MATATELINGA, Jakarta: Seseorang yang ingin berubah, ia butuh waktu, tenaga, pikiran dan pengorbanan untuk mencapai sebuah perubahan yang diinginkan. Tak ada perubahan yang terjadi dengan sekejap jika menginginkan perubahan yang sesungguhnya bisa berjalan secara berkesinambungan. Sebagai contoh, seseorang yang terpapar narkoba jika benar-benar ingin berubah total dan tidak mengonsumsi narkoba lagi, harus ada 'janji' atau komitmen terhadap diri sendiri benar-benar mau berubah. Kalau masih setengah hati, nanti ditengah jalan akan terpapar lagi dan tergoda lagi dengan narkotika dan obat-obat psikotropika itu.
Komitmen dan kesungguhan untuk mau berubah akan menentukan mau jadi apa kita ke depan. Sama halnya dengan kehidupan kita sehari-hari, jika ingin berubah kita harus mau keluar dari 'lingkaran' kebiasaan yang salah dan memulai sesuatu yang baru untuk sebuah perubahan.
Tatanan kata dan kalimat yang terangkai di awal tulisan ini bermunculan tidak secara kebetulan saat penulis bertemu dan terlibat dalam sebuah perbincangan hangat dengan salah seorang pengusaha properti bernama Jufri Aman Saragih di Kota Padangsidimpuan.
Sambil menyantap hidangan makan malam, disamping Jufri Aman ada Anggota DPRD Sumut Parsaulian Tambunan dan rekannya Sihar Tambunan. Suasana malam itu sangat akrab dan perbincangan kami sedikit nyerempet ke masalah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati Simalungun. Kenapa harus Simalungun yang jadi topik perbincangan?
Jufri Aman Saragih saat berdiskusi dengan Anggota DPRD Sumut Parsaulian Tambungan di Kota Padangsidimpuan
"Terus terang, saya mau tegaskan bahwa apa yang disampaikan orang ketika nama saya muncul menjadi salah satu bakal calon yang maju di Simalungun, saya dianggap titipan bupati yang menjabat saat ini.
Padahal, saya belum pernah secara khusus bertemu dengan pak JR Saragih. Saya murni hadir di Simalungun karena terpanggil untuk membangun kampung sendiri, membangun kota tempat saya lahir. Mungkin karena marganya sama jadi dianggap titipan," kata Jufri Aman Saragih yang akhirnya dikenal dengan singkatan namanya "JAS".
Jufri Aman Saragih yang sejak tahun lalu kian ramai diperbincangkan khususnya di Kabupaten Simalungun adalah putra kelahiran Purba Dolok, 19 Agustus 1975. Di Purba Dolok, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, JAS menyelesaika studinya sejak sekolah dasar, SMP dan SMA. Karena kasih karunia Tuhan, JAS menyelesaikan SMA pada tahun 1995.
Dalam perbincangan hangat malam itu, JAS menceritakan bagaimana ia dan saudaranya berjuang untuk membentuk diri agar bisa mandiri. "Sebagai anak kedua dari 5 (lima) bersaudara, kami tidak bisa melupakan begitu saja pengorbanan kakak kami Maria. Betapa tidak, agar adik-adiknya bisa terus melanjutkan pendidikan, terpaksa dia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya demi membantu perekonomian keluarga.
Hal ini setidaknya memberikan gambaran tentang kondisi ekonomi keluarga kami pada masa itu. Bahkan masih begitu jelas dalam ingatan saya bagaimana setiap harinya harus berjalan kaki pulang pergi ke sekolah dengan jarak tempuh yang lumayan jauh," kata Jufri Aman.
Tahun 1995 menjadi awal yang sangat mengesankan bagi Jufri Aman dan memberanikan diri berangkat ke Kota Parahyangan Bandung bermodalkan ijazah SMA.
Setelah berupaya ke sana kemari untuk melamar pekerjaan, Putra Simalungun itu akhirnya diterima sebagai sales yang setiap harinya harus berpakaian rapi lengkap dengan dasi, kedua tangan membawa barang-barang yang ditawarkan secara door to door."Pekerjaan sebagai sales saya jalani selama kurang lebih tiga tahun. Keras dan beratnya kehidupan di kampung dan pola asuh orangtua secara tidak langsung merupakan modal tersendiri bagi saya, sementara itu, melalui pekerjaan ini saya juga belajar bagaimana menerima dan merespon penolakan maupun penerimaan konsumen," kenang Jufri Aman. Apa yang dilakukan JAS di awal karirnya menuju pribadi yang mandiri menjadi pengalaman berharga dan tak terlupakan baginya untuk terus melangkah membuat perubahan dalam hidupnya. Mengucap syukur dalam segala hal menjadi modal paling utama baginya dalam melangkah kemana pun.
Di kota yang dijuluki dengan Paris van Java itu, JAS mengenal arti pentingnya mengalami lahir baru dan bertumbuh lebih dewasa dalam mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dibawah bimbingan hamba Tuhan Ps. Jimmy Oentoro, sebagai gembala gereja GISI, JAS banyak belajar tentang kehidupan dan aktif dalam pelayan di gereja.
"Karena hidup adalah pilihan, saya memutuskan meninggalkan Bandung dan beralih ke Bekasi, tepatnya di pasar pagi Bekasi. Dengan modal yang terbatas saya tidak mendapatkan ruang gerak yang cukup untuk berkembang," tandasnya.
Jufri Aman kembali memutuskan untuk ganti profesi, diawali sebagai seorang kenek, kemudian juga dipercaya sebagai sopir, bahkan demi menambah pemasukan profesi sebagai tukang ojek pun dilakoni. Pekerjaan apa pun yang digeluti, tak ada rasa malu atau canggung, dan justru semuanya itu menjadi pengalaman tersendiri dalam mematangkan karakter agar bisa berkompetisi.
"Tuhan menuntun langkahku sedemikian rupa hingga pada tahun 1999 menjadi sebuah era baru, dimana perjalanan hidupku masuk dalam dunia properti yang selamanya sangat menjanjikan bagi mereka yang mau berjuang.
Sebagai pendatang baru tentu masih banyak hal yang harus kami pelajari sehingga harus merangkak dari bawah, dari tidak di gaji hingga akhirnya diberikan gaji tentu dengan keharusan mencapai target yang sudah ditentukan," jelasnya.
Puji Tuhan, kata suami Rani Henny Eva Silalahi ini, meskipun selama beberapa kali mengalami downgrade tetapi fighting spirit yang biasanya dimiliki oleh para perantau dari Sumatera, khususnya suku Batak, membuatnya tetap bertahan, dimana salah satu faktornya adalah besarnya bonus yang pernah diterima sebelumnya.
Siapa sangka pada 2002 perusahaan dimana JAS bekerja bangkrut. Dan sejak 2002 hingga 2004, ayah tiga anak ini memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan. "Tuntutan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, khususnya adik-adik, mendorong kami untuk kembali menekuni dunia marketing properti dengan menghubungi sesama mantan sales properti pada 2005.
Setelah menjalani masa pengenalan selama beberapa lama, pada bulan Oktober 2006, saya menikah dengan Rani Henny Eva Silalahi," paparnya.
Dari pernikahannya dengan Boru Silalahi, pasangan ini Tuhan percayakan 3 orang anak, yaitu Hizkia Jufrandy Sijabat, Irene Brigita Jufrandi Sijabat dan Kristin Angle Jufrandi Sijabat.
Bagi sebagian orang, keinginan JAS untuk menjadi seorang manager seperti kata pepatah "seperti pungguk merindukan bulan". Bagaimana mungkin seorang lulusan SMA bisa menjadi seorang manajer?
Apa yang tak mungkin bagi manusia ternyata sangat mungkin bagi Tuhan, jabatan manajer berhasil disandang Jufri Aman dengan kompensasi harus mencapai target tertentu dalam waktu tertentu pula.
"Bersama Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Target pada akhirnya tercapai, bahkan tantangan baru diberikan untuk memimpin salah satu cabang. Sekali lagi, mission accomplish. Demikian juga dengan jabatan sebagai General Manager (GM) akhirnya bisa dicapai dan sekaligus sebagai pembuktian kepada seluruh stake holder bahwa saya layak dipercaya. Puji Tuhan!" tegasnya.Keberhasilan yang diperoleh secara perlahan, kata Jufri Aman bukan untuk menunjukkan kehebatan diri sendiri. "Saya sangat menyadari bahwa semua itu karena anugerah dari Tuhan, tetapi pencapaian demi pencapaian itu diperlukan sebagai referensi, motivasi dan bahan pertimbangan bagi orang-orang yang benar-benar ingin berubah dan ingin maju di kemudian hari," tandasnya.Berbicara tentang visinya mau turun untuk membangun kota kelahirannya di Kabupaten Simalungun, Jufri Aman tiba-tiba terkejut dengan peta politik dan mental sebagian masyarakat dalam berdemokrasi masih mengadopsi pola ada uang ada suara. Jufri Aman Saragih yang disingkat JAS menjadi #Jujur #Amanah dan #Santun.
"Saya hanya ingin ada perubahan di Simalungun. Perubahan dalam banyak hal termasuk sikap masyarakat dalam berdemokrasi kiranya semakin cerdas dan semakin dewasa. Masyarakat yang menginginkan perubahan harus ikut berubah," tegasnya.
Berikut ini visi misi yang akan diusung JAS untuk ikut dalam pencalonan dirinya sebagai Bakal Calon Bupati Periode 2020-2025 : VISI Menciptakan Masyarakat Kabupaten Simalungun yang Mandiri, Jaya dan Sejahtera.MISI1. Meningkatkan mutu pendidikan yang berdaya saing. Dan memastikan semua lapisan masyarkat mendapat layanan pendidikan formal. 2. Menumbuhkembangkan ekonomi kerakyatan.3. Menciptakan dunia usaha dan investasi yang pro rakyat.4. Meningkatkan Pertanian Masyarakat, menjamin ketersediaan kebutuhan petani seperti pupuk, bibit tanaman dan lainnya. 5. Meningkatkan tata kelola pemerintahan, pelayanan umum yang baik. 6. Membina Aparatur Sipil Negara berkinerja optimal yang yang bersih, inovatif dan berwibawa. 7. Mengembangkan potensi pariwisata dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan. 8. Memperbaiki infrastruktur dengan skala prioritas.9. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat.DATA DIRI Nama : Jufri Aman SaragihTempat Tanggal Lahir : Purba Dolok, 19 Agustus 1975Status : MenikahIstri : Rani Henny Eva SilalahiAnak : 1. Hizkia Jufrandy Sijabat2. Irene Brigita Jufrandi Sijabat3. Kristin Angel Jufrandi Dijabat
Pendidikan :-SD. SD Inpres Purba Dolok 1989-SMP Negeri Tigarunggu 1993-SMA Negeri Purba 1995-S1 STT Sunergeo Jkt 2014-S2 STT IKAT 2016Riwayat Pekerjaan :1. 2010 General Manager PT Sentul City Tbk.2. 2008 s/d 2010 General Manager Konsultan Management dan Keuangan Fine Property Jakarta.3. 2012 s/d 2017 Direktur PT. Dinamika Citra Selaras Jkt Kontraktor dan Jasa Pemasaran4. 2018 s/d sekarang Direktur Utama PT. Samudra Usaha Mulia.5. 2019 Co-Produser Film “Horas Amang”Riwayat Organisasi1. Kadiv misi GBI Gatot Subroto Jakarta.2. Ketua Organisasi KPKK Indonesia STT IKAT.3. Ketua Umum Perantau Purba Dolok Seluruh Indonesia.4. Bendahara Persatuan Anak Rantau Sidamanik Se-JabodetabekAnggota gembala penyembahan Sumut.6. Anggota Perwil GBI Siantar Simalungun Sumatera Utara.Publikasi1. Penelitian implementasi kehidupan Yusuf terhadap keberhasilan dunia kerja.2. Penelitian peranan penting keluarga dalam pembangunan masyarakat.