"Ada yang di negara asalnya cuma perawat, tapi di sini mengaku dokter kecantikan. Ini sangat berbahaya dan sudah memakan korban," tegasnya.
Pengawasan tidak hanya difokuskan pada orang asing, tetapi juga terhadap WNI yang hendak ke luar negeri. Proses wawancara kini dilakukan lebih ketat untuk mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
"Kalau tujuannya tidak jelas, kami tidak akan keluarkan paspor dulu. Ini untuk keselamatan mereka sendiri," ujar Rasyid.
Untuk memperluas edukasi, Kemenimipas menggerakkan Kader Imigrasi Desa yang bertugas memberi pemahaman kepada warga agar tidak mudah tertipu tawaran kerja luar negeri.
"Banyak saudara kita berangkat tanpa tahu akan kerja apa. Ada yang akhirnya jadi korban, bahkan sampai perdagangan organ. Ini yang ingin kami cegah," ungkapnya.
Rasyid menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa seluruh langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo agar imigrasi bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya aman, tetapi juga ramah dan modern.
"Transformasi ini untuk memastikan imigrasi menjadi pintu yang aman, modern, dan humanis. Kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaatnya," tutup Rasyid yang juga Sekretaris IKA USU ini.