Rabu, 30 September 2026 WIB

Pemkab Samosir Tarik Diri dari Kegiatan Festival Danau Toba

- Rabu, 12 Desember 2018 15:30 WIB
Pemkab Samosir Tarik Diri dari Kegiatan Festival Danau Toba
mtc/ist
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir menyatakan menarik diri sebagai peserta Festival Danau Toba (FDT). Sikap Pemkab Samosir ini ditunjukan pada pelaksanaan DT 2018 di Kabupaten Dairi, yang berlangsung 5-8 Desember 2018, lalu.
MATATELINGA, Medan: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir menyatakan menarik diri sebagai peserta Festival Danau Toba (FDT). Sikap Pemkab Samosir ini ditunjukan pada pelaksanaan DT 2018 di Kabupaten Dairi, yang berlangsung 5-8 Desember 2018, lalu.


"Kami Samosir memutuskan tidak ikut serta FDT 2018. Karena, belajar dari FDT 2016 dan 2017. Maka kami lihat, tidak ada daya angkat industri Pariwisata ke Samosir, kami putuskan tidak menganggarkan untuk FDT," ucap Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Samosir, Ombang Siboro usai menghadiri Focus Group Discussion (FGD) dengan tema 'Perencanaan Pembangunan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara' di FISIP UMSU, Selasa (11/12/2018)

Ombang mengungkapkan seharusnya, FDT mampu memberikan poin plus untuk kemajuan dan perkembangan danau vulkanik terbesar di Dunia itu dari event-event digelar di FDT. Bukan sebaliknya, dinilai 'event buruk'.

"Konsep FDT kami pertama bayangkan, bukan FDT seperti itu. Seharusnya menjadi Festival Pariwisata menjadi Wonderful," kata Ombang.


Disinggung soal FDT tahun ini, di Kabupaten ‎Dairi. Ombang mengungkapkan ada yang terjadi di FDT tersebut, sudah terpikir olehnya. Karena, berkaca dari FDT dua tahun terakhir. Apa lagi, FDT dilaksanakan dengan tidak ada keseriusan.

"Sebelum dilaksanakan, FDT 2018 saya sudah tahu bagaimana hasilnya. Karena event itu, dilaksanakan jauh-jauh hari. Di kontennya dan dipromosikan jauh-jauh hari juga," tutur Ombang.

Ombang menjelaskan FDT harus memilik kelas Nasional maupun Internasional. Dengan konsep pariwisata direncanakan dengan matang dan profesional.‎ Hal tersebut, tidak dilakukan. Bahwa FDT dirapatkan pertama pada 23 Oktober 2018, lalu.

"Di Putuskan tanggal 5 Desember 2018. Apa lagi, masuk festival Wonderful Indonesia tidak benar itu. Tidak salah di Kabupaten Dairi sebagai tuan rumah. Siapa pemiliknya (Pemprov Sumut)," ucap Ombang.


Ia menilai anggaran Rp 1,3 miliar untuk FDT tahun ini, terbuang sia-sia. Karena tidak mendorong untuk menarik kunjungan wisata dengan jumlah besar. Harusnya, menjadi catatan besar untuk dilaksanakan secara profesional.

"Kedepannya FDT. Dipertanyakan pertama, jenis kelamin (kegiatannya), kedua siapa pihak pertanggungjawabnya, ketiga kapan diselanggarakan. Kami minta jawab itu, baru itu kami ikut serta kembali," kata Ombang.

Ombang mengungkapkan Singapura negara kecil, memiliki konsep pariwisata dengan baik dan profesional dengan jumlah 385 event setiap tahun. Sedangkan, Danau Toba kalah jauh dari Banyuwangi memiliki 87 event pariwisata dikelola dengan baik dan promosikan

Semakin banyak event, semakin bagus di‎ Danau Toba. Di Singapura ada 385 event satu tahunnya. Ada 2 event satu hari. Banyuwangi 87 event satu tahun. Dilaksanakan dengan baik dan dipromosikan jauh-jauh hari.

"FDT itu, event siapa?. Apa event milik Pemprov, Kabupaten atau kawasan Danau Toba. Jelas dulu jenis kelaminya," ungkap Ombang.

Dia menambahkan Pemerintah Provinsi Sumut dan Kementerian Pariwisata harus melakukan evaluasi FDT. Bila tetap melanjutkan di tahun depan. Kalau tidak, FDT tidak akan berkembang untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Danau Toba.

"Kalau di kuliah dulu, ada minggu tenang (dihentikan) dulu FDT itu. Merenungkan bersama dulu, kalau dilanjut menambah terperukan nama Danau Toba. Karena festival Danau Toba disitu kualitas Danau Toba sendiri," tandasnya.(mtc/fae)
Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru