Matatelinga - Jakarta, Head of Research, KSK Financial
Group, David Cornelis, mengatakan yang menarik adalah, secara historikal
tiga periode pemilu sebelumnya, dalam sebulan pascapileg pasar akan
bergerak sekitar dua kali lebih besar, yaitu naik 12,3 persen di April,
dibandingkan dengan kenaikan pascapilpres yang naik hanya 6,6 persen di
bulan Juli.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode satu bulan pascapemilu
legislatif (pileg), tercatat dua kali Lebih besar dibanding
pascapilpres. sayangnya, kenaikan yang terjadi pada pileg kali ini,
tidak sebesar yang diharapkan.
"Ternyata Efek Jokowi saat ini tidak sebesar Efek
SBY kala itu, jadi angka ekspektasi historis tersebut perlu didiskon
proyeksinya, artinya lebih kecil dari rata-rata 12,3 persen tersebut,"
jelas dia dalam risetnya di Jakarta.
IHSG telah naik tinggi sejak
awal tahun, sekitar 15 persen di antara bursa-bursa dunia, dan tidak
sedikit bursa dunia yang malah bergerak negatif. "Secara rasio potensi
risiko terhadap pengembalian, di posisi IHSG yang berada di atas 4.800,
sudah tidak lagi menawarkan keuntungan yang sepadan dengan risiko yang
kelak ditanggung pelaku pasar," katanya.
Menurutnya, risiko
terdekat IHSG adalah turun ke kisaran 4.723-4.777, di rentang ini dapat
menjadi pintu masuk untuk transaksi beli jangka pendek. "Secara politik
ekonomi, terbukti pasar terlalu menilai terlalu tinggi terhadap Jokowi
dan terlalu merendahkan kekuatan partai tengah yang justru saat ini
memainkan peran penting di konstelasi politik sebagai partai penentu
dalam pembentukan koalisi, justru hal ini yang krusial bagi pasar
finansial dalam jangka pendek," tukas dia.
Dia melanjutkan,
secara teknis ada pembalikan dan cenderung menutup lubang jangka pendek,
akan tes ke kisaran 4.900—5.000. Secara proyeksi fundamental semester
II yang wajar di 4.800—5.200. "Namun, jika terpilih capres yang di luar
ekspektasi pasar, akan balik ke target skenario di semester I tersebut
(4.400—4.800)," tukas dia.
(Okz/Mt-01)