Kamis, 28 Mei 2026 WIB

Utang Luar Negeri Didominasi Utang Jangka Panjang

Admin - Rabu, 20 Agustus 2014 07:00 WIB
Utang Luar Negeri Didominasi Utang Jangka Panjang
Google
Matatelinga - Jakarta, Melansir data BI, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang sebesar 82,4 persen dari total ULN. ULN jangka panjang pada akhir Juni 2014 mencapai USD234,8 miliar atau Rp2.723,6 triliun, meningkat USD5 miliar atau 2,2 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan I-2014 sebesar USD229,8 miliar.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Juni 2014 tercatat mengalami peningkatan USD8,6 miliar atau 3,1 persen. Uang luar negeri pada Juni, tercatat sebesar USD284,9 miliar atau setara Rp3.133,90 triliun jika mengacu kurs Rp11.000 per USD.

Pada akhir Juni 2014, ULN jangka panjang sektor publik mencapai USD124,3 miliar atau 94,4 persen dari total ULN sektor publik dan ULN berjangka panjang sektor swasta tercatat sebesar USD110,5 miliar atau 72,1 persen dari total ULN swasta.

Sementara itu, ULN berjangka pendek sebesar USD50,1 miliar atau 17,6 persen dari total ULN, meningkat 7,9 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan I-2014 sebesar USD46,4 miliar.

Pada sektor swasta, posisi ULN pada akhir Juni 2014 terutama terpusat pada sektor keuangan, sebesar USD42,6 miliar atau 27,8 persen dari total ULN swasta, industri pengolahan, sebesar USD30,9 miliar atau 20,2 persen dari total ULN swasta, dan sektor pertambangan USD27,2 miliar atau 17,8 persen dari total ULN swasta.

Bila dibandingkan dengan triwulan I-2014, posisi ULN ketiga sektor tersebut masing-masing tumbuh 7,9 persen, 3,2 persen, dan 6,7 persen. Bank Indonesia memandang bahwa perkembangan ULN sampai Juni 2014 masih cukup sehat dalam menopang ketahanan sektor eksternal meskipun perlu terus diwaspadai.

"Bank Indonesia akan tetap memantau dan memperkuat kebijakan pengelolaan ULN, khususnya ULN swasta, sehingga ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko stabilitas makroekonomi," tutur BI dalam keterangannya.


(Mt/Okz)
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru