Sabtu, 03 Oktober 2026 WIB

Dua Bulan Laporan Kasus Peyekapan dan Pencurian Mahasiswi Belum Terungkap

- Jumat, 31 Januari 2020 19:00 WIB
Dua Bulan Laporan Kasus Peyekapan dan Pencurian Mahasiswi Belum Terungkap
Mtc/Ist
MATATELINGA, Medan:  Bila Anda seorang diri dirumah, jangan sekali kali membuka rumah dengan ketagangan orang tak dikenal. Seperti yang dialami korban beriinisial DS ,24, Mahsiswi asal Kota Medan, yang menjadi korban pencurian dengan kekerasan. 





Aksi kejahtan tersebut terjadi pada 22 November 2019 lalu, hingga kini belum menemui titik terang,oleh pihak kepolisian Polsek Medan Sunggal.

Korban dihubungi Wartawan Jumat (31/1/2020), mengatakan,bermula kejadian nahas yang dialaminya di dalam rumahnya sendiri. Korban merupakan warga komplek perumahan di Jalan Balam, Kecamatan Medan Sunggal, mengatakan pencurian yang dilakukan para pelaku bermodus minta sumbangan.

"Jadi sebelum kejadian itu, salah satu komplotan pencuri datang ke rumahnya sebelum Zuhur. Pria yang datang bermata Juling dengan kemeja rapi seperti remaja masjid. Saat itu dia meminta sumbangan atas nama mesjid," sebutnya.

Jadi karena memang saat itu tidak ada uang, sebut korban, dirinya pun tidak memberikan uang kepada pemuda yang meminta sumbangan tersebut.





"Saya tidak berikan, karena memang belum dikirim sama orang tua uang, waktu itu dan si cowok (pelaku)  ini pas saya bilang tidak ada uang,  masih baik- baik aja dan dia pergi," akunya.

Saya kira sudah selesai, sekitar pukul 16.00 WIB, rumahnya didatangi dua orang yang kembali meminta sumbangan, kali ini berperawakan lebih  tua dari pemuda sebelumnya.

"Karena saya mikir kesopanan dalam menolak sumbangan, saya buka dikit pintunya. Mereka (pelaku) lalu bertanya 'tidak ada rupanya orang tua di rumah?" Agak lama saya jawab, terus saya bilang tidak ada," sebutnya menirukan ucapan pelaku.

Tak menyangka, mendengar ucapan dari korban, aksi keji para pelaku pun dimulai. Setelah menjawab pertanyaan kedua pemuda tersebut, pintu rumah langsung didorong mereka.

"Setelah didorong, saya dijatuhkan ke lantai. Saya melihat yang minta sumbangan sebelumnya kembali datang dan tiba-tiba masuk ke rumah. Jadi total jumlah pelaku tiga orang," akunya.

Tidak sampai disitu aksi keji para pelaku, sambung DS, dirinya pun dibekap menggunakan kain yang jorong namun tidak ada obat bius.

"Awalnya saya menjerit. Namun teriakan saya tidak ada yang dengar. Satu dari ketiga pelaku mengambil lakban hitam yang sudah mereka siapkan. Tangan, mulut, dan kaki saya dilakban mereka," sebut korban lagi.






Dalam kejadian tersebut, pelaku juga mengancam korban agar tidak menjerit.

"Saya diancam jangan menjerit, kalau tidak ia (pelaku) akan menusuk saya. Karena posisi mata saya dilakban, saya tidak tau senjata apa yang dibawa para pelaku ini. Saya kemudian dipindahkan ke ruang tamu. Sementara dua orang pelaku menggeledah rumah. Satu lagi berjaga sembari mengumpulkan handphone, kuncimotor, dan STNK  sepeda motor Honda Scoppy," akunya.

Jadi karena di rumah memang tidak ada emas, uang, lanjut DS, para pelaku seperti kesal dan menodong sesuatu ke dirinya agar memberitahu di mana uang dan emas di simpan.

"Kebetulan saat itu datang paket dari JNE mengantarkan kiriman paket untuk saya. Saat itu saya langsung diseret ke lantai 2, sementara paket kiriman JNE diambil pelaku itu. Pas di atas saya mau dipukul pakai besi karena saya melawan. Terus saya dimasukkan ke dalam kamar mandi dan salah satu dari mereka hampir melakukan hal tak senonoh sama saya, tapi kawannya langsung suruh dia ke bawah," ujar DS.

Setelah itu, karena tidak kunjung memberi kabar, satu orang penjaga DS panik dan langsung  turun ke bawah.





" Pas saya ditinggal di kamar mandi. Tidak lama, saya dengar suara motor dihidupin. Jadi  saya lari ke bawah berharap ada yang menghadang mereka. Rupanya tidak ada. Saya keluar dan lari ke bawah dengan keadaan tangan masih terikat lakban. Lalu saya ditolong karyawan dekat rumahnya tinggal yang  selanjutnya membukan lakban yang  mengikat tangan saya. Satpam yang  jaga di situ pas kebetulan pas  baru masuk dan dia tidak  tau harus berbuat apa. Ngejar pun sekedar lewat komplek tidak sampai ke jalan," kata DS.

Akibat peristiwa tersebut DS pun membuat laporan ke Polsek Medan Sunggal saat itu juga, dengan nomor laporan STTLP/1880/ K/XI/2019/SPKT.  

Dalam laporan DS mengalami kerugian yang ditaksir Rp20 juta karena dia kehilangan Laptop, Sepeda Motor hingga Hp.

Namun hingga dua bulan lebih berlalu, DS harus gigit jari, pelaku pencurian yang disertai tindakan kekerasan itu belum tertangkap, sebutnya.
Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru