Matatelinga - Washington, Saham-saham merosot di akhir perdagangan, setelah pertemuan penetapan
kebijakan terbaru Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Bank Sentral
mengatakan akan tetap mempertahankan pemangkasan stimulus obligasi
kecuali benar-benar ada kejutan ekonomi yang signifikan.
Pertemuan
komite pengaturan kebijakan moneter, the Federal Reserve, menunjukkan
bahwa beberapa pembuat kebijakan ingin program pembelian aset mereka
tetap dipangkas USD10 miliar.
"Apa pun yang menghambat, akan
membuat ketakutan pada pasar ini. Pasar ini diperdagangkan pada tingkat
yang rapuh, sehingga tidak akan memiliki toleransi yang besar bahkan
untuk berita yang dapat ke arah yang buruk," kata presiden Platinum
Partners, Uri Landesman, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (20/2/2014).
Indeks
Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 89,84 poin atau 0,56 persen
menjadi 16.040,56, indeks The S&P 500 (SPX) turun 12,01 poin atau
0,65 persen menjadi 1.828,75, dan The Nasdaq Composite (IXIC) turun
34,83 poin atau 0,82 persen menjadi 4.237,954.
Data menunjukkan
housing starts AS mencatat penurunan terbesar mereka dalam hampir tiga
tahun pada Januari ini. Indeks Harga Produsen naik 0,2 persen,
memberikan indikasi nyata dalam tekanan inflasi .
Beberapa ekonom
menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal pertama mereka, karena
lemahnya data housing starts. Goldman Sachs memangkas estimasi
pertumbuhan kuartal pertama sebesar sepersepuluh dari 1 persen untuk
tingkat tahunan 1,8 persen. Barclays mengurangi perkiraan sebesar 0,3
persentase poin menjadi tarif 1,9 persen.
Sebanyak 6,96 miliar
lembar saham diperdagangkan di bursa AS, sejalan dengan rata-rata
perdagangan sebesar 7,06 miliar pada Februari.
(Okc/KNIA)