MATATELINGA, Medan : Pegiat literasi Sumatera Utara, Agus Marwan, memberikan tanggapannya berkaitan dengan pandangan dua penulis novel (novelis) wanita Labuhanbatu, Sri Wahyuni Nababan dan Anin, berkaitan dengan pandangan mereka terkait Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Menurut Agus, seperti disampaikannya kepada
matatelinga.com, Kamis (6/7/2023) sore), sangat baik apabila guru bisa menjadi model literasi. "Jikalau guru cinta membaca dan memiliki ketrampilan menulis, tentu akan mudah diikuti siswa", ucap Agus.
Karena katanya, siswa cenderung menganggap guru sebagai modelnya. Dia sangat setuju dengan pendapat dua perempuan penulis asal Labuhanbatu tersebut. Guru diharapkan memiliki kemampuan menulis, sehingga bisa melatihkan kepada para siswanya.
Menurut pandangan Agus Marwan, Labuhanbatu merupakan kabupaten paling awal, membangun Gerakan Literasi. Pada Tahun 2015, Kabupaten ini telah mencanangkan Gerakan Budaya Membaca, dilakukan Bupati Labuhanbatu pada saat itu, H Pangonal Harahap.
Dijelaskannya, Gerakan Literasi ini berjalan di sekolah-sekolah pada saat itu. Meskipun, gerakannya masih pada meingkatkan gemar membaca.
[br]
Agus, yang pernah memimpin USAID Prioritas - salah satu lembaga peningkatan kualitas tenaga kependidikan, program kerjasama Amerika Serikat - Indonesia itu menyebutkan, seiring konsep Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan, Gerakan Literasi Sekolah di Labuhanbatu pun mulai tumbuh.
Katanya, gerakan ini juga dibarengi dengan Gerakan Literasi di komunitas masyarakat, melalui TBM-TBM dan komunitas literasi lain.
Disisi lain menurut Agus Marwan, bencana COVID-19, berdampak langsung terhadap menurunnya Gerakan Literasi di Sekolah maupun di masyarakat. Walaupun dalam beberapa hal, Gerakan Literasi Digital sudah mulai tumbuh, dengan kegiatan literasi melalui zoom meeting dan webminar.
Agus Marwan yang juga putera Labuhanbatu mengatakan, saat ini gairah gerakan literasi sudah mulai tumbuh kembali di Kabupaten Labuhanbatu. Seiring dengan kebijakan Merdeka Belajar yang sekarang sedang digalakkan di sekolah-sekolah. Gerakan Literasi mulai disemaikan kembali. Dalam salah satu assesmen nasional yang diuji kepada siswa, salah satunya terkait kompetensi literasi.
[br]
Dalam wawancara khususnya ini, Agus Marwan menyampaikan, perlu upaya yang lebih sistematis agar program literasi di Labuhanbatu dapat berkembang lagi. "Perlu kebijakan pengembangan literasi, baik di sekolah maupun dimasyarakat. Dan kebijakan ini, harus dibuatkan dalam bentuk regulasi, semisal dalam bentuk Peraturan Bupati (Perbup)", tandasnya.
Selanjutnya, kata dia, perlu juga dibentuk Tim Pengembangan Literasi Daerah, melibatkan stakholder pendidikan, dan sebaiknya di SK kan Bupati.
Selanjutnya, tambah dia, tentu harus didukung anggaran dari APBD, selain juga tidak menutup dari sumber dana lain. Baru kemudian, merumuskan program-program yang lebih sistematis. Misal, membuat workshop, seminar, pelatihan-pelatihan untuk kepala sekolah, guru-guru, siswa, komunitas literasi.
Setiap sekolah, juga harus membuat Tim Gerakan Literasi Sekolah, dan merumuskan program-programnya secara sistematis.
Lebih lanjut dia menyampaikan pandangannya, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, juga harus mendukung komunitas literasi yang tumbuh di Labuhanbatu. Penyediaan akses buku-buku bermutu dan relevan, juga harus dilakukan pada setiap tahunnya.
Diakhir wawancaranya, Agus juga menyampaikan, berbagai ajang daerah harus dilakukan. Semisal pemilihan Duta Literasi, Festival Literasi, Jambore Literasi, dan beberapa kegiatan lain.
"Satu hal lain yang juga sangat penting, harus dimulai pengembangan literasi digital, baik di sekolah maupun di masyarakat", tuturnya. (yasmir)