Jumat, 25 September 2026 WIB

65 Hari Menuju Panen, Bu Estu Kenalkan GP-65 Bogor: “Mari Sejahterakan Petani”

Admin - Rabu, 23 September 2026 20:58 WIB
65 Hari Menuju Panen, Bu Estu Kenalkan GP-65 Bogor: “Mari Sejahterakan Petani”
Matatelinga/istimewa
Jombang : Enam puluh lima hari bukan sekadar hitungan waktu menuju panen. Di balik angka itu ada harapan untuk mempercepat siklus tanam, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya membuka jalan bagi kesejahteraan petani.

MATATELINGA -Jombang : Enam puluh lima hari bukan sekadar hitungan waktu menuju panen. Di balik angka itu ada harapan untuk mempercepat siklus tanam, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya membuka jalan bagi kesejahteraan petani.


Pesan itulah yang mengemuka dalam program Bincang Tipis-Tipis Erman Tale Daulay bersama Sadarestuwati, akrab disapa Bu Estu, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, yang juga telah lama bersinggungan dengan dunia perbenihan dan pertanian. Dengan kata lain, semangat membangun pertanian dalam diri Bu Estu merupakan titisan orangtuanya.


Bu Estu memperkenalkan GP-65 Bogor atau MSP-65, varietas padi genjah yang memiliki umur sekitar 65–80 hari setelah tanam, bergantung pada kondisi dan ketinggian wilayah. Bagi Bu Estu, kehadiran varietas ini bukan sekadar menghadirkan pilihan baru bagi petani, tetapi juga menunjukkan bahwa kekayaan padi lokal Indonesia menyimpan potensi besar untuk terus dikembangkan.

Baca Juga:


Menariknya, nama GP-65 Bogor memiliki cerita di baliknya. "Bogor" merujuk pada tempat berlangsungnya persilangan atau "pernikahan" varietas padi lokal yang kemudian melahirkan GP-65 Bogor atau MSP-65.


Varietas tersebut merupakan hasil pemuliaan atau breeding oleh Mangontang Siahaan. Sementara MSP merupakan kependekan dari "Mari Sejahterakan Petani", sebuah pesan yang melekat pada semangat pengembangan varietas tersebut.


"GP-65 Bogor atau MSP-65 ini adalah persilangan padi lokal Bogor. Padi lokal yang disilangkan hingga kemudian lahirlah varietas MSP-65 atau GP-65 Bogor," ujar Bu Estu.


Menurutnya, cerita GP-65 Bogor sekaligus menunjukkan pentingnya kembali melihat kekayaan varietas lokal Indonesia. Selama ini petani telah mengenal berbagai varietas seperti Ciherang dan sejumlah Inpari. Di berbagai daerah juga terdapat varietas lokal dengan karakter khas, mulai dari rasa hingga aroma.

Baca Juga:


Bagi Bu Estu, varietas lokal tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai kekayaan genetik yang hanya dikenang. Ia dapat menjadi bahan penting bagi pemulia untuk menghasilkan varietas baru yang memiliki karakter lebih unggul.


Varietas dengan cita rasa atau aroma yang baik, misalnya, dapat disilangkan dengan varietas yang mempunyai ketahanan lebih baik terhadap penyakit. Dengan begitu, karakter unggul dari padi lokal dapat dipertahankan sekaligus diperkuat."Sudah saatnya dan sudah seharusnya pemerintah mengembangkan varietas-varietas lokal," tegasnya.
GP-65 Bogor: Genjah, tetapi Bukan Berarti Rendah Produktivitas


Salahsatu hal yang menjadi perhatian Bu Estu adalah anggapan bahwa padi berumur pendek atau genjah otomatis menghasilkan produksi yang rendah.Pengalaman penanaman GP-65 Bogor yang dilakukannya justru memberikan gambaran berbeda. Di lahan Bareng, Jombang, padi tersebut ditanam dalam kondisi yang relatif kering dan tanpa hujan, dengan dukungan sumur pompa dan pengairan menggunakan drone.


Hasilnya, produksi disebut mampu mencapai sekitar 9 ton per hektare, sementara pada kondisi tertentu potensinya dapat mencapai sekitar 10 ton per hektare.
Dalam pengukuran ubinan, Bu Estu menyebut hasil bahkan mencapai 12,54 ton per hektare.

Baca Juga:


Menurutnya, kunci produktivitas bukan semata-mata pada varietas. Cara budidaya juga menentukan.
Bibit GP-65 Bogor, kata dia, harus dipindahkan dalam kondisi masih muda, sekitar 8–13 hari, agar pembentukan anakan tetap optimal. Pengolahan tanah, pemupukan, pengairan dan pemeliharaan pun harus dilakukan tepat waktu."Padi genjah tidak boleh dipindah tanam dalam umur yang sudah lebih dari 13 hari untuk menjaga agar anakannya tetap banyak," jelasnya.


Bu Estu kemudian memberikan analogi sederhana. Tanaman, katanya, juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi tepat waktu.


"Kalau kita makan telat, perut kita sakit. Tanaman juga begitu. Pada saat tanaman makan, ya harus dikasih," ujarnya.


Pesannya sederhana, tetapi penting: petani harus semakin dekat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bertani bukan hanya soal menanam dan menunggu panen, melainkan mengelola setiap tahapan secara tepat agar potensi varietas benar-benar keluar.

Baca Juga:


65 Hari dan Peluang IP 300


Umur panen yang relatif singkat membuka pembicaraan lebih jauh tentang peningkatan Indeks Pertanaman (IP).Jika satu siklus budidaya dapat dipersingkat, peluang meningkatkan frekuensi tanam dalam setahun juga semakin terbuka. Dalam konteks itulah Bu Estu melihat varietas genjah seperti GP-65 Bogor memiliki relevansi dengan upaya mendorong IP 300 bahkan 400.Namun, ia mengingatkan bahwa mengejar frekuensi tanam tidak boleh mengorbankan kesehatan tanah.


"Tanah ini juga butuh istirahat, butuh bernapas. Kalau terus-menerus, tanahnya pasti sakit karena jenuh dan oksigennya kurang," katanya.
Artinya, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan pengelolaan lahan yang berkelanjutan.


Bagi Bu Estu, ketika produktivitas meningkat dan indeks pertanaman dapat didorong secara sehat, maka cita-cita swasembada pangan berkelanjutan semakin terbuka.

Baca Juga:


"Dengan mencapai IP 300 saja, artinya kita benar-benar bisa memenuhi kebutuhan rakyat. Kita bisa ekspor," ujarnya.


Di titik itulah angka 65 hari mendapatkan makna yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang padi yang lebih cepat dipanen. Ia berbicara tentang bagaimana waktu di sawah dapat dikelola lebih efisien, lahan dapat dimanfaatkan secara optimal, teknologi diterapkan dengan tepat, dan inovasi pemuliaan tanaman diarahkan pada kepentingan petani.
Dan dari Bogor, lahirlah GP-65 Bogor atau MSP-65—hasil "pernikahan" varietas padi lokal yang dibawa dengan satu pesan sederhana: MSP (Mari Sejahterakan Petani)!!

Baca Juga:
 
Berita Terbaru