Matatelinga.com, Gara-gara tidak diberi izin untuk melihat anak semata wayang sakit di kampung, Ambrosia Kusi alias Rosa ,29, nekat melarikan diri dari rumah majikannya. Wanita asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini kabur dengan menumpang becak bermotor (betor) dan dibawa ke Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Jalan Hindu, Rabu (27/7/2016) jam 17.00 wib.
"Anaknya sakit di kampung. Dia (Rosa) rindu mau jumpa anaknya. Karena gak diizinkan, makanya dia lari dari rumah majikan naik becak. Tukang becak menurunkan dia di depan Kantor LBH," kata Kepala Divisi Nonlitigasi LBH Medan, Ismail Lubis kepada wartawan, Kamis (28/7) sore.
Menurut Ismail, Rosa sempat bimbang mau masuk ke Kantor LBH atau tidak. Setelah disuruh masuk, lanjut Ismail, Rosa sempat takut dan nangis. Rosa merupakan TKW dari Kantor Penampungan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) lokal milik PT Cut Sari Asih. "Dia takut dikembalikan ke majikannya," lanjut Ismail.
Diungkapkan Ismail, perempuan berambut ikal itu baru tiga minggu berada di Medan. Dua minggu pertama, Rosa belum mendapat kerja yang membuatnya harus membersihkan Kantor PJTKI. Hingga tak lama, Rosa ditempatkan bekerja bersama majikan, namun dirinya tak tahu lokasi tempatnya bekerja. "Walaupun sempat bekerja sama majikan, dia gak tahu alamat rumah majikannya dimana," ungkapnya.
Tiga minggu bekerja, Rosa mendapat kabar bahwa anaknya sakit keras. Rosa kemudian meminta kepada majikannya agar diberikan izin untuk menjenguk sang anak. Karena pada waktu itu Rosa masih baru bekerja, majikan tak memberi izin untuk pulang kampung. "Anaknya berumur satu tahun sedang sakit keras. Keluarganya minta pulang dari kampung," ucap Ismail.
Sementara itu, Rosa mengaku bekerja dengan seorang majikan dari keturunan Tionghoa. Ia tak mengetahui lokasi persis rumah majikannya dimana. "Namanya Yuli (majikannya), alamat rumahnya saya gak tau. Saya disuruh nyapu dan ngepel juga," ujarnya sambil menangis. Di rumah majikannya itu, terkadang Rosa sering mendapat perlakuan kasar. Terutama ketika menjaga anak majikan. "Kalau salah jaga anaknya, saya dimarah. Lantai empat saya semua yang kerjain. Tidur jam 2 pagi, bangunnya jam 6," lirihnya.
(Mtc)