Dalam sambutannya, Wali Kota Wesly menegaskan peresmian, bukan sekadar meresmikan makam yang telah dibangun kembali melainkan wujud penghormatan terhadap sejarah dan pengabdian para pendahulu.
"Hari ini kita tidak sekadar meresmikan makam yang telah direnovasi, tetapi kita sedang memperkuat ikatan sejarah, mengenang nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan pengabdian yang diwariskan almarhum dr Djasamen Saragih," kata Wesly.
Atas nama Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar, Wesly mengucapkan selamat atas peresmian renovasi makam. Ia berharap pengabdian dr. Djasamen Saragih terus menginspirasi generasi muda, khususnya dalam memberikan layanan bagi masyarakat.
Baca Juga:
Salahsatu Cicit almarhum dr Djasamen Saragih, Patra Saragih Sumbayak mengatakan, renovasi makam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang meninggalkan warisan pengabdian bagi masyarakat. Ia berharap makam itu, dapat terus dirawat dan dijaga sebagai bagian dari warisan sejarah Simalungun.
Pada kesempatan itu, Ketua Umum Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (PACS) dr. Sarmedi Purba mengungkapkan, menjadi dokter di era 1930-an merupakan perjuangan yang tidak mudah. Saat itu, pendidikan kedokteran masih sangat terbatas dan hanya dapat diakses melalui sekolah yang diselenggarakan Pemerintah Hindia Belanda bagi kalangan pribumi.
Ia menceritakan, sekitar tahun 1943 dr. Djasamen Saragih pindah ke Pematang
siantar dan menjadi tokoh penting dalam perkembangan pelayanan kesehatan yang kini dikenang melalui nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Kota Pematang
siantar.(sip)