MEDAN - Matatelinga, Kepergian istri membanting tulang di negeri orang bisa jadi malapetaka, jika suami yang ditinggal ternyata durjana. Anak sendiri bisa menjadi korban kebuasannya.
Setidaknya ada dua ayah di sekitar Medan yang mencabuli putrinya ketika sang ibu mencari rezeki sebagai TKW di luar negeri. Kedua laki-laki durjana ini pun harus berhadapan dengan hukum.
Peristiwa pertama dilakukan oleh ayah bernama Tolip (40), warga Jalan Cinta Rakyat, Karang Sari, Medan. Laki-laki itu diserahkan ke polisi karena tega memerkosa putri kandungnya, B (17). Aksi bejatnya terjadi saat sang istri, Wiwi (38), bekerja sebagai TKI di Malaysia.
Perbuatan sang ayah terbongkar setelah B menyurati ibunya untuk mempertanyakan apakah dia anak tiri atau anak kandung. Remaja ini juga menceritakan kejadian yang dialaminya selama Wiwi bekerja di Malaysia.
Mendapat surat itu, ibunya langsung pulang ke Indonesia. Kegaduhan terjadi dan warga pun mengamankan Tolip dan menyerahkannya ke polisi. Tolip mengakui sudah belasan kali memerkosa B dalam kurun 4 tahun terakhir.
"Aku melakukannya di rumah, saat dia habis mandi atau mau pakai baju. Aku tergiur karena sudah lama hasratku tidak tersalurkan" Tolip di Mapolsek Medan Baru.
Peristiwa satu lagi tak kalah parah. Seorang laki-laki warga Sei Rotan, Deli Serdang, Y (53), yang juga ditinggal merantau istrinya SK (45), dilaporkan telah mencabuli putrinya WU yang masih berusia 10 tahun.
Pencabulan itu terbongkar setelah WU menelepon ibunya yang tengah bekerja di Johor, Malaysia. Selain mengaku dicabuli, bocah yang masih duduk di bangku kelas IV SD itu juga mengadukan ayahnya kerap menonton film porno di dalam kamar tempat mereka tidur.
"Saya bekerja di Malaysia sejak 1,5 tahun lalu. Anak saya telepon dan bilang badannya sakit semua. Anunya juga sakit setiap kencing," jelas SK saat mengadu ke Komnas Perlindungan Anak Medan, pada Kamis 3 April 2014.
Mendapat telepon dari sang anak, SK jadi tak tenang bekerja. Dia pun mengambil cuti. "Setelah saya pulang, anak saya kembali kasih tahu. Dia mengaku takut karena diancam, kalau mengadu akan dibunuh," sebut SK.
Pengaduan WU sudah ditanyakan ke Y. Sang suami membantah sambil marah-marah. Keluarganya juga menampik tuduhan itu. Akhirnya, SK memilih membawa WU mengadu ke Komnas Perlindungan Anak Sumut di Jalan Pelajar Timur, Medan. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke Polda Sumut. Demikian dilansir laman merdeka.com, Sabtu (28/3/2015)
(Fit)