Kamis, 28 Mei 2026 WIB
Pergerakan Yuan

Mata Uang Yuan Mulai Jatuh Lagi !!

Admin - Jumat, 11 Desember 2015 09:02 WIB
Mata Uang Yuan Mulai Jatuh Lagi !!
google
Ilustrasi

Matatelinga.com, Lima bulan setelah China (Tiongkok) secara mengejutkan dunia dengan mendevaluasi mata uang yuan, timbul sebuah masalah yang mencekam. Kebijakan tersebut telah memicu kekhawatiran meluasnya perang mata uang di Asia. Pasalnya, para investor seakan teringat kembali dengan kasus-kasus terdahulu.

Yuan atau renminbi memang berada di level terendah dalam empat bulan ini. Sehingga, harapan bantahan depresiasi yuan lebih lanjut sepertinya mulai bangkit.

Seperti dilansir CNBC dan dikutip laman okezone.com, Jumat (11/12/2015), mata uang ini terus melemah. Pada hari Kamis 10 Desember, Bank Rakyat China (PBoC) menetapkan tingkat titik tengah di level 6,4236 per dolar, atau 0,15 persen lebih lemah.

Bank sentral China (PBoC) membiarkan kenaikan kurs spot yuan atau jatuh maksimal 2 persen terhadap dolar dan memperbaiki suku bunga.

"Setelah kejutan devaluasi 11 Agustus (devaluasi yuan), mengangkat spekulasi dari PBoC yang mengelola depresiasi yuan," kata ahli strategi FX di Mizuho Bank, Chang Wei Liang.

Menurut beberapa analis, hal ini menunjukkan pasar negara berkembang Asia dapat melemahkan mata uangnya dalam rangka mempertahankan daya saing perdagangan.

"Depresiasi renminbi melanjutkan risiko perang mata uang, baik secara langsung oleh tindakan pembuat kebijakan atau tidak langsung oleh investor, "kata Kepala Societe Generale of Strategy FX Asia, Jason Daw.

Bank-bank sentral yang baru-baru ini melakukan intervensi di pasar mata uang untuk mencegah kejatuhan mata uangnya, lanjutnya seperti Malaysia dan Indonesia, dapat menahan diri.

"Secara keseluruhan, bank sentral di Asia tidak semuanya menjatuhkan mata uang. Mereka sangat bergantung pada ekspor sehingga mata uang yang lebih rendah tidak selalu buruk," kata Kepala Strategy, Fixed Income and Currencies Macquarie, Nizam Idris.

Biasanya paling rentan terhadap pelemahan dan devaluasi yuan adalah Korea Selatan. Namun, Gubernur Bank Sentral Korea Lee Ju-yeol membantah hal tersebut.

"Saya tidak berpikir kelemahan dalam yuan untuk waktu yang lama. Pengaruh negatif dari yuan lemah tidak akan besar karena kami memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan China," kata dia.

Akan tetapi, Ekonom Asia di Standard Bank Jeremy Steven mengaku, depresiasi tambahan diperlukan untuk menyeimbangkan penyesuaian pembayaran dan mengakhiri siklus deflasi. Pasalnya, saat ini kondisi moneter China masih belum cukup stabil.

Berdasarkan data yang keluar pada hari Rabu kemarin, menunjukkan indeks harga produsen merosot 5,9 persen pada tahun ini. Sehingga, bisa saja terjadi kebijakan tidak terduga lagi oleh PBoC untuk membiarkan yuan terdepresiasi setelah masuk ke dalam mata uang cadangan Dana Moneter Internasional (IMF).



(Fit)

SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru