Matatelinga - Jakarta, Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM realisasi investasi periode Januari-September 2014 mencapai Rp342,7 triliun. Investasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp114,4 triliun. Sementara, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp228,3 triliun. Artinya investasi asing mencapai 66,6 persen dari total nilai investasi.
Dan hasilnya Indonesia masih belum mandiri dalam menentukan nasibnya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari berbagai indikator.
Menurut CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, salah satu indikatornya adalah Indonesia masih bergrantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pokok. "Bukan hanya barang mewah yang masuk, tetapi sekarang termasuk kebutuhan pokok. Itu menunjukkan kita belum merdeka," kata Hary dalam seminar nasional "Pemuda Kreatif, Pahlawan Era Globalisasi" Kamis (11/12/2014).
Seperti diketahui, saat ini Indonesia mengimpor berbagai kebutuhan pokok di antaranya beras, jagung, kedelai, daging sapi, sapi hingga garam. Nilai impor produk pertanian Indonesia pun tak sedikit sepanjang 2013 sebesar USD14,90 miliar.
Selain itu, menurut Hary, ekonomi Indonesia masih bergantung pada investasi asing. Padahal, potensi investor domestik sangat besar. Hary menilai, yang perlu dilakukan adalah mengedukasi investor-investor potensial tersebut.
Hary melihat Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menjadi negara maju, bila negara dikelola dengan benar. Selain memiliki beragam kekayaan seperti tanah subur, kekayaan perut bumi, dan berbagai kekayaan lain, Indonesia juga memiliki populasi yang besar.
"Populasi kita 250 juta penduduk dengan pertumbuhan penduduk 1,2 persen. Diprediksi, 20 tahun mendatang melebihi Amerika Serikat. Artinya kita akan menjadi kekuatan luar biasa," kata HT.
"Soal keadilan sosial, termasuk juga adil dalam akses pendidikan. Akses pendidikan yang baik diperlukan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia," imbuhnya.
(fit/okc)