Matatelinga.com, Bulan Mei adalah bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, berbagai
peristiwa penting dan besar terjadi. Delapan belas tahun silam, pada 12
Mei 1998, empat orang mahasiswa Trisakti Jakarta tewas ditembak polisi
di kampus mereka.
Tidak banyak yang mengingat dan mau peduli
terhadap peristiwa berdarah yang memicu terjadinya kerusuhan massal di
sejumlah daerah di Indonesia itu. Hingga kini, kasus penembakan tersebut
masih menjadi misteri, siapa otak penembakan itu?
Pertanyaan ini
terus menggantung dalam benak masyarakat Indonesia, hingga timbullah
nama Prabowo Subianto dan Wiranto. Nama ini sering disebut-sebut
terlibat kasus penembakan itu. Benarkah demikian? Hanya sejarah yang
dapat membuktikannya.
Demo 6.000 mahasiswa Trisakti, di kawasan
Grogol, Jakarta Barat, pada 12 Mei 1998, pada awalnya hanya merupakan
aksi damai yang tidak hanya diikuti oleh mahasiswa. Tetapi juga oleh
dosen, pegawai, serta para alumnus universitas.
Dalam demo itu,
pada awalnya massa ingin mendengarkan orasi politik dari Jenderal Besar
AH Nasution pada mimbar bebas yang dilaksanakan. Namun sayang, jenderal
yang selamat dari penculikan dan pembunuhan Gerakan 30 September (G30S)
ini absen.
Alhasil, orasi politik yang berisi kritikan terhadap
Pemerintah Orde Baru Soeharto ini hanya di isi oleh para guru besar,
dosen, dan mahasiswa Trisakti sendiri. Mimbar bebas itu telah dimulai
dari pagi hingga siang, sejak pukul 11.00 Wib.
Selepas azan
Zuhur, sekira pukul 13.00 Wib, peserta aksi keluar dari kampus menuju
Jalan S Parman, Grogol, yang persis berada di depan kampus dan berencana
ke Gedung MPR/DPR di Senayan. Masa itu, mahasiswa dilarang demo ke luar
kampus.
Aksi mahasiswa yang berani ini sempat mengejutkan
aparat yang berjaga. Namun apa daya, aparat yang berjaga saat itu hanya
berjumlah puluhan dan tidak bisa bebuat apa-apa saat ribuan mahasiswa
Trisakti meringsek maju keluar kampus mereka.
Barisan mahasiswa
yang paling depan adalah para mahasiswi. Dengan membawa beberapa tangkai
bunga mawar, mereka membagi bagikannya kepada aparat kepolisian yang
berjaga. Beberapa di antaranya bahkan nekat menggoda dan mencium
petugas.
Aksi longmarch mahasiswa ini berhasil hingga 300 meter
dari gerbang kampus, tepatnya di depan kantor Kantor Wali Kota Jakarta
Barat. Setibanya di sana, perwakilan mahasiswa dihadang Komandan Kodim
Jakarta Barat Letkol (Inf) A Amril.
Setelah melakukan negosiasi,
akhirnya disepakati aksi pada 12 Mei 1998 itu hanya dilakukan sampai
tempat itu saja. Mereka kemudian menggelar mimbar bebas dan saling
bergantian orasi yang isinya mendesak segera dilakukannya reformasi
politik.
Selain itu, mahasiswa juga mendesak adanya perbaikan
ekonomi yang kian memburuk, perbaikan sistem hukum di Indonesia, dan
menuntut pelaksaan Sidang Umum Istimewa MPR. Tuntutan mahasiswa terakhir
ini dianggap mulai menyinggung wibawa Soeharto.
Hingga pukul
17.00 Wib, demo mahasiswa tetap berlangsung tenang dan tidak ada
ketegangan. Para mahasiswa terlihat masih bisa bercanda dengan aparat
gabungan bersenjata lengkap dari TNI/Polri yang jumlahnya telah mencapai
500 personel.
Para mahasiswa bahkan membagikan minuman kemasan,
permen, dan berpoto ria dengan petugas keamanan yang membentuk
barikade. Namun, suasana damai tersebut tidak berlangsung lama, hingga
akhirnya mahasiswa ditembaki dengan peluru tajam aparat.
Sesuai
dengan hasil negosiasi sebelumnya, demo mahasiswa berakhir pada sore
pukul 17.00 Wib. Mahasiswa dan aparat sepakat akan membubarkan diri saat
jam tersebut. Akhirnya, mahasiswa membubarkan diri dan masuk ke dalam
kampus dengan tertib.
Untuk masuk ke dalam kampus, mahasiswa
harus antre dan tampak berjubelan di depan gerbang. Tiba-tiba, terdengar
beberapa kali suara letusan tembakan aparat dari arah belakang. Suasana
yang tadinya tertib pun akhirnya berubah menjadi panik, seperti dilansir Sindonews.
Mahasiswa yang telah berada di dalam dan luar kampus tampak berlarian
menyelamatkan diri. Bahkan, sejumlah mahasiswa yang ada di barisan
belakang tampak telah dipukuli aparat. Tidak hanya mahasiswa, wartawan
juga menjadi sasaran pemukulan.
Para penyerang berasal dari
Pasukan Huru Hara (PHH) Brimob, dan Tim Gegana bersepeda motor yang
bersiaga di atas jembatan ikut-ikutan menembak ke arah demonstran yang
berlarian mencari perlindungan. Korban jiwa dan luka pun akhirnya
berjatuhan.
Setelah aksi penembakan itu, tersiar kabar enam
mahasiswa tewas ditembak. Namun setelah dicek kebenarannya di RS Sumber
Waras, jumlah mahasiswa yang tewas hanya empat. Selain korban tewas,
sejumlah mahasiswa lain juga terluka kena tembak.
Keempat martir
itu adalah Elang Mulia Lesmana dari Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan Jurusan Arsitektur, Hafidhin Royan dari Fakultas Teknik
Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil, dan Hery Hartanto dari
Fakultas Teknologi Industri.
Sedang seorang lagi adalah
Hendriawan Sie dari Fakultas Ekonomi. Berdasarkan hasil autopsi, keempat
korban memiliki luka tembak yang sangat mematikan, terletak pada dahi
yang tembus hingga ke belakang kepala, leher, punggung, dan dada.
Saat
terjadi penembakan, Elang Mulya Lesmana dan Hendriawan Sie berada di
dalam kampus. Mereka sedang berusaha masuk ke ruangan rektorat Dr Syarif
Thayeb. Mereka ditembak oleh para penembak jitu aparat yang berada di
atap gedung terdekat.
Begitupun dengan Heri Hartanto dan Hafidin
Royan. Saat terjadi penembakan mereka sedang berada di dalam kampus.
Penembakan baru berhenti malam hari pukul 20.00 Wib. Baru kemudian,
pihak kampus membawa para korban luka dan tewas ke rumah sakit.
Banyak
kalangan yang berpendapat, penembakan itu dilakukan oleh Kesatuan
Militer Kopassus, karena penembakan itu hanya bisa dilakukan dengan
keterampilan tinggi. Kesatuan Kopassus sendiri saat itu dipimpin Letjen
TNI Prabowo Subianto.
Lima hari setelah penembakan, Prabowo
mengunjungi rumah korban tewas Hery Hartanto. Di hadapan orangtua Hery,
Prabowo mengangkat Alquran dan meletakkannya di atas kepalanya, dan
bersumpah demi Allah dia tidak memerintahkan penembakan itu.
Penembakan
mahasiswa Trisakti memicu kerusuhan besar di Jakarta dan sejumlah
daerah lain di Indonesia. Kerusuhan terjadi sehari setelah penembakan,
mulai 13-15 Mei 1998. Dalam kerusuhan ini, etnis Cina yang dijadikan
kambing hitamnya.
Massa yang tidak diketahui identitasnya,
orang-orang berbadan kekar tiba-tiba datang menggunakan truk di
titik-titik yang telah ditentukan. Mereka kemudian berteriak-teriak
memprovokasi warga agar toko-toko milik orang-orang Cina dibakar.
Ketika
puncak peristiwa itu terjadi, Presiden Soeharto sedang berada di Kairo,
Mesir, menghadiri pertemuan G-15 pada 13-14 Mei 1998. Selama Soeharto
ke luar negeri, tanggung jawab dalam negeri diserahkan kepada Wakil
Presiden BJ Habibie.
Menurut keterangan Gubernur DKI Jaya
Sutiyoso, dalam peristiwa kerusuhan itu sebanyak 4.939 bangunan rusak
dibakar, 1.119 mobil pribadi hangus dibakar, angkutan umum 66 buah, dan
821 motor hangus dibakar. Rumah warga yang dibakar 1.026 buah.
Jumlah
bank yang dirusak massa sebanyak 64, terdiri dari 313 kantor cabang,
178 kantor cabang pembantu, dan 26 kantor kas. Total kerugian fisik
bangunan akibat kerusuhan itu mencapai angka Rp2,5 triliun lebih, belum
termasuk dengan isinya.
Kerugian ini lebih buruk dari kerusuhan
Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) di Jakarta yang hanya merusak 144
bangunan atau dibandingkan kasus 27 Juli 1966 yang menghancurkan puluhan
bangunan dan kendaraan dengan kerugian Rp100 miliar.
Dari segi
korban jiwa dan luka juga dampak kerusuhan ini jauh lebih besar. Bahkan
konon disebut yang terbesar, setelah terjadinya peristiwa pembantaian
massal terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI)
pada 1965-1966.
Di Jakarta, korban-korban kerusuhan mulai berjatuhan. Pemerintah Daerah
Tangerang mencatat, lebih dari seratus orang tewas terbakar dalam aksi
penjarahan di sebuah kompleks pertokoan. Pemda Bekasi juga menemukan
puluhan orang tewas terbakar.
Pusat Penerangan ABRI melaporkan,
jumlah korban jiwa mencapai 500 orang. Belum termasuk jumlah korban
tewas yang berada di Surakarta, Jawa Tengah, Makassar, Medan, Surabaya,
Jawa Timur, dan sejumlah daerah lainnya yang ada di Indonesia.
Hingga
kini, tidak ada jumlah pasti berapa total korban tewas akibat tragedi
Mei 1998 tersebut. Untuk wilayah Jakarta saja, Tim Gabungan Pencari
Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh pemerintah menemukan variasi angka yang
berbeda-beda.
Data Tim Relawan menyebutkan, korban tewas dalam
peristiwa itu mencapai angka 1.190 atau 1.339 orang akibat terbakar atau
dibakar, 27 orang akibat senjata tajam atau dibunuh, dan 91 orang
lainnya mengalami luka-luka karena berbagai sebab.
Sedangkan
data Polda Metro Jaya menyatakan, 451 orang meninggal dunia, dan korban
luka tidak tercatat. Data Kodam masih lebih besar, yakni 463 orang
meninggal, termasuk di antaranya aparat keamanan, dan 69 orang lainnya
luka-luka.
Data terakhir adalah yang dikeluarkan oleh Pemda DKI
Jakarta yang menyatakan korban meninggal mencapai angka 288 orang dan
101 orang lainnya mengalami luka-luka. Kebenaran angka-angka tersebut
hingga kini masih belum menemui kesepakatan.
Sementara korban
pelecehan seksual dan pemerkosaan dari etis Cina hingga kini masih
gelap, tidak ada angka yang pasti. Ada yang menyebut wanita yang menjadi
korban pemerkosaan di Jakarta berjumlah 92 orang, namun membuka peluang
lebih.
Apalagi dalam peristiwa itu aparat terkesan membiarkan
orang-orang berbadan tegap dan berambut cepak melakukan provokasi kepada
warga untuk melakukan pembakaran dan penjarahan terhadap toko-toko
milik etnis Cina di sejumlah daerah.
Kerusuhan yang terkesan
diciptakan sejak 12 hingga 15 Mei 1998 ini pun seharusnya sudah
diperkirakan oleh pihak intelijen, tetapi pertanyaannya kenapa tentara
baru digerakkan pada 15 Mei 1998, setelah kerusuhan di sejumlah daerah
mulai mereda?
Pada 15 Mei 1999, terjadi pergerakan besar-besaran
oleh satuan-satuan militer. Satuan-satuan tentara itu didaratkan dengan
menggunakan helikopter di mana-mana untuk pengamanan. Namun, semua sudah
terlambat, korban jiwa telah berjatuhan.
Hal ini merupakan
blunder terburuk dalam sejarah kegagalan penanganan keamanan oleh ABRI
sejak tahun 1945. Jenderal TNI Wiranto yang saat itu menjabat Menteri
Hankam/Panglima ABRI harus memikul tanggung jawab atas kegagalan
tersebut.
Sumber Tulisan
* Bacharuddin Jusuf Habibie,
Detik-Detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi,
THC Mandiri, Cetakan Kedua, September 2006.
* A Pambudi, Sintong dan Prabowo, Dari Kudeta LB Moerdani Sampai Kudeta Prabowo, Medpress, Cetakan Ketiga, 2009.
* A Malik Haramain, Gus Dur, Militer, dan Politik, Penerbit LKiS Yogyakarta, Cetakan I, Februari 2004.
*
Letnan Jenderal (Purn) TNI Djadja Suparman, Jejak Kudeta (1997-2005),
Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Cetakan Pertama, Januari 2003.
*
Hendro Subroto, Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para
Komando, Penerbit Buku Kompas, Cetakan Ketiga, Maret 2009.
* Nur Muhammad Wahyu Kuncoro, 68 Kasus Hukum Mengguncang Indonesia, Penerbit Raih Asa Sukses, Cetakan I, Jakarta 2012.
*
Beni Bevly, Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang
Tionghoa, Overseas Think Tank for Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2008.
* Mimin Dwi Hartono, 18 Tahun Tragedi Trisakti dan Kerusuhan Mei, dikutip dalam http://www.komnasham.go.id.
(........)