Senin, 05 Oktober 2026 WIB

Melemahnya Mata Uang China, Bagaimana Dampaknya Ke Indonesia

Redaksi - Sabtu, 10 Agustus 2019 20:17 WIB
Melemahnya Mata Uang China, Bagaimana Dampaknya Ke Indonesia
Hand Over
MATATELINGA, Jakarta: Selama lebih dari satu dekade, mata uang China kini telah mencapai titik terendah, sehingga Amerika Serikat (AS) memberikan predikat kepada pemerintah Cina sebagai manipulator mata uang.




[adx]


Pemberian cap itu akan menambah ketegangan antara dua raksasa ekonomi dunia. Beijing sebelumnya berusaha keras mencegah mata uangnya turun ke bawah tingkat simbolis.

Amerika Serikat memberikan predikat kepada China pada Senin (05/08), setelah mata uang China turun di bawah angka tujuh untuk setiap dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2008.

Eskalasi perang dagang, yang dipicu oleh ancaman baru penerapan tarif oleh AS, dianggap menjadi pendorong perubahan kebijakan.

Mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/8/2019), pada Senin 5 Agustus 2019, Bank Rakyat China sebagai bank sentral mengatakan penurunan tajam yuan disebabkan oleh "tindakan sepihak dan proteksi perdagangan dan pemberlakuan kenaikan tarif terhadap China".

[adx]




Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan ia akan memberlakukan tarif 10% bagi barang-barang China senilai USD300 miliar, yang sejatinya mengenakan pajak bagi semua barang dari China yang masuk ke AS.

Yuan bukanlah mata uang yang bebas dijuarbelikan dan pemerintah Cina membatasi pergerakannya terhadap dolar AS.

Tidak seperti bank sentral pada umumnya, Bank Rakyat China tidak independen dan dilaporkan mendapat campur tangan ketika nilai mata uang yuan mengalami gejolak.

Ekonom senior masalah China di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan dengan cara mengaitkan devaluasi yuan dengan ancaman tarif terbaru, bank sentral China "sebenarnya mempersenjatai nilai tukar, sekalipun tidak secara proaktif memperlemah mata uang melalui campur tangan langsung".

Apa dampak dari yuan yang lemah?

Yuan yang lemah membuat barang-ekspor China lebih kompetitif, atau lebih murah jika dibeli dengan mata uang asing.

Dari kaca mata Amerika Serikat, hal itu dianggap sebagai upaya untuk mengimbangi dampak dari penerapan tarif yang lebih tinggi terhadap barang-barang China yang masuk ke Amerika Serikat.

Meskipun tampak menguntungkan bagi konsumen di seluruh dunia - yang sekarang dapat membeli produk China dengan harga lebih murah - devaluasi menyebabkan risiko-risiko lain.

Melemahnya yuan juga akan membuat impor ke China lebih mahal, berpotensi mendongkrak inflasi dan memberikan tekanan lebih lanjut kepada ekonomi yang memang sudah melambat, dan sekaligus mendorong para pemegang mata uang untuk menggunakan uangnya membeli aset-aset lain.

Bagaimana dampaknya bagi perdagangan Indonesia?

Karena perdagangan antar regional kuat, pelemahan mata uang Cina juga diikuti oleh penurunan mata uang negara-negara mitra dagangnya, tak terkecuali rupiah, karena munculnya sentimen negatif.

Kepala Ekonom di Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mencatat dampak nyata dari penurunan mata uang China bagi Indonesia jika penurunan berlangsung lama adalah sektor perdagangan, baik dampak menguntungkan maupun merugikan.

"Kalau kita melihat dari rasio antara rupiah-yuan, rupiah-dolar yang akhirnya sebetulnya rupiah itu melemah terhadap yuan juga, sebetulnya positif bagi kita karena barang Indonesia menjadi lebih murah buat importir China," jelasnya.

Namun sayangnya ada faktor yang tidak mendukung analogi tersebut sebab sebagian besar ekspor Indonesia ke China berupa komoditas.

"Karena harga komoditas sekarang sedang turun. Jadi katakanlah nilai rupiah melemah terhadap yuan atau terhadap dolar Amerika, tetapi harga juga turun di saat yang sama, nettonya di mana?," ujarnya.

"Ketika harga turunnya lebih besar daripada depresiasi rupiah maka kita tidak diuntungkan," tambah Lana Soelistianingsih.

Di antara komoditas Indonesia yang dikirim ke China adalah batu bara, tembaga dan minyak kelapa sawit.

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat dampak negatif dari penurunan mata uang China terhadap perekonomian Indonesia tidak terlalu signifikan, meskipun untuk jangka pendek patut diwaspadai.

"Devaluasi yuan akan membawa efek rombongan bagi mata uang regional, terutama di Asia, yang mana cenderung lebih menekan atau terdepresiasi. Jadi rupiah juga akan terbawa arus itu," kata Fithra Faisal Hastiadi.

Editor
:
Sumber
: Okezone
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru