MATATELINGA, Medan: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Deliserdang menggelar diskusi publik
bersama komunitas peduli pendidikan terkait berbagai indikasi korupsi
di Dinas Pendidikan Deliserdang di Universitas Negeri Medan (Unimed),
Sabtu (21/10/2017).
Menurut Ahmad Arfah Fansyuri Lubis Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten Deliserdang Dra. Wastiana Harahap telah melakukan
korupsi terselubung dengan mewajibkan sekolah-sekolah yang terjangkau
jaringan internet untuk melakukan kerjasama dengan pihak inosoft yang
berkantor pusat di Surabaya. Katanya, akibat perbuatan tersebut
anggaran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) disetiap sekolah
terserap begitu besar untuk program tersebut, hal ini membuat kepala
sekolah di Deliserdang kebingungan untuk melaksanakan program program
lainnya yang sesuai dengan Juknis penggunaan Dana BOS.
"Inikan
sangat aneh, sementara program ini tidak ada dalam Petunjuk Teknis
(Juknis) BOS 2017, akibatnya kepala sekolah kesulitan didalam
mempertnggung jawabkan dana BOS," tandasnya.
Arfah mengatakan,
kerjasama dengan inosoft tersebut merupakan kegiatan pengabsenan siswa
dan guru dengan menggunakan pingerprint dan pembuatan web sekolah, dalam
proyek ini sekolah diwajibkan membeli alat pinger print minimal 2 buah
(1 untuk guru dan 1 untuk siswa) sebesar Rp.2.850.000 untuk 1
pingerprint berarti sekolah untuk membeli pingerprint kepihak inosoft
sebesar Rp 5.700.000. selain itu sekolah harus menyediakan komputer
sebagai server.
Menurut Arfah, akibat hal tersebut setiap bulan
sekolah harus mmbayar jasa kepada inosoft sebesar Rp.6500/siswa. Arfah
mengatakan, info yang beredar dilapangan bahwa pihak inosoft dari
Rp.6500 tersebut, mereka memberikan kepada pihak Dinas Pendidikan
sebesar Rp.1500, dengan rincinnya sebagai berikut : jumlah yang
mengikuti program inosoft 44 sekolah dengan total siswa 29,413 X Rp.6500
/bulan=Rp.191.184.500 x 12 bln = Rp.2.294.214.000. Sementara Kepala
Dinas memperoleh komisi sebesar Rp. 1500 X 29.413 x 12 bulan =
Rp.529,434,000.
Pihak inosoft yang coba dikonfirmasi mengatakan,
pihaknya tidak mau banyak berbicara terkait hal tersebut. "Bapak siapa,
kenapa nanyak nanyak soal itu ke saya," tandasnya. Namun saat kembali
ditanya soal pengadaan tersebut, pihak inosof bungkam dan menutup
sambungan telpon. Wastiana Harahap, saat coba dihubungi melalui
sambungan telpon selulernya tidak dapat tersambung.
Iis Sholeh
Direktur Pusat Pendidikan Rakyat Aisyah (Pusdikra) mengaku sangat kecewa
dengan masih adanya praktek praktek korupsi tersebut. Menurut Iis,
praktek tersebut adalah cara cara kolonial yang ternyata masih
dijalankan sampai saat ini. "Hak siswa dan kewenangan sekolah dipangkas
dengan sikap otoriter pejabat di Dinas Pendidikan," tandasnya.
(rel)