MATATELINGA - Sepertinya virus Covid 19 tak akan ada habis habis nya apa lagi ditambah dengan munculnya varian varian baru. Kali ini, Indonesia diperkirakan kembali mengalami lonjakan kasus covid-19 pada awal Maret 2022 mendatang. Ini terutama karena infeksi varian omicron. Direktur Jenderal Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Dirjen Yankes Kemenkes) Profesor dr Abdul Kadir mengimbau masyarakat selalu berhati-hati dan sementara waktu tidak melakukan mobilitas tinggi.
Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan puncak kasus omicron yang jauh lebih tinggi dibanding gelombang varian delta kemungkinan terjadi pada akhir bulan ini (Februari 2022).
"Tren terjadi peningkatan angka kasus, prediksi di akhir Februari atau awal Maret 2022 puncak kasus omicron, 3 sampai 6 kali lebih tinggi dibandingkan puncak kasus karena delta," tuturnya.
Baca Juga:Bertempat di Gedung Plaza Medan Fair, Polsek Medan Baru Gelar Vaksinasi Massal
Kemudian dr Siri Nadia mengingatkan kembali masyarakat yang belum melakukan vaksinasi agar segera melakukannya. Hal ini sebagai pencegahan apabila terinfeksi covid-19 maka gejala yang ditimbulkan relatif ringan. Seperti dikutip dari Okezone, Minggu (13/02/2022).
Ia mengungkapkan vaksinasi covid-19 untuk lansia masih terbilang rendah, yakni 55 persen. Sementara kelompok tersebut termasuk sangat rentan terinfeksi, khususnya varaian omicron, di mana persebarannya dua kali lipat lebih cepat.
Lanjut, Prof Kadir mengatakan sejumlah kelompok masyarakat, termasuk lanjut usia (lansia), anak-anak, belum divaksin, hingga yang memiliki komorbid, harus lebih waspada. Hal ini dikarenakan mayoritas gejala dari infeksi varian omicron cenderung ringan, tanpa gejala, dan seperti flu biasa.
[br[
"Omicron bisa berbahaya pada lanjut usia (lansia), termasuk orang dengan komorbid, orang yang belum divaksin, dan anak-anak," ujar Prof Kadir dalam konferensi pers virtual, Kamis 10 Februari 2022.
Lebih lanjut ia menjelaskan, khususnya lansia, komorbid, dan pengidap hipertensi agar tetap di rumah saja. Guna mengurangi lonjakan kasus covid-19 yang diprediksi terjadi pada awal Maret 2022.