Matatelinga, adalah bentuk gangguan saraf di otak yang membuat penderitanya sulit berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Masih adanya stigma atau pemahaman yang kurang mengenai autisme membuat penerimaan terhadap penderita autisme sangat kurang. Seperti dilansir laman okezone.com, Jumat (3/4/2015)
Dalam pertemuan dengan Direktur Eksekutif dari lembaga non-profit untuk autisme, Rumah Autis Bekasi, Kamis, 2 April 2015, Mohamad Nelwansyah menjelaskan secara singkat mengenai fakta-fakta seputar autisem yang perlu diketahui masyarakat.
Autisme bisa dipicu masalah lingkungan :Autisme diketahui diakibatkan terutama oleh faktor genetik. Selain faktor genetik, faktor dari lingkungan yang kuat, seperti polusi, juga bisa memicu kelainan gen yang bisa menyebabkan anak terlahir dengan autisme.
"Autisme bisa karena faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan seperti dari infeksi virus, (seperti rubella), polusi lingkungan seperti paparan zat logam berat, dan lainnya. Komunitas binaan dinas sosial di Bandung bahkan pernah menemukan kelahiran anak berkebutuhan khusus di hampir setiap keluarga satu kampung karena ada kecenderungan sanitasi jelek," cerita Nelwansyah.
Autisme lebih sering diderita laki-laki : "Kelainan gen penyebab autisme ditemukan ada pada kromosom Y yang bermasalah. Karena kromosom tersebut mewakili gen kelamin laki-laki, itulah mengapa kebanyakan penderita autisme adalah laki-laki," ungkap Nelwansyah.
Anak dengan autisme tidak pasti ber-IQ tinggi : Ada pemahaman di masyarakat kita bahwa anak dengan autisme pasti memiliki kecerdasan di atas rata-rata orang normal. Nelwansyah mengatakan bahwa cukup sulit mengukur intelegensi penderita autisme karena input dari luar yang mengganggu kemampuan belajarnya.
"Dari pengalaman kita, terlihat bahwa kecenderugan kecerdasan mereka sama saja dengan orang normal, ada yang biasa saja dan ada yang cerdasnya di atas rata-rata. Tapi soal kemampuan belajar, mereka cenderung cepat belajar matematika daripada bahasa," tuturnya.
(Fit)