Kamis, 28 Mei 2026 WIB

Tidak Memiliki Biaya Untuk Operasi

Admin - Jumat, 10 Juli 2015 22:27 WIB
Tidak Memiliki Biaya Untuk Operasi
Ibnu
Matatelinga.com,  

Matatelinga.com,  Karena tidak memiliki biaya untuk berobat, Jumin ,12, penduduk Dusu VI Desa Pulau Rakyat Tua Kecamatan Pulau Rakyat Kabuaten Asahan yang merupakan anak ke 5 dari 6 bersaudara putra dari pasangan Budi Sutrisno ,48, dan Kamini ,42, ini tidak seperti bocah seusianya, pasalnya bocah ini sejak lahir menderita hernia atau turun burut atau penyakit kantung kemih membesar yang mengakibatkan bocah ini merasa nyeri dan kadang menangis karena menahan rasa sakit yang luar biasa sejak berusia delapan hari dan harus menahan sakit sepanjang hidupnya.

Kamini ibu kandung Jumin ketika ditemui Matatelinga, Jumat (10/7/2015) menyebutkan kalau penyakitnya kambuh kantung kemihnya membesar dan Jumin selalu menangis karena menahan sakit dan tidak bisa tertidur pulas.

“Kalau sedang kambuh biasanya dia menangis terus menahan sakit dan tidak bisa tidur nyenyak, sementara Jumin disarankan untuk beroperasi, namun karena suami saya hanya bekerja sebagai seorang supir mobil galasan yang gajinya tidak menentu yang harus menghidupi saya dan 4 orang anak yang masih menjadi tanggung jawab kami ya terpaksa kami hanya bisa melihat dan mencari obat alakadarnya” ujar Kamini sembari memandangi Jumin.

Jumin yang baru saja menyelesaikan Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Pulau Rakyat Tua kini sedang masuk disalah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pulau Rakyat dan sering merasa malu dan minder karena memiliki buah zakarnya yang besar dan mengingini agar dirinya dapat dioperasi agar penyakitnya ini dapat disembuhkan.

Masih menurut keterangan ibunda Jumin, bahwa saat Jumin berusia sekitatar 3  tahun pernah dibawa kerumah sakit untuk diperiksa dan disinilah dokter memvonis Jumin menderita Hernia dan salah satu cara untuk penyembuhannya adalah dengan cara operasi, namun dokter menyarankan agar Jumin jangan dulu dioperasi karena fisik Jumin belum kuat, kecuali setelah Jumin berusia 6 tahun baru bisa untuk dioperasi.

“Waktu Jumin kita bawa berobat ayahnya masih memiliki usaha jual beli kelapa sawit dan bisa dikatakan masih mapan, namun usaha suami saya mengalami pailit hingga kondisi ekonomi kami melemah, bahkan kami memiliki hutang di Bank yang tidak sedikit dan setiap bulannya harus dibayar sebesar Rp. 2 juta, bila tidak rumah yang kami tempati sekarang bakal disita pihak bank karena rumah ini sudah menjadi agunan ke bank” cerita Karmini.

Ketika ditanya berapa biaya untuk operasi Hernia Jumin, dengan tertunduk Karmini menyebutkan bahwa untuk biaya perobatan anaknya sebesar Rp. 7 juta.

“Biaya operasinya diperkirakan Rp. 7 jutaan dan kami tidak mampu karena kami tidak memiliki uang sebesar itu” kata kamini seraya berharap keluarganya bisa mendapat kartu Jankesmas atau Kartu Indonesia Sehat yang digulirkan Presiden untuk masyarakat miskin sepertinya.

Namun harapan itu tampaknya tidak akan tercapai, karena  penerima kartu Jankesmas maupun Kartu Indonesia Sehat tidak pernah didapatkannya karea disinyalir kartu ini hanya didapati oleh orang-orang tertentu  dan tidak sampai kepada orang miskin yang benar-benar membutuhkan seperti keluarga Tumini. Buktinya meski berharap namun keluarga ini tidak pernah didata apalagi diberi kartu yang diharapkan, karena untuk mengandalkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sekarang ini sudah tidak berlaku.

“Kami perah disarankan untuk masuk program BPJS agar penyakit Hernia Jumin bisa dioperasi dengan biaya ringan, tapi rasanya juga tidak mungkin, karena untuk mengikuti proram ini semua nama yang tercantum dalam Kartu Keluarga (KK) sebanyak 6 orang harus didaftar menjadi peserta BPJS da biaya iuran setiap bulannya harus dibayar, sementara BPJS hanya menanggung biaya operasi Hernia Jumin hanya sebesar 50% dari biaya perobatan, dengan kenyataan ini kami rasaya tidak sanggup, jangankan untuk menanggung separuh dana operasi, untuk membayar iuran bulanan terendah saja sebanyak 6 orang dikalikan Rp. 25 ribu menjadi Rp. 156 ribu perbulan jadi kami tidak sanggup, belum lagi menanggung hutang bank 2 juta perbulan” ujar Tumini dengan mata berkaca-kaca sembari menyebutkan gaji suaminya sebagai supir hanya sebesar Rp. 1.3 juta perbulan.

Masih dengan isak tangis, Kamini berharap adanya uluran tangan dari para dermawan ataupun pemerintah untuk membantu penyembuhan Hernia yang diderita anaknya itu sejak bayi, apalagi kini Jumin sudah menjelang remaja dan akan duduk di bangku SMP.

“Saat ini kami hanya bisa berharap ada uluran tangan dari para dermawan ataupun pemerintah untuk membantu penyembuhan putra kami ini, karena saat ini putra kami sudah menjelang remaja, kadang kami menangis melihat kenyataan ini, apalagi ketika mendengar Jumin menangis menahankan sakit yang dideritanya”



(Mt/Ibnu)

SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru