Matatelinga - Jakarta, Dunia pendidikan dinilai belum aman. Komisioner
KPAI Susanto mengatakan, pihaknya banyak mendapat laporan adanya
kekerasan di lingkungan sekolah. Berbagai variasi kekerasan kerap
terjadi, bahkan di level playgroup dan taman kanak-kanak (TK).
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
merasa sangat prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan kepada anak di
lingkungan sekolah.
"Kekerasannya
mulai dari mencubit, memukul, mencoret, mendiskreditkan, bahkan juga
sampai kekerasan fisik yang mengakibatkan meninggal dunia. Ini hemat
saya bagian dari tanda-tanda bahwa dunia pendidikan kita belum aman,"
kata Susanto.
Pernyataan itu diungkapkan Susanto saat berbincang
dengan detikcom di Kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Selasa
(15/7/2014) sore. Ia merupakan Komisioner KPAI yang menangani bidang
pendidikan.
Kata Susanto, KPAI terus memantau beragam kasus
kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Apalagi baru-baru ini
telah terjadi kekerasan yang mengakibatkan tewasnya 2 siswa SMA 3
Setiabudi, Jakarta Selatan, saat ikut kegiatan ekstra kurikuler pecinta
alam di Tangkuban Perahu, Jawa Barat.
Mencegah maraknya kasus
kekerasan di lingkungan sekolah, KPAI rencananya akan memanggil Dinas
Pendidikan DKI Jakarta besok, Rabu (16/7/2014) pukul 13.00 WIB ke kantor
KPAI. Lembaga itu dinilai turut bertanggung jawab.
"Mengingat
kasus kekerasan pada anak di Jakarta banyak, KPAI ingin menggali apa
yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh dinas pendidikan terkait
kasus kekerasan di lingkungan pendidikan tersebut. Karena dinas
pendidikan memiliki tanggungjawab untk itu," imbuh Susanto.
"Kita
memanggil dinas pendidikan adalah upaya preventif, agar kasus-kasus
(kekerasan) serupa yang sebelumnya terjadi tidak terulang kembali atau
menjadi lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Biar dinas
pendidikan ada intervensi khusus baik dari sisi penanganan kasusnya,
dari sisi hal lain tentu. Kemudian dari sisi preventifnya," sambungnya.
(Dtc/Mt)