Sabtu, 15 Agustus 2026 WIB

Gejolak Timur Tengah: Kebijakan Imigrasi Sebagai Instrumen Resiliensi Ekonomi

Redaksi - Rabu, 18 Maret 2026 07:02 WIB
Gejolak Timur Tengah: Kebijakan Imigrasi Sebagai Instrumen Resiliensi Ekonomi

MATATELINGA,Di tengah ketidakpastian geopolitik global, eskalasi perang antara Iran, Israel dan Amerika Serikat (AS) telah menimbulkan "getaran fluktuasi tinggi" pada neraca perdagangan global. Jika peta konflik meluas, kebijakan keimigrasian Indonesia tidak lagi sekadar menjalankan fungsi administratif. Tata kelola mobilitas manusia lintas negara kini akan semakin saling berkaitan dengan stabilitas perdagangan, investasi, serta ketahanan rantai pasok nasional.


Kondisi ini semakin diperparah dengan diberlakukannya kebijakan protokol ketat di kawasan Selat Hormuz, yaitu jalur operasi pendistribusian yang sedang dilalui oleh "seperlima" dari pasokan minyak dunia dan "seperempat" dari pasokan gas alam cair dunia, sehingga mendorong terjadinya lonjakan harga impor energi hingga melewati US$100 per barel. Bagi Indonesia, dampaknya akan terasa langsung pada sisi fiskal. Kenaikan harga minyak global sangat berpotensi memperbesar nilai impor energi, sekaligus menekan ruang fiskal kita melalui peningkatan beban subsidi.

Baca Juga:
Editor
: Putra
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Ingin Stok Rudal dan Drone Iran Menghadapi Israel dan AS, Dua Tahun
Ini Penjelasan Kejari Madina Terkait Isu dan Pemberitaan Dugaan Kutipan Uang Pengamanan
Kapan Berakhir Perang Timur Tengah, Donald Trump Belum Bisa Pastikan
Iran: Selat Hormuz Ditutup Untuk Kapal Tanker dan Kapal Milik Musuh Musuh kita
Mungkinkah Timnas Sepak Bola Iran Ikut Berpartisipasi di Piala Dunia 2026
Benjamin Netanyahu Berhari-hari Tidak Tampil di Publik, Gimana Kabarnya...?
 
Komentar
 
Berita Terbaru