Minggu, 26 April 2026 WIB

Lebaran dan Keberagaman

- Sabtu, 24 Juni 2017 16:23 WIB
Lebaran dan Keberagaman
James P Pardede
Seteleh menjalankan ibadah puasa Ramadhan, tepat pada 1 Syawal 1438 H, umat Islam seluruh dunia merayakan hari kemenangan. Kemenangan telah mengalahkan keegoisan, mengalahkan hawa nafsu, mengalahkan kemarahan dan kebencian. Kalau mengenang masa Lebaran di Tahun 1980-an sampai 1990-an di kampung halaman, lebaran ditengah masyarakat yang beragam menjadi sesuatu yang sangat berkesan.

Saya masih ingat saat masih duduk dibangku sekolah SMP sampai SMA, biasanya saat musim liburan sekolah saya akan menghabiskan masa liburan di kampung halaman Ompung saya di Sidapdap, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan. Kota ini melewati kota Sipirok yang terkenal dengan pemadian air panas dan penganan khasnya sambal trauma serta kue lapan-lapan.

Saat jelang Lebaran, ompung saya yang mempunyai banyak saudara yang beragama Islam mengajarkan kami untuk selalu menjunjung tinggi tali silaturahim. Malam takbiran tiba, saya biasanya akan diajak oleh saudara dan teman sebaya di desa ini untuk memukul bedug di masjid.



Saat takbir kemenangan berkumandang, saya yang sibuk memukul bedug dan menemani saudara-saudara yang beragama Islam menjalankan salat trawih terakhir. Malam hari setelah takbiran, kami memainkan meriam bamboo dan memasang lilin di depan rumah masing-masing.
Lebaran ditengah keberagaman yang tidak pernah mempermasalahkan latar belakang membuat saya pada waktu itu tak pernah merasa sungkan dan selalu beranggapan bahwa kita semua adalah sama dan saudara.

Keesokan harinya, setelah salat Ied selesai maka kami akan jalan keliling ke rumah-rumah saudara atau kerabat lainnya yang merayakan Idul Fitri. Kita akan bernyanyi bersama dan bersalam-salaman. Enaknya adalah dapat uang lebaran dari tuan rumah yang dikunjungi.

Tak pernah ada kata tanya yang mencurigai keberadaan kita ditengah-tengah mereka yang merayakan Lebaran. Yang ada adalah kebersamaan dalam keberagaman tanpa memandang kita dari suku mana, agama apa dan dari keturunan siapa.

Jika mengingat kejadian itu, saya jadi berpikir kepada generasi kita ke depan apakah masih mau menjunjung tinggi tali silaturahim? Kepada anak-anak, saya selalu menekankan agar kita saling menghargai dan saling menghormati. Hindari perpecahan dan ucapan kebencian yang membuat orang lain merasa tersakiti.

Semoga di Hari Raya Idul Fitri 1438 H ini, kita masih tetap menjunjung tinggi kekuatan tali silaturahim. Saya sampai hari ini masih terus berusaha untuk selalu menyempatkan diri minimal SMS atau menyapa lewat FB, IG atau Twitter tentang bagaimana kabar semua sahabat dan teman dimana pun berada. Ada satu kepuasan tersendiri ketika kita masih bisa memberikan semangat kepada orang lain. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Editor
:
SHARE:
 
Komentar
 
Berita Terbaru