Sabtu, 17 Oktober 2026 WIB

Kabut Tipis Melingkari Kaki Gunung Rinjani, Mata Warga Tertuju Pergunugan Itu

Redaksi - Minggu, 23 November 2025 07:45 WIB
Kabut Tipis Melingkari Kaki Gunung Rinjani, Mata Warga Tertuju Pergunugan Itu
Pixabay
Kaki Gunung Rinjani

Pertama, penguatan regulasi dan penegakan hukum harus menjadi pondasi utama. Di Tambora, aktivitas ilegal yang ditemukan melalui SMART Patrol menunjukkan bahwa ancaman terhadap kawasan konservasi masih nyata. Akses pendakian ilegal harus ditutup total dan pengawasan berbasis digital perlu dikembangkan seperti di Rinjani.

Baca Juga:

Kedua, pemberdayaan masyarakat lokal wajib diletakkan sebagai pusat kebijakan. Penegasan bahwa pemandu lokal harus mendampingi pendaki di Tambora adalah langkah baik, tapi perlu ditingkatkan melalui sertifikasi, pelatihan keselamatan, hingga penguatan usaha wisata berbasis desa. Masyarakat bukan sekadar penjaga, tapi mitra pengelolaan.

Ketiga, infrastruktur pendakian yang aman dan ramah lingkungan adalah syarat mutlak. Arahan Wamen Kehutanan mengenai pagar pembatas, papan keselamatan, hingga perbaikan jalur rawan merupakan kebutuhan mendesak. Tata kelola berkelanjutan tidak mungkin berdiri di atas fasilitas yang rapuh.

Keempat, pengembangan narasi edukatif harus dipertegas. Rinjani sebagai UNESCO Global Geopark dan Tambora sebagai situs letusan terbesar dunia memiliki nilai edukasi yang jauh lebih besar daripada sekadar wisata petualangan, dikutip dari laman Antara.

Agenda eduwisata, museum situs, interpretasi sejarah, hingga promosi berbasis ilmu pengetahuan menjadi cara mengikat gunung ke dalam identitas warga NTB dan bangsa.

Kelima, pendekatan lintas sektor harus menjadi standar baru. Upaya Dispar NTB dalam memperkuat geosite Rinjani–Tambora adalah langkah awal. Namun, dibutuhkan integrasi antara kehutanan, pariwisata, lingkungan hidup, pendidikan, penegak hukum, hingga desa wisata. Tanpa integrasi, kebijakan akan berhenti pada tataran acara dan wacana.

Ke depan, pembangunan geosite ini harus menempatkan NTB sebagai laboratorium kebijakan pariwisata berbasis konservasi.

Dengan jumlah kunjungan yang terus meningkat dan status geopark dunia yang dipertahankan, NTB memiliki modal besar untuk menjadi contoh tata kelola gunung di Indonesia.

Pada akhirnya, Rinjani dan Tambora adalah cermin. Dari keduanya kita belajar bahwa keindahan bukan hanya untuk dilihat, tetapi dijaga.

Bahwa pariwisata bukan hanya pergerakan manusia, tetapi upaya menjaga bumi dan kehidupan. Dan bahwa konservasi bukan sekadar kata, melainkan komitmen lintas generasi.

Jika upaya ini terus berlanjut, NTB bukan hanya akan dikenal sebagai rumah dua gunung besar, tetapi sebagai daerah yang menunjukkan bagaimana alam, budaya, dan manusia dapat berjalan bersama dengan terhormat.

Editor
: Admin
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Pemprov Sumut Dorong Kebangkitan Ekosistem Pariwisata Lewat Kolaborasi Astex 2025
Dua Pembalap Muda Indonesia Mendapat Apresiasi dari Aviasi Pariwisata Indonesia
Dukung Medan Zoo Jadi Aset Wisata Pemko Medan
Jaringan Narkoba Kota Wisata Dibongkar
Polres Simalungun Perketat Patroli di 10 Destinasi Wisata, Hadirkan Rasa Aman Bagi Wisatawan di Hari Libur
Belajar dari Tragedi 2003, Bobby Nasution Minta Mitigasi Dini Banjir Bandang Bahorok
 
Komentar
 
Berita Terbaru