MATATELINGA, Medan: Joni Fernando Silalahi (30) salah satu korban penganiayaan hingga berujung tewas di Universitas Negeri Medan (Unimed) pada Selasa (19/2/2019) lalu.
Joni tewas bersama rekannya Stefan Samuel Hamonangan Sihombing (21). Mereka dituduh mencuri sepeda motor lantaran tidak bisa menunjukkan STNK hingga dituduhkan mencuri helm, yang tak bisa dibuktikan kebenarannya.
Istri Joni, Friska Purnama Sari Silaban (26) mengatakan bahwa suaminya dikenal sebagai sosok seorang bapak, yang sangat mencintai anak.
"Anaknya nggak bisa lepas dari dia sangat dekat kali sama dia," kata Friska di rumah mertuanya di Jalan Tangkul I, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, Jumat (22/2/2019).
"Biasanya dia manggil-manggil papa. Tapi sampai hari ini belum ada di kecarian. Nggak tahulah satu atau dua hari lagi," sambungnya.
Friska menjelaskan bahwa anaknya yang bernama Jason Silalahi yang masih berusia 1 tahun 3 bulan sangat manja dan lengket bisa dibilang bersama bapaknya tersebut. Friska bingung apa yang harus dilakukannya apabila nanti Jason telah terngiang ingat papanya.
"Saya cuma minta semoga kasus ini cepat diproses. Para satpam itu dihukum seberat-beratnya," pinta Friska.
Effendi Silalahi (57) dan Romanti Limbong (55), yang tidak lain adalah orang tua dari Joni, coba kembali menceritakan peristiwa nahas itu.
Effendi mengatakan bahwa Joni adalah anak ke 2 dari 7 bersaudara. Joni telah dikebumikan di Klambir V Helvetia sekitar pukul 17.00 WIB, Kamis (21/2/2019) kemarin.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 18.00 WIB, terjadi keramaian di Unimed terus ada yang kenal datang melapor kemari bilang si Joni ditangkap satpam dan diteriaki maling. Joni dituduh curanmor karena kebetulan STNK sepeda motor nggak dibawa. Pas ditanya satpam nggak bisa ditunjukkannya.
Saat keluarga mau datang kesana disarankan agar jangan datang tanpa membawa pihak yang berwajib (polisi). Karena suasana sedang tidak kondusif takut semakin diamuk massa.
"Kami coba hubungi kenalan pihak polisi dan dia bilang hubungi Polsek Percut Seituan. Jadi saya kesana (Unimed) bersama anak dan menantu. Sampai sana mau kami lihat ke pos satpam tidak dikasih masuk. Sementara menantu ku mau lihat nggak dikasih dan melapor dan 30 menit kemudian, baru datang bawa mobil patroli polisi," ujar Effendi.
Romanti Limbong (55) ibu kandung Joni mengatakan sebenarnya kalau aku nggak terlambat menghubungi polisi waktu itu, mungkin nyawa Joni masih bisa di selamatkan.
"Kondisinya waktu itu sudah parah, kepala pecah darah sudah keluar dari kepala hidung dan mulut. Dia ditelanjangi, di gari dan dipukuli. Dia cuma pakai boxer. Katanya pas sudah sekarat mereka di timpakan berdua," kata Romanti, Jumat (22/2/2019)
Romanti menuturkan bahwa permohonan dari keluarga, kasus ini harus diusut hingga tuntas. Jangan karena kami keluarga biasa diabaikan begitu saja.
"Tolong tegakkan hukum setegak tegaknya. Tolong bantu penderitaan air mata kami, yang sudah bercucuran. Kalau kematian semua manusia pada akhirnya pasti mati. Tapi jangan seperti inilah. Ini harus di usut sampai tuntas," ujarnya.
Romanti Limbong juga beberkan bahwa sebelum kepergian anaknya itu, ada yang berbeda dengan dirinya.
"Sebelum kejadian saya pembawaan malas dan badan seperti berat. Tapi tidak tahu ini kenapa. Ada pertanyaan dihati ada apa samaku. Tapi aku berfikir ke mamakku, karena sakit mungkin tidak lama lagi," kata Romanti.
"Berat kali badanku waktu itu, rupanya firasatnya lain. Anakku yang alami kayak gini," sambungnya.
Romanti yakin dari awal bahwa Joni tidak mungkin punya kelakuan seperti itu.
Kalau dia anak tidak baik, lanjut Romanti mana mungkin semalam ratusan orang temannya mau dengan suka rela ikut antarkan jenazahnya hingga ke kuburan ratusan orang.
"Dia sebenarnya cengeng kayak kejadian itu. Jujur kalau dikasih mereka telepon, pasti ke aku diteleponnya.Sakit pun dia samaku, karena dia manja samaku.
Nggak pernah dia hubungi istri dulu atau bapaknya. Kalau bisa dihubungi pasti dia hubungi aku," beber Romanti. (mtc/fae)