MATATELINGA, Jakarta: Warga terdampak
gempa bumi 6,9 Skala Richter (SR) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat,
sampai sekarang tetap mengharapkan adanya bantuan terpal dan selimut
untuk beristirahat pada malam hari.
Berdasarkan data relawan LSM
Garda Cakra Indonesia (GCI) menyebutkan kebutuhan yang diminta para
pengungsi masih pada terpal dan selimut.
Seperti Desa Tamansari,
Kecamatan Gunung Dari, Lombok barat: terpal dan selimut, Desa Mekar
Bersatu, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah: terpal dan selimut, Dusun
Kebun Belek Desa Bujak Kec Batukliang butuh beras, terpal/tenda,
selimut, obat-obatan.
Desa Aik Berik Kecamatan Batukliang Utara,
butuh terpal, selimut dan sandang-pangan, Desa Teratak Kecamatan
Batukliang Utara, butuh: terpal dan selimut, serta Desa Aik Berik Barat
Kec. Batukliang Utara, butuh terpal dan selimut.
"Itu data
sementara dari organisasi kami dan masih dicari lokasi lainnya," kata
Ketua Umum LSM Garda Cakra Indonesia, Sonny Yudhawan seperti dikutip
dari Antara, Sabtu (25/8).
Sementara itu, Munawir Haris, warga
Dusun Labuan Pandan, Lombok Timur yang rumahnya sekitar 5 kilometer dari
pusat gempa 6,9 SR pada Minggu (19/8) memohon ada donatur yang membantu
karena pengungsi di daerahnya sudah kritis tempat tinggal.
"Sampai sekarang belum ada juga bantuan terpal. Saat ini kami tengah butuh terpal," katanya.
Sementara
itu, pada MInggu (26/8) dini hari gempa dengan skala 5,5 SR terdeteksi
mengguncang wilayah Lombok. Badan Meteorologi, Klimatologi dan
Geofoisika (BMKG) dalam situs resminya mengumumkan gempa tersebut Gempa
tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Gempa tersebut
terjadi sekitar pukul 01.33 WIB dengan episentrum berada pada 41
kilometer Timur Laut dari Lombok Timur. Titik gempa itu berada di
kedalaman 11km. Belum ada laporan soal dampak dari gempa tersebut.
Bantuan Kemensos dan Rotasi Guru Pulihkan Trauma
Sementara
itu, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita pada Sabtu (25/8) malam
menyatakan kementeriannya telah menyalurkan bantuan sosial tanggap
darurat untuk korban gempa bumi di Pulau Lombok dan Sumbawa senilai
Rp1,25 triliun.
Agus yang tengah melakukan kunjungan kerja ke
Kabupaten Lombok Barat itu menyebutkan bansos triliunan rupiah tersebut
terdiri atas bantuan logistik, santunan ahli waris, uang duka untuk
relawan yang gugur dalam penangganan korban bencana gempa. Selain itu,
santunan paket kebutuhan pokok beras reguler, peralatan dapur keluarga,
bansos Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan nontunai.
"Seluruh
upaya tersebut merupakan perwujudan hadirnya negara dalam memberikan
perlindungan dan jaminan sosial kepada rakyat yang tertimpa bencana,"
kata Agus yang dilantik sebagai Menteri Sosial oleh Presiden Joko Widodo
pada Jumat (24/8), menggantikan Idrus Marham.
Ia mengatajan
sejak gempa mengguncang NTB pada 29 Juli, pihaknya telah melakukan
langkah-langkah tanggap darurat meliputi pemenuhan kebutuhan dasar yang
terdiri atas pemenuhan tempat tinggal sementara, pemenuhan kebutuhan
pangan.
Selain itu, pengerahan tim penanganan terpadu untuk
proses pendampingan dan verifikasi data sampai masa tanggap darurat
berakhir, serta penyerahan santunan bagi ahli waris korban meninggal.
Dalam
memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara, lanjut Agus, telah
terdistribusi sebanyak 1.519 tenda gulung, tenda keluarga, dan tenda
serbaguna. Sementara untuk tambahan bantuan penyediaan shelter, Kemensos
mengaktifkan klaster nasional pengungsian.
Untuk pemenuhan
kebutuhan makanan pemerintah provinsi dapat mengeluarkan cadangan beras
pemerintah hingga 200 ton dan tiap kabupaten dapat mengeluarkan 100 ton
dari gudang Perum Badan Urusan Logistik.
"Kemensos juga
menyalurkan sembako berupa beras dan lauk pauk sebanyak 21.000 paket dan
1.000 paket peralatan dapur keluarga," ujarnya.
Dalam masa
tanggap darurat yang berakhir 25 Agustus, kata dia, pemerintah secara
bertahap menyalurkan santunan ahli waris korban meninggal untuk 563
orang dengan nilai total Rp8,34 miliar.
Selain korban jiwa, Data
Dinas Sosial NTB dan Posko Induk hingga 25 Agustus, tercatat sebanyak
1.116 orang mengalami luka berat/rawat inap, 71.937 rumah rusak dan
417.529 jiwa mengungsi.
"Mereka yang berada di pengungsian
diberikan layanan pemulihan sosial, meliputi layanan dukungan
psikososial, perlindungan sosial berkelanjutan, dan pengerahan taruna
siaga bencana serta pendamping PKH," ucap Agus.
Sementara itu, di
tempat terpisah, Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir
Effendi menyatakan kementeriannya melakukan rotasi terhadap guru-guru
di wilayah terdampak bencana gempa bumi di Lombok guna memulihkan trauma
mereka.
"Untuk memulihkan trauma (trauma healing) ini tidak
hanya pada anak-anak yang menjadi korban bencana, tetapi juga
guru-guru," kata Muhadjir Effendi usai menghadiri wisuda sarjana di
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Malang, Jawa Timur, Sabtu
(25/8).
Untuk guru-guru, katanya, Kemendikbud melakukan rotasi.
Guru-guru yang mengajar di lokasi tidak terdampak gempa bumi
diperbantukan ke lokasi gempa, demikian sebaliknya, guru-guru di lokasi
yang terdampak gempa bumi dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Hanya
saja, lanjutnya, rotasi guru tersebut tiak berlangsung lama, hanya
sementara hingga traumanya hilang. Selain itu, rotasi itu hanya akan
dilakukan di lingkup sekolah yang ada di wilayah NTB.
"[Selanjutnya]
Kami akan lihat dulu, kalau ternyata ada guru yang masih trauma akan
kita alihkan. Sementara cukup guru-guru yang ada di NTB saja," tuturnya.
Pada
kesempatan itu, Muhadjir juga mengapresiasi dan mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak, termasuk guru-guru dari luar NTB yang secara
spontan langsung mengambil tindakan untuk membantu sekolah terdampak
gempa di Lombok. Rata-rata para guru yang berduyun-duyun datang ke NTB
memberi motivasi dan menyalurkan bantuan.
"Mereka spontan saja datang ikut membantu. Memang belum sempat kami koordinasikan," ucapnya.
Menyinggung
sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa tersebut, Muhadjir
mengatakan ada 553 gedung. Jumlah tersebut terdiri dari bangunan Sekolah
Dasar (SD) hingga SMA/SMK.