MATATELINGA,Toba. Tim Indipenden Selasa, 25/5 akhirnya turun tangan ke desa Natumikka Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba. Turun langsung ke lokasi Natumingka untuk mengetahui duduk persoalan yang terjadi antara perusahaan PT. TPL dan masyarakat Natumingka.
Tim independen ini terdiri dari Ir.Hasudungan Butar-Butar, M.Si dan Ir. B.Rickson Simarmata, MSEE, IPM. Walaupun sudah di dampingi Camat Borbor dan Kepala Desa Natumingka Kastro Simanjuntak, Tim Independen sempat mendapat penolakan dari beberapa orang anggota masyarakat, sebagian keturunan Op. Punduraham Simanjuntak dan oragnisasi LSM.
Tim ini melakukan dialog kangsung kepada warga Natumingka, termasuk mencari kebenaran berita tentang pembongkaran paksa terhadap makam kerabat keturunan Op. Punduraham Simanjuntak dari lokasi HTI TPL.
Pengakuan perwakilan masyarakat diketahui bahwa pembongkaran makam dilakukan atas inisiatif keturunan Op. Punduraham Simanjuntak sendiri dan tidak diketahui pihak PT.TPL.
“Artinya tidak pernah ada pihak PT.TPL mencampuri urusan pembongkaran makam tersebut apalagi melakukan pemaksaan pembongkaran” terang Hasudungan.
“Perlu ditambahkan bahwa jarak terdekat antara batas desa dengan lokasi HTI TPL sejauh 600 m saja. Adapun awal mula bentrok tersebut karena masyarakat Desa Natumingka yakni keturunan Op. Punduraham Simanjuntak menghalangi karyawan TPL untuk mengerjakan penanaman Eucalyptus dilokasi HTI” terang Hasudungan pada Senin sore 31/5.
[br]Menurut Tim Independen, bentrok yang terjadi antara masyarakat Desa Natumingka dengan karyawan TPL dimulai pukul 06.30 wib berada di luar Natumingka dengan jarak sekitar 15 km dari batas Desa tepatnya di lokasi HTI TPL. Akibat bentrok tersebut, dua orang korban luka dari keturunan Op. Punduraham Simanjuntak yaitu Jusman Simanjuntak dan Agus Simanjuntak. Sementara korban luka dari pihak PT.TPL ada 5 orang, yakni : Sulaiman Simanjuntak, Prinawati, (Security) Teddy Panjaitan, Basrin Nababan dan Setia Simatupang dan Personil Polres Toba yakni Aipda Mahendra Keliat.
Menurutnya, masyarakat menghalangi karena mereka merasa bahwa lokasi HTI itu adalah tanah adat mereka, sementara karyawan TPL merasa bahwa lokasi itu adalah lokasi HTI TPL yang syah dan sudah mereka tanami Eucalyptus selama 5 periode tanam dan tidak pernah ada masalah.
Akibat kejadian tersebut, hubungan masyarakat desa Natumingka dan TPL kini renggang. Bahkan sesama masyarakat sendiri saling curiga yang tinggi. Hal ini terbukti dengan adanya pendirian pos pengawasan di beberapa ruas jalan.
Banyak pihak bertanya bahkan awak media sendiripun dilarang masuk ke Natumingka, padahal awak media selalu bersifat independen dan memberitakan dengan berimbang. Anggota LSM juga sudah mulai mempertontonkan dominasinya di Desa Natumingka, dan masyarakat selalu menganut rasa curiga terhadap setiap orang yang masuk.