Matatelinga - Jakarta, Dirjen Migas Kementerian ESDM A Edy Hermantoro mengatakan, hingga saat ini sektor energi masih menjadi salah satu sektor strategis baik secara nasional maupun internasional. Khusus Indonesia, sektor energi tidak hanya berfungsi sebagai salah sumber pendapatan negara.
"Tetapi juga berkontribusi sebagai sumber bahan bakar domestik serta menciptakan efek berantai yang memperkuat pembangunan ekonom," Kata Edy, dilansir dari laman Ditjen Migas, Sabtu (4/10/2014).
Edy menuturkan, ketergantungan Indonesia terhadap minyak masih tinggi. Terlihat dari konsumsi bahan bakar minyak mencapai 50 persen, diikuti oleh gas dan batubara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Minyak dan Gas (Migas) menyelenggarakan Indonesia’s Oil and Gas Seminar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Hal tersebut tentunya memiliki tujuan untuk meningkatkan investasi migas di Indonesia.
Hadir dalam acara ini, Dirjen Migas Kementerian ESDM A. Edy Hermantoro, Direktur Pembinaan Program Migas Agus Cahyono Adi, Sekper SKK Migas Gde Pradyana, wakil dari Kementerian Keuangan, PT Pertamina, PT PGN dan PT Medco Energi.
Sementara cadangan minyak Indonesia sekitar 3,7 miliar barel dan kini produksinya terus menunjukkan penurunan. Pada tahun 2012, produksi minyak Indonesia hanya sekitar 860.000 barel per hari, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 1995 yang masih berkisar 1,5 juta barel per hari. Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar minyak Indonesia mencapai 1,2 juta barel yang terutama digunakan untuk sektor transportasi, industri, listrik dan rumah tangga.
"Sejak tahun 2004, volume impor dalam bentuk minyak mentah dan bahan bakar terus meningkat. Kondisi ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia karena berpengaruh besar terhadap besaran subsidi energi. Hal ini menyebabkan efek berganda pada semua aspek. Misalnya, pembangunan infrastruktur menjadi terhambat. Resiko ketahanan energi juga tinggi," papar Edy.
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tersebut, Pemerintah Indonesia mendorong perusahaan negara dan swasta di Indonesia untuk menemukan sumber minyak baru di luar negeri. Selain itu, pemerintah juga berupaya keras membangun kilang minyak baru. Saat ini, kapasitas kilang dalam negeri mencapai 1,1 juta barel per hari dengan produksi minyak yang dapat diolah kilang dalam negeri hanya 649.000 barel per hari. Padahal, kebutuhan bahan bakar minyak mencapai 1,2 juta barel per hari atau defisit 608.000 barel per hari.
"Kebutuhan kilang baru ini sangat mendesak. Pemerintah sedang merumuskan aturan untuk menarik investor agar mau berinvestasi," ujar dia.
Melalui seminar ini, Dirjen Migas juga berharap kedua belah pihak dapat berbagi pengalaman dan dapat menarik investor untuk mengembangkan industri migas nasional. "Seminar ini menjadi jembatan bagi investor di Uni Emirat Arab untuk berinvestasi di Indonesia," tutupnya.
(Mt/Okz)