Selasa, 08 September 2026 WIB
Imigran Rohingya

Umat Buddha di Myanmar Pembenci Warga Muslim Rohingya

Admin - Jumat, 22 Mei 2015 08:31 WIB
Umat Buddha di Myanmar Pembenci Warga Muslim Rohingya
google
Biksu Wirathu

Matatelinga.com, Ribuan warga muslim Rohingya dalam beberapa pekan terakhir terpaksa diselamatkan nelayan Aceh ketika mereka terapung-apung di lautan dalam kondisi mengenaskan. Badan mereka kurus-kurus dan kelaparan.

Para imigran asal Myanmar itu terpaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik sektarian di negerinya. Mayoritas umat Buddha di Myanmar membenci warga muslim Rohingya. Konflik yang sudah berlangsung sejak 2012 itu sudah menewaskan ribuan muslim Rohingya, termasuk kaum wanita dan anak-anak.

Kebencian warga Buddha itu bersumber dari gerakan antimuslim dikenal dengan nama 969. 

Selebaran, stiker, DVD, dan Internet digunakan untuk menyebarkan kebencian terhadap minoritas muslim di negara itu, seperti dilansir surat kabar The Sydney Morning Herald dan dikutip laman merdeka.com,Jumat (22/4/2013). Stiker 969 makin banyak ditempel di jendela-jendela toko, taksi, dan rumah-rumah di dua kota besar, yakni Yangon dan Mandalay.

Gerakan 969 ini dipimpin oleh biksu-biksu radikal. Salah satunya adalah Wiseitta Biwuntha, sering disapa Yang Mulia Ashin Wirathu. Biksu yang divonis seperempat abad penjara ini karena menyulut kerusuhan antimuslim dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik setelah mendapat amnesti.

Wiratu mengklaim dirinya sebagai Bin Ladin asal Burma ini menyebut muslim sebagai musuh. Dia juga menuding muslim Myanmar sumber kejahatan. "Tugas saya adalah menyebarkan misi ini," ujarnya. "Saya hanya bekerja bagi orang-orang percaya terhadap ajaran Buddha." 

"Gerakan anti muslim terus tumbuh dan pemerintah tidak menghentikannya," kata Myo Win, seorang guru muslim. Dia juga menyebut 969 sama dengan kelompok ekstrem Ku Klux Klan di Amerika Serikat.

Logo 969 kini paling dikenal di Myanmar. Logo itu berbentuk lingkaran cakra dengan empat singa Asia di bagian tengahnya menggambarkan keturunan Budha Ashoka. Sticker berlogo 969 ini kerap dibagikan gratis saat ceramah-ceramah. Sticker ini juga ditempel di berbagai tempat dan benda-benda seperti pintu toko, pintu rumah, taksi, kios cinderamata.

Umat Buddha dan segala yang mendukung 969 beralasan Wirathu hanya bermaksud melindungi dan menyebarkan agama negara, Budhha. Wirathu mulai menyebarkan gerakan 969 pada 2001 ketika Taliban menghancurkan patung Budhha di Bamiyan, Afganistan. Dua tahun kemudian Wirathu ditangkap dan divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan pamflet anti muslim yang memicu kerusuhan hingga menewaskan sepuluh muslim.

Pada 2011 dia dibebaskan ketika ada amnesti bagi para tahanan politik. Sejak tahun lalu gerakan 969 makin meluas di Myanmar dengan tujuan memboikot muslim di seluruh negeri.

Gerakan 969 merupakan tandingan dari angka 786 yang menjadi simbol umat muslim Myanmar. Angka 786 sering terlihat di rumah-rumah dan toko-toko umat muslim. Angka itu menjadi simbol berkah bagi umat Islam. Angka 786 itu diartikan "Bismillahirrahmanirrahim" atau "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyanyang". Di Myanmar yang selalu mengagumi angka keramat semacam itu, umat Buddha menilai jumlah angka 786 itu berarti rencana dominasi muslim di abad ke-21.

Sebagian kalangan Buddha meyakini arti kebenaran angka itu. Tradisi dan keyakinan muslim di sana melarang mereka mengunjungi restoran Buddha. Umat muslim juga mendominasi sektor usaha kecil dan menengah (UKM).

Wirathu mengatakan dia ingin gerakan biksu radikal 969 dipimpinnya bisa melindungi warga Buddha Myanmar dari minoritas muslim.

Wirathu juga menginginkan berakhirnya dominasi muslim pada perekonomian Myanmar. 

"Mereka memperkosa perempuan Buddha dan menggunakan kekayaannya memikat kaum hawa dalam pernikahan lalu memenjarakan di rumah. Sekarang bermain di partai politik. Jika seperti ini terus Myanmar akan menjadi Afghanistan kedua," ujar Wirathu.

 

(Fit)

SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru