MATATELINGA. New York- Adanya aksi jual saham yang dipicu kekhawatiran kebangkrutan China Evergrande. Hal ini membuat investor ke luar dari pasar saham untuk keselamatan. Bursa saham AS, Wall Street berakhir turun pada perdagangan Senin waktu setempat.
Adapun pergerakan saham maskapai penerbangan berakhir lebih tinggi, setelah Amerika Serikat mengumumkan akan melonggarkan pembatasan perjalanan pada November untuk penumpang dari China, India, Inggris, dan banyak negara Eropa lainnya yang telah menerima vaksin Covid-19.
Masalah yang menurun melebihi jumlah yang meningkat di NYSE dengan rasio 5,40 banding 1; di Nasdaq, rasio 4,66 banding 1 mendukung penurunan.
Baca Juga:Sahli Kasad Gelar FGD, Peranan Komsos Satkowil Dalam Memajukan Ekonomi Kreatif Berbasis Teknologi Guna Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
S&P 500 tidak membukukan tertinggi baru 52-minggu dan tiga terendah baru. Nasdaq Composite mencatat 23 tertinggi baru dan 193 terendah baru.
Volume di bursa AS adalah 12,24 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 9,89 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.
Dow Jones Industrial Average turun 614,41 poin atau 1,78%, menjadi 33.970,47. S&P 500 kehilangan 75,26 poin atau 1,70% menjadi 4.357,73. Sedangkan Nasdaq Composite turun 330,07 poin atau 2,19% menjadi 14.713,90.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq mengalami penurunan persentase harian terbesar sejak Mei 2021. Untuk Nasdaq berhasil memangkas kerugian sebelum mengakhiri posisi terendah sesi tersebut.
Sebenarnya investor sedang menantikan hasil dari pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu ini. Terlihat dari sub-indeks perbankan turun 2,9%.
[br]
Di sisi lain, harga Treasury AS naik karena kekhawatiran tentang kemungkinan default Evergrande tampaknya mempengaruhi pasar yang lebih luas.
"Anda tahu bahwa ketika ada sesuatu yang membuat pasar lengah, itu akan mengarah pada aksi jual yang lebih besar dan tidak tahu apa alasannya," kata Ahli Strategi Pasar Global Senior, Institut Investasi Wells Fargo, Sameer Samana, dilansir dari Reuters, Selasa (21/09/2021).
Sementara itu, Ahli Strategi Morgan Stanley memperkirakan koreksi 10% pada indeks S&P 500 karena The Fed mulai mengendurkan dukungan moneternya, menambahkan bahwa tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang terhenti dapat memperdalamnya menjadi 20%. (Mtc/Okz)