Sejak 2023, Dr. Wardayani, S.E, M.SiS telah menerima mahasiswa disabilitas selama tiga angkatan. Tahun pertama dan kedua masing-masing lima mahasiswa, dengan sebagian dibiayai pemerintah dan Yayasan, sementara tahun ketiga meningkat menjadi 18 mahasiswa. Proses pembelajaran melibatkan dosen reguler yang didampingi guru dari SLB Pembina, yang membantu menerjemahkan materi sesuai kebutuhan mahasiswa disabilitas.
Meski awalnya kelas dibuat terpisah karena keterbatasan pengalaman dan fasilitas, mulai semester depan Dr. Wardayani, S.E, M.Si menerapkan sistem pembelajaran yang lebih inklusif dalam satu ruangan bersama mahasiswa non-disabilitas.
Baca Juga:
Dr. Wardayani, S.E, M.Si menegaskan bahwa banyak mahasiswa disabilitas menunjukkan prestasi dan kemampuan luar biasa, bahkan mengungguli mahasiswa non-disabilitas. Salah satu mahasiswa, Anggi, pernah bekerja di Alfamart dan kini menjadi penerjemah internal kampus, ungkapnya.
Dr. Wardayani, S.E, M.Si juga menyoroti tantangan lain, yaitu kurangnya dukungan dari sebagian orang tua yang masih ragu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Melalui Sukma Inclusive Center, kampus berharap dapat memberikan edukasi bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi dan masa depan yang sama, selama mereka diberi kesempatan, ujarnya.
Ke depan, Dr Wardayani, S.E, M.Si menargetkan menjadi lingkungan belajar yang benar-benar inklusif dan tidak lagi membatasi akses pendidikan bagi siapa pun.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut,ketua Yayasan Pendidikan Sukma,Syamsul Bahri, S.E., M.M. Staf ahli gubsu bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur & pemberdayaan masyarakat,Ir. Alfi Syanriza. S.T, M.Eng Sc. Kepala LLDIKTI wilayah Sumatera Utara Prof. Saiful Anwar Matondang, Ph.D.ketua tim pembelajaran, kemdiktisaintek, ibu Dewi Wulandari. Mitra kampus, universitas Mikroskil koordinasi. mahasiswa beserta orang tua, dan media.
Baca Juga: