidak berhenti pada jalur peredaran. Narkoba kini juga semakin menjangkau wilayah perdesaan dan menyasar kelompok usia yang lebih muda.

Tatar menyebut terjadi pergeseran kelompok usia pengguna. Jika sebelumnya kelompok usia 25–49 tahun cukup dominan, kini kelompok usia 15–25 tahun menjadi perhatian serius.

Ia bahkan menemukan dua anak berusia 15 tahun asal Tanah Karo yang telah mengalami kecanduan narkoba dan harus menjalani rehabilitasi.

Baca Juga:
Fakta tersebut menjadi alarm bahwa pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.

Edukasi Dimulai dari Anak

Karena itu, BNNP Sumut memperkuat strategi pencegahan melalui program nasional ANANDA BERSINAR, singkatan dari Aksi Nasional Anti-Narkotika Dimulai dari Anak.

Program ini diarahkan untuk membangun ketahanan sejak usia dini, dengan memperkuat tiga lapis benteng: ketahanan diri, ketahanan keluarga dan ketahanan lingkungan.

Baca Juga:
Di lingkungan pendidikan, pendekatan dilakukan melalui IKAN (Integrasi Kurikulum Anti-Narkotika). Edukasi mengenai bahaya narkoba diintegrasikan ke dalam pembelajaran yang sudah berjalan tanpa harus mengubah kurikulum.

BNNP Sumut juga menjalankan program BNN Goes to School, dengan menempatkan petugas sebagai pembina upacara sekaligus memberikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan pesantren.

Pendekatan kemudian diperluas melalui pembentukan Saka Anti-Narkotika, dan pengembangan Sekolah Bersinar, Kampus Bersinar dan Desa Bersinar.

Di Tanah Karo, sebanyak 1.600 pelajar telah dibekali menjadi Sobat Ananda Bersinar. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah masing-masing, mulai dari mengingatkan teman, menyampaikan edukasi hingga berani melaporkan indikasi penyalahgunaan narkoba.

Baca Juga:
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai sasaran edukasi, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan pencegahan.

Keterbatasan Dijawab dengan Kolaborasi

Strategi tersebut dibangun di tengah keterbatasan sumber daya.
Dari 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara, BNN baru memiliki 15 BNNK. Artinya, masih terdapat 18 kabupaten/kota yang belum memiliki BNNK.

Kekuatan personel di daerah juga belum ideal, rata-rata sekitar 25–30 orang. Persoalan sarana dan prasarana serta keterbatasan anggaran turut menjadi tantangan.

Baca Juga:
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Tatar surut langkah.
Ia membangun kekuatan organisasi melalui tiga fondasi: integritas, soliditas, serta sinergi dan kolaborasi.

Integritas diperkuat dari internal organisasi. Soliditas dibangun agar seluruh jajaran bergerak dalam arah yang sama. Sementara sinergi dan kolaborasi diperluas dengan menggandeng pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan dan berbagai komunitas.

"Kalau kita mau membersihkan, sapunya harus bersih dulu," ujar Tatar.

Bagi Tatar, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima sosialisasi. Mereka harus menjadi bagian dari sistem pencegahan di lingkungan masing-masing.

Baca Juga:
Pendekatan itu juga dilakukan dengan menggandeng sekitar 700 penyuluh agama dari berbagai agama untuk mendapatkan pembekalan mengenai adiksi. Mereka diharapkan ikut menyampaikan edukasi sekaligus membangun
kesadaran masyarakat.

Ketika Masyarakat Mulai Bergerak

Salah satu perkembangan yang diapresiasi Tatar adalah mulai tumbuhnya keberanian masyarakat untuk ikut melawan narkoba.
Ia mencontohkan fenomena Siti Mawarni di Labuhanbatu dan sejumlah warga lainnya yang berani mengambil sikap terhadap peredaran narkoba di lingkungannya.

Bagi Tatar, munculnya gerakan warga tersebut merupakan tanda tumbuhnya kesadaran kolektif. Masyarakat mulai merasa gerah dan tidak ingin lingkungan mereka menjadi ruang tumbuhnya peredaran narkoba.

Baca Juga:
Kesadaran semacam itu dinilai penting karena pemberantasan narkoba tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan aparat.
Ketika personel terbatas, jejaring masyarakat diperluas. Ketika anggaran terbatas, kolaborasi diperkuat.

Pemberantasan tetap dilakukan, tetapi pencegahan menjadi investasi jangka panjang.

Sebab, menangkap pengedar atau pengguna merupakan bagian dari penegakan hukum. Namun, mencegah seorang anak mengenal narkoba jauh lebih strategis karena berarti memutus mata rantai sejak dari hulu.

Dari sinilah strategi Tatar Nugroho dibangun: memperkuat ketahanan, memperluas edukasi, merangkul berbagai elemen masyarakat dan menumbuhkan keberanian warga untuk bersama-sama menjaga lingkungannya.

Baca Juga:
Sebab melawan narkoba bukan semata tugas BNN. Ini adalah gerakan bersama yang harus dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan dan masyarakat.

Baca Juga:

Editor
: James Pardede
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Dibawa Kurir "Pria Gaek",  Narkoba Jenis Sabu Seberat 30 Kilogram Bruto Dan 20 Ribu Pil Ekstasi,  Gagal Beredar Di Medan Dan Wilayah Aceh
Manfaatkan Lahan Idle, Lapas Narkotika Langkat Wujudkan Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Hortikultura Pepaya California
Ketika Kejelian Petugas Menghentikan Narkoba di Gerbang Lapas Surabaya di Porong
Hari Anti Narkotika Internasional 2026, Ahmad Anugrah Lubis Desak BNN Berantas Narkoba Di Sumut
Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Mako Polres Pematangsiantar
Operasi Antik Toba 2026 : Polres Labuhanbatu, Ungkap 81 Kasus Narkoba dan Amankan 96 Tersangka
 
Komentar
 
Berita Terbaru