Jumat, 30 Oktober 2026 WIB

PM-AAS Bangkitkan Ekosistem Sawah di Nganjuk, PPL Heri Subiyanto Optimis Produksi Padi Tembus 10 Ton per Hektare

Admin - Jumat, 30 Oktober 2026 12:00 WIB
PM-AAS Bangkitkan Ekosistem Sawah di Nganjuk, PPL Heri Subiyanto Optimis Produksi Padi Tembus 10 Ton per Hektare
Matatelinga/Istimewa
Penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mulai membangkitkan optimisme petani terhadap peningkatan produktivitas sekaligus pemulihan ekosistem lahan pertanian.

MATATELINGA - Nganjuk : Penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mulai membangkitkan optimisme petani terhadap peningkatan produktivitas sekaligus pemulihan ekosistem lahan pertanian. Melalui pendekatan budidaya yang mengedepankan pupuk organik dan pengendalian hama secara hayati, program Kementerian Pertanian ini diharapkan mampu mendorong produksi padi melampaui 10 ton per hektare.

Optimisme tersebut disampaikan Heri Subiyanto, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) PPPK yang membina Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info (29/10).

Heri menjelaskan, penerapan PM-AAS di Kelompok Tani (Poktan) Widodo, desa Betet, dimulai dengan penanaman pada akhir Juli 2026 menggunakan varietas padi Inpago 13 Fortis.

Baca Juga:
Menurutnya, salah satu perubahan mendasar yang dibawa PM-AAS adalah mengubah kebiasaan petani dalam mengelola lahan. Selama ini, penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia secara berlebihan telah berdampak terhadap kerusakan ekosistem pertanian.

Akibatnya, mikroorganisme tanah tidak lagi berfungsi optimal, musuh alami hama semakin berkurang, dan struktur tanah mengalami kerusakan.

"Melalui PM-AAS, kita menggugah kesadaran petani untuk mengembalikan ekosistem lahan pertanian seperti yang diharapkan. Harus ada keseimbangan ekologi agar predator atau musuh alami dapat hidup dan membantu memangsa hama yang berkembang di lahan pertanian," jelas Heri.

Dalam penerapannya, PM-AAS memberikan perhatian khusus pada penggunaan pupuk organik serta pengendalian organisme pengganggu tanaman melalui Agensia Pengendali Hayati (APH).

Baca Juga:
Menariknya, APH tersebut dapat diproduksi sendiri oleh kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), kemudian dimanfaatkan secara bersama oleh seluruh anggota. Dengan demikian, petani tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan sarana pengendalian hama secara mandiri.

Heri menilai, pendekatan ini memberikan sejumlah keuntungan bagi petani. Selain menekan biaya usaha tani, teknologi PM-AAS relatif mudah diterapkan. Pertumbuhan tanaman juga dinilai lebih baik, tidak mudah mengalami stres, dengan populasi tanaman yang padat dan perkembangan bulir yang menjanjikan.

Pengendalian hama dan penyakit pun dilakukan melalui pendekatan hayati dengan memanfaatkan APH yang telah dikembangkan kelompok tani.

Dari sisi produktivitas, Heri menyebut hasil panen yang selama ini menjadi capaian petani berkisar 6,9 hingga 7 ton per hektare. Dengan performa pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang terlihat saat ini, ia optimistis penerapan PM-AAS berpeluang meningkatkan hasil panen hingga lebih dari 10 ton per hektare.

Baca Juga:
"Target kita tentu lebih dari 10 ton per hektare. Kalau melihat pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi saat ini, performanya sangat bagus. Mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan harapan petani," ungkapnya.

Lebih dari sekadar mengejar peningkatan produksi, penerapan PM-AAS di dpesa Betet menjadi momentum membangun kembali kesadaran petani tentang pentingnya pertanian yang sehat dan berkelanjutan.

Sebab, produktivitas tinggi tidak cukup hanya ditopang oleh penggunaan input pertanian secara masif. Kesuburan tanah, keberadaan mikroorganisme, keseimbangan ekosistem, serta kemampuan petani mengelola organisme pengganggu tanaman merupakan bagian penting dari keberlanjutan usaha tani.

Melalui pendampingan penyuluh dan partisipasi aktif kelompok tani, PM-AAS diharapkan menjadi model transformasi pertanian modern yang tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menekan biaya usaha tani dan memulihkan kesehatan lingkungan persawahan.

Baca Juga:
Dari desa Betet, Nganjuk, sebuah pesan penting mengemuka: pertanian modern bukan semata-mata soal teknologi dan peningkatan produksi, melainkan juga bagaimana mengembalikan keseimbangan alam agar petani semakin sejahtera dan pertanian Indonesia semakin kuat.

Editor
: James Pardede
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
OTT Bupati Nganjuk Wujud Sinergitas KPK dan Polri yang Pertama Kali
Memalukan, Lagi-Lagi Pejabat Daerah Terjaring OTT KPK
Menggunakan Motor Trail Tinjau ke Lokasi Tanah Longsor, Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jatim
Mampukah Polisi mengungkap Pelaku Peledakan
Puluhan Gereja Jawa Timur Dijaga Pihak Kepolisian
Jokowi Bagi-bagi 852 Unit Traktor Dan 377 Pompa Air Ke Petani
 
Komentar
 
Berita Terbaru