Senin, 31 Agustus 2026 WIB

18 Tahun Kebersamaan, JAPFA Berperan Dukung Peningkatan Kualitas Gizi dan Kesehatan Anak Indonesia

James Pardede - Senin, 31 Agustus 2026 17:45 WIB
18 Tahun Kebersamaan, JAPFA Berperan Dukung Peningkatan Kualitas Gizi dan Kesehatan Anak Indonesia
Matatelinga/Istimewa
Peringatan Hari Anak Nasional Indonesia di Medan Sumatera Utara menjadi momentum agar kita semakin menyayangi anak dan memperhatikan tumbuh kembang anak.

MATATELINGA - BAGAIMANA rasanya membesarkan anak sejak dalam kandungan sampai akhirnya menginjak usia 18 tahun. Kalau berdasar pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Naskah telah dikonsolidasikan dengan UU No. 35 Tahun 2014, UU No. 17 Tahun 2016, UU No. 1 Tahun 2023, dan UU No. 1 Tahun 2026) disampaikan bahwa kategori anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Artinya, orang tua atau orang dewasa yang merawat seseorang yang dikategorikan anak memiliki tanggungjawab yang tidak mudah.

Karena menurut undang-undang ini, seperti dituliskan dalam Bab III tentang Hak dan Kewajiban Anak, di mana dalam Pasal 4 disampaikan "Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi".

Bagi orang tua atau peran seorang ibu yang paling dekat dengan tumbuh kembang anak pasti punya caranya masing-masing dalam mengawal keterpenuhan sumber gizi, protein, vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh terutama dalam masa pertumbuhan.

Baca Juga:
Seperti pengakuan seorang ibu di Medan yang juga bekerja, Jerniwanti Posmauli (42 tahun) bahwa dalam pemenuhan gizi dan vitamin 3 anaknya, ia banyak belajar sambil berbuat. Soal urusan masak, ia sudah terbiasa sejak masih usia sekolah membantu orang tuanya memasak.

"Kadang-kadang, dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan kecepatan, simpel dan pemenuhan gizinya seimbang, saya memilih makanan beku seperti bakso, nugget atau ayam beku siap dimasak," paparnya.

Pada awalnya, lanjut Jerniwanti sebelum mengonsumsi makanan beku, berselancar di dunia maya atau bertanya kepada teman yang sudah berpengalaman, apakah makanan beku aman untuk dikonsumsi. Setelah mendapatkan penjelasan yang valid, barulah ia memberanikan diri untuk membeli dan menyimpannya di dalam lemari es sebagai persediaan di saat yang sangat membutuhkan kecepatan.

"Anak-anak pergi ke sekolah juga selalu dibekali dengan makan siang. Walaupun sesungguhnya, sekolah anak saya sudah menyiapkan makanan bergizi gratis (MBG), tapi saya tetap menambah asupan kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang anak," tandasnya,

Baca Juga:
Pentingnya pemenuhan gizi anak, bagi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) yang sudah menapaki perjalanan 18 tahun JAPFA for Kids, termasuk implementasi program di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah beberapa waktu lalu.

Bayangkan kalau JAPFA menyahuti kerinduan jutaan orang tua dan anak Indonesia untuk mendapatkan edukasi terkait pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi anak agar Indonesia bisa mewujudkan generasi cerdas dan siap bersaing di pasar global.

Refleksi perjalanan JAPFA for Kids selama 18 tahun dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak menjadi satu momentum yang sangat penting dalam meletakkan pondasi kebersamaan kita dalam mewujudkan anak Indonesia sehat, cerdas dan kuat.

Gizi Anak Indonesia

Baca Juga:
Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya mengatakan bahwa selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.

"Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat," paparnya.

Tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.

Baca Juga:
Hingga tahun 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.

"Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten," ujar Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA.

Apa yang dilakukan JAPFA dalam mendukung pemenuhan gizi untuk tumbuh kembang anak adalah bagian penting dari perjalanan negeri ini mencetak generasi cerdas, sehat dan menjadi investasi masa depan.

Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dan swasta terutama dalam pemenuhan gizi anak dan mengurangi angka stunting di Indonesia. Tak hanya berkolaborasi dengan pihak swasta, pemerintah dan perusahan juga bisa membangun kolaborasi dengan kalangan akademisi dan perguruan tinggi.

Baca Juga:
Guru Besar Universitas Sari Mutiara Indonesia Prof. Ivan Elisabeth Purba dalam sebuah kesempatan menyampaikan bahwa kalangan dunia usaha bisa juga bersinergi dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi.

"Kampus kita misalnya, yang memiliki program studi yang berkaitan dengan dunia kesehatan, seperti jurusan gizi, keperawatan, kebidanan dan jurusan lainnya, sangat terbuka untuk dunia usaha dalam memberikan masukan terutama dalam hal data dan informasi terkait anak kurang gizi dan upaya pemenuhan gizi anak melalui edukasi yang melibatkan kalangan akademisi," tandasnya.

Lebih lanjut Ivan Elisabeth Purba yang juga Rektor Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia menyampaikan bahwa data anak penderita gizi buruk antara pemerintah dan pihak swasta pasti berbeda. Kalau kalangan akademisi yang menggandeng dunia usaha misalnya, melakukan sebuah penelitian dalam menjaring anak-anak stunting di 33 Kecamatan di Kota Medan bukan perkara mudah.

"Karena, banyak juga orang tua dari anak-anak penderita stunting atau penderita gizi buruk bungkam dan tak mau menginformasikannya ke petugas kesehatatn, karena dianggap aib keluarga," papatnya.

Baca Juga:
Padahal, kalau masyarakat atau sebuah keluarga mengakui bahwa di tengah-tengah keluarga mereka ada seseorang yang mengalami atau terindikasi gizi buruk, maka pemerintah akan cepat merespon, Apalagi belakangan ini, pemerintah sedang giat-giatnya melakukan Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas. Salah satu tujuannya adalah memastikan warga masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dari pemerintah.

"Tugas kita bersama saat ini adalah bagaimana agar masyarakat yang merasa malu punya anak menderita gizi buruk, memiliki semangat dan kepedulian bahwa masa depan anaknya masih panjang. Dan, untuk mewujudkan masa depannya yang lebih baik, orang tuanya harus pro aktif dan jujur dalam memberikan keterangan terutama terkait anaknya yang stunting," tandasnya.

Menyikapi gagasan Prof Ivan Elisabeth Purba terkait kolaborasi antara dunia usaha dengan perguruan tinggi sepertinya bukan hal baru bagi JAPFA yang sudah menjalani kebersamaan dalam pemenuhan gizi anak selama 18 tahun,

Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak.Tidak hanya pemerintah, swasta, guru, perguruan tinggi, dunia usaha dan institusi lainnya. Sekarang saatnya menanggalkan ke-egoan masing-masing. Perjalanan 18 tahun JAPFA dalam mendukung tumbuh kembang anak, mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, protein dan vitamin, semua elemen saat ini harus bahu membahu dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,

Baca Juga:

Baca Juga:

Editor
: Admin
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Launching Penyalaan Pemasangan  Listrik Gratis untuk 7 Rumah Warga Kurang Mampu
Jaga Kelestarian Alam & Lingkungan, Bupati Buka Festival Sungai Asahan
Divonis 2 Tahun Penjara, Thomas WN AS Bukan Penentu Pemenang Lelang Perkara Navayo
Kekeliruan Hakim Vonis Leonardi 2,5 Tahun Penjara Berdasarkan Kewajiban Putusan Arbitrase
Polres Labuhanbatu Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H
Gatsu Comonity Rayakan Ulangtahun ke-68 Tokoh Masyarakat Labuhanbatu Lintas Etnis Sujian
 
Komentar
 
Berita Terbaru