Matatelinga.com, Bicara soal PT Pertamina
Energy Trading Limited (Petral) seperti tidak ada habisnya. Apalagi perusahaan
ini diakui punya reputasi negatif, disebut-sebut dekat dengan mafia migas.
Petral
memiliki tugas melakukan trading alias jual-beli minyak. Lebih tepatnya membeli
minyak dari mana saja untuk dijual ke Pertamina. Petral berkantor di Singapura,
karena itu Semua aktivitas itu dilakukan di negeri singa yang jauh dari
pengawasan Pertamina sebagai induk usaha dan pemerintah. Petral memang didesain
untuk didirikan di Singapura. Sebagai perusahaan Singapura Petral tunduk pada
hukum Singapura.
Nyatanya,
Singapura memanjakan Petral karena laba perusahaan yang sangat besar.
"Paling tidak miliaran per hari. Makanya pemerintah Singapura saja
memanjakan Petral," ujar mantan ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas
Faisal Basri.
Faisal Basri tidak segan menyebut Petral
sebagai maling. "Kalau maling bayar pajak bermanfaat juga tuh
maling," kelakarnya.
Kini
Petral sudah tamat. Pemerintah dan Pertamina membubarkan sekaligus melikuidasi
Petral. Namun yang bikin ramai bukan hanya soal pembubaran Petral tapi
pernyataan Faisal Basri serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Sudirman Said terkait kekuatan mafia migas di balik Petral yang akhirnya
menambah panas hubungan pemerintahan Jokowi dengan Presiden ke-6 Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY).
Faisal
Basri terang-terangan mengungkap gagalnya upaya Dahlan Iskan (saat itu Menteri
BUMN) membubarkan Petral lantaran tak mendapat restu dari atasannya.
Dahlan
Iskan, dalam tulisannya, mengakui adanya pertemuan dengan Presiden SBY dan
beberapa menteri membahas soal Petral dan mafia migas. Pertemuan dan kegagalan
Dahlan itu diceritakan ke Faisal Basri.
Berikut
petikan wawancara merdeka.com dengan Faisal Basri seputar tembok besar yang
menghalangi langkah Dahlan membubarkan Petral.
T: Anda berulang kali cerita
soal Dahlan mencoba bubarkan Petral tapi ada kekuatan besar. Seberapa besar
kekuatan itu mempengaruhi dan menguasai kebijakan pemerintah?
J: Kan
ada langit di atas langit. Itu bukti Pak Dahlan Iskan mau bubarkan Petral
tetapi tidak bisa karena kekuatan besar itu. Berarti diindikasikan ada di atas
Pak Dahlan waktu itu. Pak Dahlan cerita ke saya, setelah dia rencana bubarkan
Petral, habis itu dia diam seribu bahasa karena tidak bisa. Ada langit di atas
langit. Tanya Pak Dahlan lah. Berarti ada atasan dia kan.
T: Anda bilang kekuatan besar
itu adalah bosnya Dahlan Iskan. Apakah itu SBY (saat itu presiden)? Kalau
bukan, siapa yang anda maksud bosnya Dahlan Iskan?
J:
Pokoknya ada langit yang lebih tinggi. Saya tidak mau sebut nama. Yang jelas
masih lingkungan istana.
T: Dahlan Iskan cerita langsung
ke Anda? Bagaimana dia menceritakan ke Anda soal upaya pembubaran petral yang
gagal?
J: Iya
(cerita langsung). Pernah ketemu di Desember 2014, waktu perayaan 10 tahun
Tsunami Aceh. Dia bilang pekerjaan anda berat, saya tidak berhasil.
Mudah-mudahan anda berhasil. Saya kan baru diangkat jadi ketua Tim Reformasi
Tata Kelola Migas. Mungkin pak Dahlan tau. Cerita saja sambil nunggu jalannya
acara saja. Kenapa gagal bubarkan petral. Ya itu pak Dahlan cerita soal ada
langit di atas langit. Itu saja.
T: Kalau dari tulisan Dahlan
Iskan, SBY justru tidak menghalangi pembubaran Petral. Bahkan SBY bilang kalau
ada yang mengaku-ngaku backing istana abaikan saja. Apakah Dahlan cerita soal
ini?
J: Cerita
kok. Tapi itu tadi ada langit di atas langit. Jadi selalu gagal bubarkan Petral.
Yang saya dengar pak Dahlan tidak berhasil. Jadi dia tidak lanjutkan. Pak
Dahlan tiga kali ke istana sama Bu Karen (Dirut Pertamina) kenapa selalu gagal.
T: SBY bilang tidak pernah ada
surat yang mengajukan pembubaran Petral. Berarti Dahlan juga tidak menyampaikan
itu. Apakah Dahlan cerita soal ini?
J: Pak
Dahlan tidak menyiapkan surat mungkin. Karena mungkin (atasannya) tidak
komitmen dalam pemberantasan mafia migas. Kemarin orang Demokrat bilang terlalu
kecil buat Pak SBY urusi cucunya Pertamina. Lah buktinya Bu Karen dan Pak
Dahlan dipanggil ke Istana. Jadi tidak kecil buat Pak SBY itu. Buktinya
dipanggil. Demikian dikutip laman merdeka.com, Kamis (21/5/2015)
(Fit)