Lurah Sei Mati Kecam Maraknya Aksi Bentrok, Keselamatan Warga Terancam
MATATELINGA,LabuhanAksi bentrok antarkelompok anakanak tanggung pecah di kawasan Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan,
Berita Sumut
MATATELINGA, Medn :Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara, Farianda Putra Sinik, mengatakan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah politik global dan cara negara-negara berkompetisi dalam memengaruhi opini publik dunia.
Hal itu disampaikan Farianda saat menjadi pembicara pada Seminar Internasional bertajuk "Transformasi Media Politik di Era Kecerdasan Buatan: Peluang, Etika dan Tantangan Demokrasi Global" yang diselenggarakan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Sumatera Utara, Senin (20/7/2026). Kegiatan ini merupakan rangkatan dari pelantikan ASPIKOM Korwil Sumut yang dipimpin Prof. Dr. Anang Anas Azhar, MA
Menurut Farianda, perang modern tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga terjadi di ruang digital melalui pertarungan narasi, informasi, dan persepsi publik.
"Saat ini negara tidak hanya memperebutkan wilayah, tetapi juga memperebutkan opini publik global. Media dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari strategi geopolitik yang sangat menentukan," kata Farianda yang menjadi pembicara bersama Ketum PP ASPIKOM, Prof. Anang Sujoko, M.Si, D.Comm dan Akademisi dari University of Qom Iran, Prof. Qasem Muhammadi, Ph.D.
Pengelola Harian Medan Pos ini menjelaskan, berbagai konflik internasional, seperti ketegangan Amerika Serikat dengan Iran maupun dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, menunjukkan bagaimana media digital digunakan sebagai instrumen untuk membangun persepsi masyarakat internasional.
Selain operasi militer, kata dia, perang informasi kini menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan berbagai negara. Melalui media digital, setiap peristiwa dapat dikonstruksi menjadi narasi yang memengaruhi pandangan publik dalam hitungan detik.
"Media bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi telah berkembang menjadi instrumen diplomasi digital, propaganda, mobilisasi politik, bahkan bagian dari sistem pertahanan suatu negara," ujarnya.
Farianda juga menyoroti pentingnya kawasan Selat Hormuz sebagai jalur strategis perdagangan energi dunia. Menurutnya, setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global melalui kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga inflasi di berbagai negara.
Dalam paparannya, Farianda menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI semakin mempercepat transformasi media politik. Berbagai teknologi seperti analisis sentimen, bot media sosial, personalisasi konten, hingga teknologi deepfake kini mampu memengaruhi persepsi masyarakat dalam skala yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
"Artificial Intelligence membawa peluang besar bagi demokrasi karena mampu mempercepat penyebaran informasi, memperkuat pemeriksaan fakta, meningkatkan partisipasi publik, serta membantu analisis kebijakan berbasis data," katanya.
Farianda juga mengingatkan bahwa perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan serius bagi demokrasi di berbagai negara. Penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, echo chamber, polarisasi politik, hingga penggunaan deepfake terhadap tokoh publik merupakan ancaman nyata yang harus diantisipasi bersama.
"Jika tidak dikelola secara etis, AI justru dapat memperbesar polarisasi masyarakat dan menurunkan kepercayaan publik terhadap media maupun institusi demokrasi," ujarnya.
Karena itu, Farianda menilai pengembangan AI harus diiringi tata kelola yang kuat melalui prinsip transparansi, akuntabilitas, perlindungan data pribadi, pengawasan manusia (human oversight), serta tanggung jawab platform digital.
Dia menegaskan bahwa masa depan demokrasi sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah, media, akademisi, perusahaan teknologi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
"Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat demokrasi dan perdamaian, bukan memperdalam konflik maupun manipulasi informasi. AI harus digunakan untuk kepentingan publik dengan tetap menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab bersama," tutur Farianda. *(red)*
Baca Juga:
MATATELINGA,LabuhanAksi bentrok antarkelompok anakanak tanggung pecah di kawasan Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan,
Berita Sumut
MATATELINGA,MetLife Final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, berakhir dengan kemenangan 10 untuk Spanyol.Seusai peluit pan
Bola
MATATELINGA, AsahanWakil bupati Asahan Rianto secara resmi membuka Gala Siswa Indonesia (GSI) di stadion Mutiara Kisaran, Senin (20/07/20
Berita Sumut
MATATELINGA,Langkat Wakapolda Sumatera Utara Brigjen Pol. Sonny Irawan, S.I.K., M.H. secara resmi membuka Pendidikan Pembentukan Bintara P
Berita Sumut
MATATELINGA, Medan Dinas Perhubungan Kota Medan dalam Rapat Dengar Pendapat terkait polemik retribusi parkir di Kawasan Industri Medan (KIM
Berita Sumut
MATATELINGA, JakartaPanglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri Sidang Kabinet Paripurna (SKP) yang dipimpin Presiden RI Prabowo Su
Nasional
MATATELINGA, SimalungunUnsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Simalungun bersama Kota Pematang Siantar menggelar keg
Berita Sumut
MATATELINGA, Pematangsiantar Wali Kota Wesly Silalahi SH MKn mengenang pasca mengenyam pendidikan di SMP Cinta Rakyat 1 Pematangsiantar. Ia
Lifestyle
MATATELINGA, Deli SerdangPemerintah Kabupaten Deli Serdang bergerak cepat menindaklanjuti rencana penggenangan Bendungan Lau Simeme melalui
Berita Sumut
MATATELINGA,Pematangsiantar Wali Kota Wesly Silalahi SH MKn mengikuti jalan santai dan senam sehat yang dimeriahkan juga dengan door prize
Lifestyle
Relasi kuasa yang tidak seimbang dan manipulasi dalam hubungan emosional, seperti pacaran menjadi faktor yang kerap melatarbelakangi terjadi
Nasional
MATATELINGA, Aceh Selatan Sejumlah areal persawahan di Gampong Kedai Runding, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, dilanda keke
Aceh