Minggu, 27 September 2026 WIB
Ekspor

Semester I Ekspor Perhiasan ke Swiss Capai USD1,55 Milyar

Admin - Senin, 18 Juli 2016 16:17 WIB
Semester I Ekspor Perhiasan ke Swiss Capai USD1,55 Milyar
google
Ilustrasi
Matatelinga.com, Selama semester I-2016 ekspor perhiasan Jawa Timur (Jatim) ke Swiss mencapai USD1,55 miliar atau 15,90 persen dari total ekspor nonmigas sebesar USD10,180 miliar. Disusul ekspor ke Jepang sebesar USD380 juta. 

Swiss, Jepang dan Amerika Serikat saat ini masih menjadi Negara utama tujuan ekspor perhiasan Jatim. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono mengatakan, negara-negara tersebut tertarik dengan perhiasan dari Jatim karena modelnya yang selalu baru, harga bersaing, serta kualitasnya cukup bagus. 

Selain perhiasan, kayu dan barang dari kayu menempati posisi kedua dengan nilai USD107,40 juta. Disusul ikan dan udang USD102,26 juta, lemak dan minyak hewan/nabati USD88,44 juta, serta kertas/karton USD71,77 juta, alas kaki, bahan kimia organik, tembaga, berbagai produk kimia serta produk penerangan rumah. ”Komoditas utama dari kelompok perhiasan adalah perhiasan logam mulia yang pada Juni senilai USD399,41 juta. 

Realisasi ini turun 14,11 persen dibanding bulan sebelumnya,” katanya. Sementara ekspor di kelompok kayu dan barang dari kayu komoditi utamanya adalah kayu termasuk strip dan frieze dari non konifer untuk lantai papan senilai USD37,45 juta, yang pada Juni naik 21,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara pada kelompok ikan dan udang komoditi utamanya adalah udang vanamei beku senilai USD37,94 juta atau naik 28,99 persen dibanding Mei 2016. Seperti dilansir dari laman okezone.com

Sedangkan untuk negara ASEAN tujuan ekspor komoditi nonmigas utama adalah Singapura dengan nilai ekspor USD92,74 juta, diikuti Malaysia USD86,38 juta, dan Thailand USD29,52 juta. Sementara untuk negara Uni Eropa tujuan utama ekspor adalah Belanda dengan nilai USD44,87 juta atau naik 40,80 persen dibanding Mei, dan Jerman senilai USD27,26 juta serta Inggris senilai USD20,51 juta. Sementara itu, Gubernur Jatim, Soekarwo menyoroti rendahnya ekspor ke Selandia Baru. Sejak 2011 sampai 2015, ekspor ke negara tersebut selalu defisit. Namun khusus di 2016, sampai pertengahan tahun ini mulai ada peningkatan. 

Sejak Januari hingga pertengahan Juni nilai ekspornya mencapai Rp160,26 miliar. Sementara impor dari Selandia Baru, hanya berada di angka Rp34,60 miliar saja. ”Dengan begitu, surplus perdagangan Jatim dengan Selandia Baru mencapai Rp125,66 miliar. Ini catatan yang sangat luar biasa, karena belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya. Naiknya ekspor Jatim menuju Selandia Baru, diakui pria yang akrab disapa Pakde Karwo tersebut, turut mendongkrak share total ekspor nonmigas Jatim sebesar 0,06 persen. 

Dengan tiga komoditas utama adalah barang olahan dari kayu, kertas karton, dan produk industri farmasi. Sementara share nilai impor nonmigas Jatim dari Selandia Baru per 18 Juni 2016, hanya mencapai 0,04 persen. Dengan komoditas utama yang didatangkan, meliputi produk sisa industri makanan dan perekat enzim. ”Saya optimistis, ekspor Jatim ke Selandia Baru akan terus meningkat di kemudian hari. Bahkan, surplus ekspor, saya harapkan bisa menjadi dua kali lipat dibandingkan capaian sekarang,” ucapnya.



(Fit)
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru