MATATELINGA, Jakarta: Malaysia pernah
menjadi mitra setia China dalam mengembangkan infrastuktur global, tapi
pemerintahan baru kini berjanji untuk meninjau ulang proyek-proyek yang
disokong negeri Tirai Bambu tersebut.
Rezim pemerintah Malaysia
sebelumnya yang dipimpin oleh Najib Razak memperkuatan ikatan dengan
China dengan menandatangani serangkaian proyek-proyek yang didanai
Beijing, termasuk di antaranya pembangunan jalur kereta dan
pelabuhan-pelabuhan baru.
Namun pada pemilihan umum, koalisi
pemerintahan itu secara mengejutkan digulingkan dari kekuasaan oleh
rakyat Malaysia yang muak atas skandal korupsi dan juga meroketnya biaya
hidup.
Para pengritik mengatakan perjanjian dengan China yang
ditandatangani pemerintahan Najib tidak transparan dan dibuat untuk
menutupi utang dari skandal korupsi 1MDB.
Pemerintahan baru
Malaysia yang dipimpin oleh politikus kakap Mahathir Mohamad, berjanji
untuk meninjau ulang perjanjian-perjanjian dengan China yang terlihat
meragukan.
Pemerintah baru juga mempertanyakan status Malaysia
sebagai salah satu mitra Beijing paling kooperatif dalam upaya China
menjadi pemain utama di industri infrastruktur global.
Dalam
program "One Belt, One Road", China punya inisiatif ambisius untuk
menghidupkan kembali Jalur Sutra dengan merancang keterhubungan antara
pelabuhan, jalan raya, dan jalur kereta.
Program ini diluncurkan pada 2013 dan menjadi salah satu kebanggaan presiden Xi Jinping.
Malaysia
bersama sekutu Beijing lainnya, Kamboja, menjadi dua negara yang paling
mendukung poyek ini, sementara di negara lain banyak mengalami
hambatan, mulai dari negosiasi yang berlarut-larut dengan pemerintah
setempat serta kesulitan mendapatkan lahan.
"Di bawah Najib,
Malaysia bergerak cepat untuk menyepakati dan menjalankan proyek-proyek
itu," ujar Murray Hiebert, seorang peneliti senior di Center for
Strategic and International Studies, kepada AFP.
Pada 2008,
investasi dari China hanya 0,8 persen dari total penanaman modal asing,
sementara nilai ini melonjak jadi 14,4 persen pada 2016, demikian data
Institut ISEAS-Yushof Ishak dari Singapura.
Meski demikian,
Hiebert menyatakan dugaan kesepakatan-kesepakatan dengan China itu
dibuat untuk menutup utang proyek 1MDB baru sebatas asumsi.
Najib
dan kroni-kroninya dituduh mengorupsi dana publik dalam kasus 1MDB,
yang membuat publik muak dan kemudian tidak memilihnya kembali menjadi
perdana menteri.
Kegagalan Rencana Beijing?
Kekalahan
Najib sekaligus menjadi penanda kekalahan pertama partai penguasa dalam
enam dekade terakhir. Najib juga kini tengah diperiksa dan bisa
menghadapi hukuman penjara.
Hal ini ditengarai berpotensi membuat rencana Beijing di Malaysia kacau.
Perdana
Menteri Mahathir telah mengumumkan tidak akan meneruskan proyek kereta
cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur dan Singapura karena ingin
mengurangi beban utang Malaysia.
Proyek ini masih dalam tahap
awal dan belum menerima pendanaan sebagai bagian dari proyek "One Belt,
One Road". Namun, perusahaan-perusahaan China diperkirakan akan tetap
membangun sebagian jalur kereta cepat yang menghubungkan provinsi Yunnan
ke Singapura. Jalur itu akan digunakan untuk mengantarkan barang-barang
produksi China yang akan diekspor.
Sementara itu, proyek lainnya
terkait jalur tersebut telah dimulai yaitu yang menghubungkan antara
perbatasan Thailand ke pelabuhan dekat Kuala Lumpur. Proyek East Coast
Rail Link ini senilai US$14 miliar dan telah mendapatkan kucuran dana.
Mahathir mengatakan saat ini perjanjian akan direnegosiasi.
Proyek
lain yang didanai China adalah kawasan industri raksasa serta pelabuhan
di Malaka yang dekat dengan jalur distribusi barang yang penting.
Belum
diketahui proyek-proyek yang akan diubah atau dibatalkan, tapi beberapa
pengamat meyakini bahwa akan ada beberapa yang diputus.
Alex
Holmes, pengamat ekonomi dari Capital Economics, mendukung pembatalan
beberapa proyek tersebut. Ia menyebut posisi Malaysia secara fiskal
lemah dan beberapa proyek itu pun dipertanyakan nilai keekonomisannya.
Ketika coba dikonfirmasi AFP, Menteri Luar Negeri China tidak memberikan respons.